Imam Baqir as dan seseorang yang mengaku zuhud

Suatu hari di musim panas dengan terik matahari yang menyengat, seseorang bernama Muhammad bin Munkadir, yang mengira dirinya adalah ahli dzikir dan ibadah yang zuhud, berjalan ke pinggiran Madinah.

Muhammad bin Munkadir melihat seseorang berpeluh keringat sedang bekerja di ladang. Di hatinya ia berkata, “Siapa orang ini yang bekerja keras di tengah hari di bawah terik matahari yang begitu menyengat? Hendaknya aku mengingatkannya untuk tidak terlalu mengejar dunia seperti ini…”

Ia mendekat, dan ternyata ia mengenalinya; orang berkeringat dan sibuk di ladang itu adalah Muhammad bin Ali bin Husain (Imam Baqir) as.

Ia ucapkan salam dan menyapa Imam Baqir as dan berkata, “Tidak pantas Anda mengejar dunia seperti ini, apa lagi di saat seperti ini. Tidakkah Anda takut jika Anda mati dalam keadaan seperti ini maka di mata Tuhan Anda mati dalam keadaan mengejar dunia yang hina ini?”

Imam Baqir as dengan nafas yang kelelahan berdiri dan berhenti sejenak. Kemudian sang imam menjawab, “Jika aku mati dalam keadaan ini maka aku mati dalam mentaati Allah swt dan mengerjakan tugasku. Aku hidup dan kehidupan menuntut hal ini, aku bekerja agar aku tidak mengulurkan tangan kepada siapapun untuk memenuhi kebutuhanku. Engkau mengira ibadah hanya terbatas pada dzikir, shalat dan doa. Yang perlu kutakuti adalah mati dalam keadaan bermaksiat kepada Allah swt.”

(Bihar Al Anwar jil. 11, Haalaat Imam baqir as, hal. 82)