Bagaimana para Imam Ma’shum memperingati tragedi Karbala

Apakah di zaman Ma’shumin diadakan acara-acara peringatan tragedi Asyura di hari-hari bulan Muharram? Seperti apa mereka melaksanakannya?

Para Imam Ma’shum sering menangisi dan meratapi kepergian orang-orang yang mereka cintai. Sebagaimana Fathimah Azzahra as di malam hari sering menangisi kepergian ayahnya, Rasulullah saw, sampai beliau dibuatkan tempat khusus yang disebut rumah duka (Baitul Ahzan). Ia menggandeng tangan anak-anaknya, Hasan as dan Husain as, untuk dibawa ke rumah itu lalu meratapi kakeknya. Para Imam Ma’hsum as juga sering meratapi Imam Husain as dan menangisi kepergiannya.

Namun seperti apa dan bagaimana, perlu kita lakukan kajian yang cukup. Kali ini akan kami jelaskan secara global:

Berkabungnya Imam Sajjad as

Berdasarkan riwayat-riwayat yang ada, Imam Sajjad as menangisi dan meratapi kepergian ayahnya sepanjang hidup. Sampai-sampai saat beliau dibawakan makanan air mata mengalir dara mata beliau. Pada suatu hari budak Imam Sajjad as berkata, “Wahai putra Rasulullah saw, kapan kesedihan Anda usai?” Imam menjawab, “Ya’qub as sang nabi yang memiliki 12 anak dan kehilangan nabi Yusuf as terus menangisinya hingga buta; sedang aku kehilangan ayahku, paman-pamankku dan tujuh belas keluargaku, bagaimana kesedihanku bisa berakhir?”[1]

Dalam Al-Majalis As-Saniyyah disebutkan bahwa Imam Shadiq as menceritakan kakeknya Imam Sajjad as dan berkata, “Ia menangisi yahnya selama empat puluh tahun. Di siang hari berpuasa dan menghabiskan malam untuk beribadah. Di saat sahur budaknya membawakan makanan dan berkata, ‘Tuanku, makanlah.’ Beliau berkata, ‘Putra Rasulullah saw syahid kelaparan. Putra Rasulullah saw syahid kehausan.’ Beliau mengulang-ulang kata itu sampai air matanya membahasi makanannya. Keadaan itu terus berlangsung hingga akhir hayatnya.”[2]

Berkabungnya Imam Baqir as

Dalam kitab Nahdhatul Husain as disebutkan, “Ketika bulan Muharram tiba, kesedihan Ahlul Bait Nabi nampak dan mereka memanggil para penyair untuk membacakan puisi-puisi tentang kakek mereka, Imam Husain as.[3] Begitu pula dalam Kamil Al-Ziyarat disebutkan bahwa Imam Baqir as di hari Asyura memerintahkan pengikutnya untuk berkabung memperingati Imam Husain as di rumahnya…[4]

Berkabungnya Imam Shadiq as

Mengenai berkabungnya Imam Shadiq as disebutkan beberapa riwayat seperti diundangnya para penyair untuk membacakan puisi mengenang Imam Husain as dan dari balik tirai keluarga Imam mendengarkan sambil menangis.[5]

Berkabungnya Imam Kadhim as

Imam Ridha as berkata tentang Imam Kadhim as, “Saat bulan Muharram tiba, ayahku tidak pernah terlihat tersenyum. Seperti itu keadaannya di sepuluh hari pertama bulan Muharram. Hingga hari kesepuluh tiba, yaitu hari musibah, tangisan dan kesedihannya. Lalu ia berkata, ‘Asyura adalah hari kakekku mati syahid.’.”[6]

Berkabungnya Imam Ridha as

Da’bal Khuza’i berkata, “Di hari-hari sepuluh hari pertama bulan Muharram aku mendatangi Imam Ridha as di daerah Marv. Aku melihatnya dikelilingi oleh para sahabatnya dan beliau dalam keadaan sedih. Saat Imam melihatku, ia berkata, ‘Selamat datang hai Da’bal. Selamat datang orang yang menolong kami dengan tangan dan lisannya.’ Lalu beliau memintaku duduk di sisinya dan berkata, ‘Hai Da’bal, kamu mau membacakan syair? Karena hari-hari ini adalah hari-hari kesedihan kami Ahlul Bait dan hari kegembiraan musuh-musuh kami, khususnya Bani Umayah.’ Kemudian beliau berdiri dan memasang tirai antara kami dengan keluarganya. Setelah itu beliau berkata kepadaku, ‘Berdirilah hai Da’bal. Engkau adalah penyair kami selama engkau hidup.’.” Lalu Da’bal pun bangkit dan membacakan syair-syairnya.[7]

Berkabungnya Imam-Imam lainnya

Di masa-masa setelah itu, peringatan tragedi Karbala mengalami pasang surut. Misalnya di zaman Imam Jawad as, selama ada kesempatan para pengikut Ahlul Bait as memperingati tragedi Karbala, hingga pada saatnya zaman khalifah Mu’tashim tiba. Setelah itu orang-orang Syiah berada dalam tekanan dan jarang memperingati syiar-syiar Husaini as.[8]

[1] Tarikh An-Niyahah ‘Alal Imam Al-Syahid Al-Husain bin Ali as, Sayid Shaleh Syahrestani; Manaqib Ibn Syahr Asyub, jil. 4, hal. 166.

[2] Al-Majalis As-Saniyyah, Sayid Muhsin Amin, jil. 1, hal. 166.

[3] Kamil Al-Ziyarat, Ibn Qulawaih Qumi, hal. 111 – 114.

[4] Silahkan rujuk Tarikh An-Niyahah ‘Alal Imam Al-Syahid Al-Husain bin Ali as, hal. 566; Al-Majalis Al-Saniyyah, jil. 5, hal. 123.

[5] Tarikh Sayyidus Syuhada, Abbas Shafai Haeri, hal. 566; Amali Syaikh Shaduq, jil. 6, hal. 205.

[6] Tarikh An-Nahiyah, hal. 132; Amali Syaikh Shaduq, jil. 2, hal. 111.

[7] Biharul Anwar, jil. 40, hal. 257; Ibid, hal. 157.

[8] Ibid, hal. 136, 137.