Kegiatan

  • KhasanahAB mengirim sebuah pembaruan 2 bulan lalu

    Kedudukan Luhur Sayidah Fatimah Az-Zahra 1
    ===============================

    Ayyam Fatimiyah (hari-hari duka Sayidah Fatimah Az-Zahra as) adalah hari berkabung dan berduka cita yang diperingati untuk mengenang syahadah putri tercinta Rasulullah Saw ini.

    Hari kesyahidan Sayidah Fatimah as tidak diketahui secara pasti dan ada perbedaan riwayat mengenai hal ini. Ada dua hari istimewa yang dikenang untuk memperingati syahadah putri Rasulullah Saw ini yaitu tanggal 13 Jumadil Awal dan 3 Jumadil Akhir. Hari-hari itu disebut dengan hari-hari Fatimiyah.

    Di sini, kita akan mengupas tentang ayat-ayat al-Quran yang berhubungan dengan kedudukan Sayidah Fatimah az-Zahra as. Ia memiliki kedudukan yang luhur sehingga Allah Swt menurunkan banyak ayat al-Quran tentang istri Imam Ali as ini.

    Allah Swt menurunkan surat al-Kautsar untuk menunjukkan kedudukan luhur dan mulia Sayidah Fatimah as, pengorbanan tulusnya diabadikan dalam surat al-Insan, kesucian wanita ini dijelaskan dalam Ayat Tathir (ayat 33 surat al-Ahzab), puncak irfani dan spiritualitasnya digambarkan dalam Ayat Mubahalah (ayat 61 surat Ali Imran).

    Keberadaan Sayidah Fatimah disebut sebagai sebuah pelita bagi para pecinta Ahlul Bait dalam Ayat Misykat (ayat 35 surat an-Nur), ia diperkenalkan sebagai sebuah pohon yang suci dalam ayat 24 surat Ibrahim.

    Sayidah Fatimah dan Imam Ali as adalah samudera ilmu dan makrifat Ilahi, sementara anak-anak mereka adalah mutiara dalam samudera itu. Ayat Mawaddah (ayat 23 surat al-Syura) menjelaskan bahwa upah atas jerih payah Rasulullah Saw adalah mencintai dan menyayangi Ahlul Baitnya.
    ———–
    Kedudukan Sayidah Fatimah dalam Surat al-Kautsar

    Di antara putra-putri Sayidah Khadijah as dan Rasulullah Saw adalah Abdullah. Namun, Abdullah meninggal dunia di usia kanak-kanak. Pada suatu hari, salah satu pemimpin kaum musyrik Makkah, Ash bin Wa’il melihat Rasulullah ketika keluar dari Masjidil Haram dan berbicara singkat dengannya.

    Sekelompok pemimpin Quraisy yang menyaksikan pertemuan mereka, bertanya hal itu kepada Ash bin Wa’il. Mereka berkata, “Dengan siapa kamu berbicara tadi?” Dia menjawab, “Dengan dia yang (Abtar) terputus!”

    Allah kemudian menurunkan surat al-Kautsar untuk membela dan membesarkan hati Rasulullah. “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.”

    Para mufassir menafsirkan al-Kautsar sebagai kebaikan dan nikmat yang banyak yaitu banyaknya keturunan Rasulullah dan ini terwujud melalui anak-anak Sayidah Fatimah, di mana anak keturunannya tidak terhitung jumlah mereka dan ini akan berlanjut sampai hari kiamat.

    Mayoritas ulama Syiah menganggap sosok Sayidah Fatimah as sebagai al-Kautsar. Menurut takwil ayat ini, Allah memberikan keturunan yang banyak kepada Rasulullah melalui putrinya ini.

    Imam Jakfar Shadiq as berkata, “Barang siapa yang membaca surat al-Kautsar dalam shalat wajib dan sunnahnya, maka Allah akan mengeyangkannya dengan air telaga Kautsar pada hari kiamat.”

    Kedudukan Sayidah Fatimah dalam Surat al-Insan

    Pengorbanan tulus Sayidah Fatimah as dan keluarganya diabadikan oleh Allah dalam surat al-Insan.

    Imam Hasan dan Imam Husein as menderita sakit selama beberapa hari. Rasulullah dan beberapa sahabat pergi membesuk cucunya itu di rumah mereka. Di sana, Rasulullah berkata kepada Imam Ali, “Jika engkau bernazar untuk kesembuhan mereka, maka Allah akan mempercepat kesembuhannya.”

    Imam Ali as menjawab, “Wahai Rasulullah! Aku akan bernazar untuk kesembuhan mereka berdua yaitu melakukan puasa syukur selama tiga hari.”

    Beberapa hari kemudian, Imam Hasan dan Imam Husein telah sembuh dari sakitnya. Dengan demikian, Imam Ali dan Sayidah Fatimah bersama pelayannya Fidhah menunaikan nazar mereka dengan berpuasa selama tiga hari berturut-turut.

    Imam Ali as kemudian meminjam gandum dan Fiddhah membuat lima potong roti dan ketiganya berpuasa. Ketika tiba waktu berbuka, seorang peminta-minta mengetuk pintu rumah dan meminta makanan. Karena tidak ada makanan lain selain beberapa potong roti di rumah, mereka memberikan roti itu kepada pengemis itu dan hanya berbuka dengan air.

    Mereka berpuasa di hari kedua dengan perut kosong. Imam Ali kembali meminjam gandum untuk dibuatkan roti lalu berbuka dengannya. Tapi ketika tiba waktu berbuka, giliran seorang anak yatim yang mengetuk pintu rumah mereka dan meminta bantuan. Kali ini juga keluarga Imam Ali harus merelakan roti untuk berbuka puasa diberikan kepada anak yatim itu.

    Hari ketiga mereka berpuasa dalam kondisi perut kosong belum diisi apapun selama dua hari. Kejadian hari pertama dan kedua terulang kembali di hari ketiga. Ketika akan berbuka puasa, ada orang lain yang membutuhkan bantuan mengetuk pintu rumah mereka.

    Setelah mengetahui bahwa orang yang mengetuk pintu itu adalah seorang hamba sahaya yang tertawan oleh pemiliknya yang kaya raya, keluarga Imam Ali untuk ketiga kalinya harus merelakan roti untuk berbuka puasanya diberikan kepada budak itu.

    Di hari keempat, Rasulullah Saw mendatangi rumah Ali untuk mengetahui apa yang terjadi. Beliau melihat keluarga Ali dalam kondisi lemah. Setelah bertanya apa yang terjadi, beliau segera mengangkat tangannya dan berdoa, “Wahai Zat yang segera pertolongannya! Ya Allah, anak-anak Muhammad, Nabi-Mu terlihat lemah akibat lapar. Ya Allah, bantulah mereka…”

    Ketika itu, malaikat Jibril datang dan berkata, “Wahai Muhammad! Terimalah ucapan selamat dari Allah!” Nabi Muhammad Saw berkata, “Apa itu?” Malaikat Jibril kemudian membacakan surat al-Insan dan berkata, “Surat itu diturunkan untuk Ali dan keluarganya yang suci.”

    “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS. Al-Insan: 8-9)


    Kedudukan Sayidah Fatimah dalam Surat al-Qadr

    Menurut sabda Rasulullah Saw, Fatimah adalah pemimpin wanita semesta alam dan membutuhkan makrifat yang tinggi untuk memahami kedudukannya. Diriwayatkan dari para imam maksum bahwa ia dinamakan Fatimah karena para hamba tidak mampu memahami kedalaman makrifatnya.

    “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?”

    Imam Jakfar Shadiq berkata, “Lailah (malam) adalah Fatimah dan al-Qadr adalah Allah. Barang siapa yang mengenal Fatimah dengan sebenar-benarnya makrifat, maka dia telah menemukan malam Lailatul Qadr.”

    Jadi, orang yang memahami kedudukan luhur Sayidah Fatimah as dengan sebenar-benarnya makrifat, maka ia telah merasakan malam Lailatul Qadr. Sebagaimana hakikat keberadaan malam Lailatul Qadr berbalut misteri, maka hakikat Fatimah juga tersembunyi dan tidak semua orang bisa memahami kedudukannya. Kedudukan Fatimah dan Lailatul Qadr adalah dua mutiara yang tersembunyi.

    Lailatul Qadr adalah malam diturunkannya al-Quran, sementara Fatimah as adalah tempat diturunkannya al-Quran natiq (yang berbicara) yaitu para imam maksum.