Kegiatan

  • Agus mengirim sebuah pembaruan 2 minggu, 3 hari lalu

    Dulu,… Waktu kecil,.. pada pengajian pernah mendengar hadis bahwa kita dilarang bermusuhan lebih dari tiga hari…
    Ketika saya mengenal ahlul bait terutama yang berhubungan dengan sayidah Fatimah as tentang perampasan tanah fadak oleh khalifah pertama, hadis ini lumayan memukul…
    Sampai saat ini saya lebih percaya kepada sayidah Fatimah as karena beliau ma’sumah…
    Oleh karena itu barangkali teman2 punya referensi kedudukan hadis yg disebutkan diatas apakah shohih, dhoif, atau dari abu hurairoh, atau hadis palsu yg dibuat untuk menjaga kehormatan sahabat…

    • Ada Mas…
      Hadis dan riwayat mengenai peristiwa pemukulan pintu rumah Fathimah Azzahra as dan ribut-ribut masalah Imam Ali as dipaksa untuk membaiat khalifah pertama ada di Bukhari dan Muslim, begitu juga2 kitab2 hadis lainnya.
      Sekarang begini saja, Ahlu Sunah menganggap semua hadis yang ada di Bukhari dan Muslim itu sohih dan terpercaya, nah berarti riwayat pemukulan pintu rumah Fathimah as yang mengenai perut Fathimah as ini sohih karena ada di Bukhari dan Muslim.
      Bisa lihat kajian video Ustad Pespah di link ini, lumayan videonya cukup panjang 1 jam an: https://www.youtube.com/watch?v=hIEoP_WC8QA

      • Maksud saya kalimat ” TIDAK BOLEH BERMUSUHAN LEBIH DARI TIGA HARI ” apakah itu hadis apa ungkapan para sahabat aja, kalau itu hadis artinya bertolak belakang dengan kejadian sayidah Fatimah as waktu beliau tidak mau bicara lagi sama abu bakar sampai beliau meninggal setelah perampasan tanah padak, waktu meninggal juga beliau tidak mau dihadiri sama abu bakar

    • Iya, hadis tidk boleh bermusuhan lebh dari 3 hari antara saudara Muslim itu dari Rasulullah saw sendiri, sumbernya Al Kafi jil 2 hal 345, Wasailus Syiah jil 8 hal. 585.

      • Menurut sumber yang pernah saya baca, hadis2 dalam kitab Al Kafi tidak semua shohih,… Mudah2an mas bisa mengungkap kedudukan hadis ini…

        Kalau lawan diskusi saya melontarkan hadis ini, apakah bisa dilawan dengan hadis bahwa ” kemarahan Fatimah adalah kemarahan Rosulallah kemarahan Rasulallah adalah kemarahan Allah, gimana menurut mas…

    • Iya saya tau, banyak yang mengkritik Fathimah dengan memojokkan beliau yang tidak mau berdamai dengan Abu Bakar dan Umar sampai lebih dari 3 hari.

      Eh, tapi jangan salah, kasus yang dialami Fathimah Azzahra as bukan kasus dua orang muslim bermusuhan, tapi ini kasusnya Fathimah sebagai putri nabi dizolimi karena 2 hal : pertama, suaminya dipaksa membaiat Abu Bakar dan kedua, tanah Fadak yang merupakan warisan nabi untuknya tidak diberikan oleh Abu Bakar.

      Dalam kondisi terzalimi, tidak ada satu orangpun yang waras dan tidak ada agama yang membenarkan ketika Anda atau siapapun dizalimi maka Anda harus berdamai tanpa Anda mendapatkan hak Anda. Itulah yang dilakukan Fathimah. Memangnya siapa Abu Bakar dan Umar yang Fathimah harus berdamai kepada mereka padahal mereka telah menzalimi beliau, seharusnya mereka yang meminta maaf kepada putri sang nabi dan memberikan hak putri nabi kepada beliau, baru kalau Fathimah masih tidak memaafkan Fathimah mungkin bisa disalahkan…

      Jadi kasusnya Abu Bakar dan Umar yang harusnya datang duluan meminta maaf dan memberikan hak, bukan Fathimah yang disalahkan kenapa tidak mau baikan dengan dua orang itu.

      Anggap aja ada anak perempuan dijahatin 2 orang laki2 tua-tua, masa anak perempuan itu harus dipojokkan? Apa lagi putri nabi tercinta….

      • Usul mas, kalau bisa di app ini ada ikon emotion, biar saya kasih tanda jempol…
        Terima kasih penjelasannya

        • Di jakarta aja kalau naik krl ada ibu hamil orang yg duduk harus brdiri ngasih tempat. Ini anak nabi janinnya keguguran karena dobrakan pintu Umar sakit batin dan fisik sampai meninggal apa masih disurug meminta maaf ke abu bakar dan umar dan berdamai apa abu bakar dan umarnya yang harusnya tahu diri apa yg hrs merka lakukan stlh sengaja atau tidak menyakiti fatimah?

          Orang2 yang mengkritik fatimag karena kasus ini benar benar menindas hak perempuan sepertinya.

    • Jadi hadis tentang “orang yang bermusuhan dengan sesama saudaranya selama 3 hari keluar dari Islam” tidak perlu dipertanyakan dan kita tidak bisa mengkategorikan Fathimah as ke dalam apa yang dimaksud hadis itu.

      Karena yang dilakukan Fathimah adalah sikap seorang perempuan yang ditindas haknya lalu memilih untuk diam dan menjauhi orang yang menindas tersebut karena tidak mungkin dilawan dan diperangi, justru karena sesama muslim itu. Anda Abu Bakar dan Umar bukan Muslim dan bukan orang yang menganggap dirinya khalifah Islam, Fathimah as dan Imam Ali as pun tidak akan memilih jalan “diam” dan “menjauhi” pasti yang dipilih adalah memerangi untuk merebut hak.

      Di Islam sendiri diperintahkan kalau kita dizalimi, kita tidak boleh diam. Nah ini yang harusnya membuat umat Islam bertanya2, kenapa Fathimah “diam” karena dizalimi? Jawabnya karena tidak mungkin memerangi karena yang zalim itu mengaku Muslim dan Khalifah.

      Saat Fathimah as sakit menjelang wafat, beliau berkata kepada Imam Ali as “Hai Ali, kenapa kamu tidak bangkit dan merebut hak kekhalifahan-mu dari Abu Bakar”. Saat itu terdengar suara azan. Imam Ali menjawab, “Kamu dengar suara adzan itu? Kalau aku bangkit dan merebut hakku, kamu tidak akan mendengar suara adzan itu lagi.”

      Artinya adalah, kalau yang dilakukan Imam Ali as dan Fathimah as bukan yang mereka lakukan saat itu (maksudnya melawan dan memerangi), Islam akan binasa, umat Islam bakal berantakan dan mungkin kita sekarang gak bakalan dengar apa itu Islam karena punah.

      Mungkin itu setahu saya yang bisa disampaikan.

      • *andai

        • Teima kasih atas penjelasannya..

          Satu lagi mas, waktu saya mempelajari sejarah ahlul bait, emosi saya suka meledak2, karena ulah dua sahabat ini lah islam saya jadi seperti ini, kadang kata2 kasar dan kotor keluar pada 2 orang itu…

          Pertanyaanya, sebatas apa sih saya mengumbar kebencian sehingga tidak menabrak rambu2 etika dalam islam??

          • Tidak perlu keluar kata2 kotor dan kasar, apa lagi sampai pada tindakan.
            Suri tauladan kita kan para imam imam maksum, Imam Ali as dan Fathimah Azzahra as aja tidak pernah mengumpat terhadap mreka apa lagi melakukan kekerasan, begitu juga kit harus meniru mereka.

            Kalau toh ada orang Syiah yang sampai kasar berkata seperti itu terhadap sahabat, pasti mereka orang yang awam sekali dan masih terbawa emosi. Kalau mereka terpelajar mereka pasti tidak keluar kata2 kasar.

            Kecuali dalam membaca doa misal ziarah Asyura, di situ memang ada tuntunannya mendoakan agar para musuh Ahlul Bait terkena laknat Allah, khususnya Yazid yang membunuh Imam Husain as, itu pun karena mereka benar2 keterlaluan sampai membunuh imam akhirnya di doa itu ada anjuran melaknat, itu pun melaknatnya sopan sekali, dalam bentuk doa: “Allahummal’an… ” Ya allah laknatlah.. bukan kata-kata umpatan seumunya seperti “bangsat, bajingan, laknat”, berbeda jauh.. laknat di doa-doa itu permohonan kita kepada Allah untuk mengutuk musuh Ahlul Bait.

            Adapun kita secara langsung bagaimana bersikap terhadap musuh Ahlul Bait, harus ikut panduan para Imam Ahlul Bait, selama Imam Mahdi nggak ada nggak ada, sebisa mungkin yang kita lakukan adalah mengamalkan apa yang mereka ajarkan, meniru apa yang mereka lakukan.

            Yang jelas sejauh ini tidak ada di sejarah para Imam mengucapkan kata2 kasar dan keji meski kepada musuh2 mereka. Bahkan terkenal ketika para imam dijahatin mereka justru membalas dengan kebaikan.

          • Batasannya sih kalau kita berdoa kita bebas mau berdoa seperti apa aja toh Allah yang akan mengabulkan atau tidak doa kita itu. Misal kita benci kepada Abu Bakar Umar, kita berdoa, Ya Allah betapa kejam mereka, jika mereka memang demikian kejam Engkau maha adil berilah mereka balasan apa yang mereka lakukan…” Sebaliknya kita mendoakan para imam Ahlul Bait kita mengatakan, “Ya Allah betapa mazlum mereka, bersaksilah bahwa kami pecinta mereka.” Terus kita bertawasul ke para Imam agar diakui sebagai pengikut mereka, mengharap syafaat mereka.. itu untuk kita kepada Tuhan.

            Adapun untuk kita kepada sesama saudara khususnya saudara2 Ahlu Sunah, kita sendiri masalah ini sensitif dan Syiah sering dipojokkan karena dituduh suka mencaci sahabat, maka sama sekali tidak ada alasan dibolehkannya kita mencaci sahabat, demi nama baik pengikut Ahlul Bait.