Bukankah Imam Husain as sudah tahu ia bakal gugur di Karbala?

Tanya: Ketika sedang bergerak dari kota Makkah menuju Kufah, apakah Sayyidus Syuhada imam Husain As telah mengerti bahwa ia akan mati terbunuh di karbala? Dengan kata lain, dengan perjalanannya menuju Iraq, apakah imam Husain As memang sengaja ingin menjemput kesyahidan? Ataukah untuk membentuk pemerintaan adil dan Islami?

Jawab: Sayyidus Syuhada imam Husain As—menurut orang-orang Syiah—adalah seorang pemimpin yang wajib ditaati. Ia adalah imam ketiga Syiah Imamiyah dan termasuk dari para wasi nabi yang memiliki hak untuk dipatuhi. Dan ilmu para imam mengenai segala sesuatu dan setiap kejadian, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh dalil-dalil Aqliyah atau Naqliyah ada dua macam dan didapatkan melalui dua jalan yang akan dijelaskan di bawah ini.

Imam As dengan izin Tuhan, dalam situasi dan kondisi apapun memiliki pengetahuan yang pasti akan segala kejadian dan peristiwa; baik yang dapat dijangkau dengan panca indra maupun yang tidak, seperti kejadian-kejadian langit dan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi atau yang akan terjadi. Dalil pendapat ini adalah hadis dan riwayat-riwayat yang tercantum dalam kitab-kitab hadis Syiah seperti: Al Kafi, Bashair, kitab-kitab Syaikh Shaduq, Biharul Anwar, dan lain sebagainya. Menurut hadis dan riwayat-riwayat ini, para imam As memiliki banyak pengetahuan yang didapat dari pemberian dan ilham Ilahi; bukan dari usaha mereka sendiri dan tidak didapatkan dengan sendirinya. Dan apa saja yang ingin mereka ketahui, dengan izin Tuhan, mereka dapat mengetahuinya dengan jelas dan pasti.

Memang dalam ayat-ayat Al-Qur’an kita sering membaca bahwasannya ilmu ghaib adalah ilmu yang hanya dimiliki oleh Tuhan dan tidak dimiliki oleh selain-Nya. Tapi ada beberapa ayat yang menjelaskan kandungan ayat-ayat lainnya. Seperti ayat yang berbunyi:

“Maha mengetahui akan hal yang ghaib. Dan Ia tidak memberitahukan hal yang ghaib kepada selain-Nya, melainkan kepada orang-orang yang diridhai-Nya dari para rasul…”[1]

Ayat ini menjelasan kepada kita bahwa memang benar hanya Tuhan yang memiliki ilmu ghaib secara mutlak dan selain-Nya tidak memiliki ilmu seperti ini. Tapi mungkin saja para utusan Tuhan dapat memilikinya dengan cara diberitahukan oleh Tuhan. Mungkin saja orang-orang saleh yang lain juga dapat mengetahuinya dengan cara diberitahukan oleh para utusan Tuhan. Sebagaimana yang disebutkan dalam berbagai riwayat bahwa nabi dan begitu pula setiap imam selalu menurunkan ilmu ghaib keimaman-nya kepada orang yang akan menjadi imam setelahnya di saat ajalnya hampir tiba.

Dengan menggunakan akal murni kita dapat menetapkan bahwa para imam suci memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan merupakan manusia ter-sempurna di zamannya masing-masing. Mereka adalah manifestasi seluruh asma dan sifat Tuhan yang mampu memahami segala apa yang ada di alam semesta dan meengetahui semua peristiwa yang terjadi. Setiap kali mereka melihat sesuatu, secepat kilat mereka dapat memahami seluruh hakikat dan kenyataannya. (Kami tidak ingin menjelaskan lebih jauh hal ini karena merupakan pembahasan yang sangat susah dan kurang tepat jika diterangkan dalam tulisan ini. Oleh karenanya, biarlah permasalahan ini dibahas di tempatnya yang sesuai).

Yang perlu ditekankan dalam pembahasan ini adalah, ilmu ghaib yang merupakan pemberian Tuhan dan dimiliki oleh sebagian hamba-hamba-Nya, sebagaimana yang telah ditetapkan dengan dalil-dalil Aqli dan Naqli, merupakan ilmu yang tidak mungkin salah dan berlainan dengan kenyataan sebenarnya. Dengan kata lain, ilmu-ilmu seperti ini adalah pengetahuan terhadap hal-hal yang tercatat dalam Lauhul Mahfudz dan yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan yang maha kuasa.

Dengan demikian, tidak ada larangan dan perintah bagi hal yang sudah pasti akan terjadi. Begitu juga kehendak manusia, tidak akan berpengaruh baginya. Karena larangan dan perintah hanya berlaku dalam hal-hal yang mungkin terjadi dan ketika dijalankan atau tidaknya perintah dan larangan tersebut bagi pelaku adalah hal yang dapat dipilih salah satunya. Tapi untuk hal-hal yang sudah pasti terjadi dan telah ditakdirkan untuk terjadi, tidak mungkin manusia diperintahkan untuk melakukan sesuatu supaya hal-hal tersebut terjadi. Misalnya, benar jika Tuhan memerintahkan manusia untuk melakukan suatu pekerjaan atau meninggalkannya karena manusia tersebut dapat melakukannya dan juga dapat meninggalkannya. Dan sebaliknya, tidak mungkin Tuhan memerintahkan manusia untuk melakukan suatu perbuatan atau meninggalkannya yang mana perbuatan tersebut telah ditakdirkan oleh Tuhan sendiri untuk terjadi serta tidak mungkin untuk tak terjadi. Perintah dan larangan seperti ini tidak benar karena tidak ada gunanya dan sia-sia.

Begitu pula seorang manusia yang memiliki niat untuk melakukan suatu pekerjaan. Ia dapat memiliki niat untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baginya mungkin bisa dilakukan atau tidak dilakukan dan menjadikan dilakukan-nya pekerjaan tersebut sebagai tujuan di balik segala daya dan upayanya. Tetapi hal-hal yang sudah pasti akan terjadi dan tidak mungkin untuk tak terjadi, ia tidak mungkin memiliki niat untuk mewujudkan hal-hal yang sudah pasti akan terwujud tersebut. Ia tidak mungkin bersusah payah untuk mewujudkan hal-hal tersebut. Karena berniat atau tidak berniat, berupaya atau tidak berupaya, hal tersebut pasti akan terjadi.

Dengan keterangan ini dapat menjadi jelas bahwa:

Pertama, ilmu yang telah diberikan kepada imam As ini tidak memiliki pengaruh terhadap amal dan usahanya serta tidak berkaitan dengan taklif dan tugas-tugasnya. Pada dasarnya setiap hal yang jika sudah merupakan hal yang pasti, maka tidak berkaitan lagi dengan perintah dan larangan serta kehendak manusia.

Ya, setiap hal yang sudah ditakdirkan harus direlakan. Sebagaimana imam Husain As di akhir-akhir helaan nafasnya saat terjatuh di tanah yang bercampur darah berkata: “Aku rela dengan takdir-Mu. Tak ada yang layak disembah selain-Mu.”[2]

Kedua, pasti-nya perbuatan manusia dari segi keterkaitannya dengan Qadha Ilahi tidak bertentangan dengan ikhtiariyah[3] manusia dalam melakukannya. Karena Qadha Ilahi berkaitan dengan segala perbuatan dengan segala macam bentuknya; tidak dengan perbuatan itu sendiri secara mutlak. Contohnya, anggap saja Tuhan ingin memerintahkan seorang manusia untuk melakukan suatu perbuatan yang baginya dapat dilakukan dan tidak dilakukan; karena semua hal berada di kekuasaan Tuhan, maka dilakukan atau tidak dilakukannya perintah tersebut telah diketahui-Nya. Ia telah mengetahui apa yang akan terjadi kelak dan pengetahuannya tak mungkin salah. Meskipun demikian, bagi manusia yang melakukan suatu perbuatan—yang telah diketahui oleh Tuhan tentang apa yang akan terjadi kelak—semuanya berjalan biasa-biasa saja dan ia melakukannya dengan penuh kehendak sendiri tanpa adanya rasa terpaksa.

Ketiga, kita tidak boleh melihat gerak-gerik imam Husain As secara dhahir saja dan kita tidak boleh menjadikannya sebagai alasan bahwa beliau tidak memiliki ilmu ghaib alias bodoh akan kejadian yang akan menimpa dirinya yang mana akan menimbulka berbagai pertanyaan seperti: “jika imam Husain As memiliki ilmu ghaib, lalu mengapa ia mengirim Muslim sebagai wakilnya ke Kufah? Mengapa ia menulis surat kepada penduduk Kufah melalui Shaidawi? Mengapa ia sendiri pergi dari Makkah menuju Kufah? Mengapa ia melemparkan dirinya sendiri kedalam kebinasaan padahal Allah Swt telah berfirman: “…dan janganlah kalian lempar diri kalian kedalam kebinAsaan…”? Mengapa? Mengapa?”

Jawaban semua pertanyaan ini akan menjadi jelas dengan sedikit keterangan yang telah saya berikan dan saya tidak perlu mengulanginya lagi.

Rasulullah Saw dan begitu juga imam As adalah manusia sebagaimana manusia biasa yang lain. Segala perbuatan yang mereka lakukan telah mereka lakukan atas dasar kehendak dan pengetahuan biasa sebagaimana orang-orang lain melakukan pekerjaan mereka. Imam As juga seperti orang lain; ia menentukan bahaya dan keuntungan dengan tolak ukut pengetahuan biasa dan setiap perbuatan yang menurutnya layak untuk dilakukan, ia pun melakukannya dan dengan segala upaya dan usaha ia menjalankan tugasnya. Jika situasi dan kondisi memang mengizinkan, ia dapat mencapai tujuanya; dan jika tidak, ia tidak akan berhasil menggapai apa yang diinginkannya. (Adapun Tuhan terkadang mengilhamkan berbagai ilmu ghaib kepadanya, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, ilmu dan pengetahuan tersebut tidak berpengaruh dengan amal perbuatan Ikhtiari[4] yang ia lakukan).

Imam As juga seperti orang-orang yang lain; ia adalah hamba Tuhan dan memiliki tugas serta kewajiban tertentu yang harus dijalankan. Dalam kedudukannya sebagai seorang imam dan pemimpin umat, ia berkewajiban untuk menghakimi dan menghukumi segalanya dengan tolak ukur yang dapat dipahami oleh masyarakat awam dan sampai kapan pun ia ditugaskan untuk meghidupkan kebenaran dan ajaran-ajaran Tuhan serta menjaganya.

Dengan memperhatikan kondisi di waktu itu, kita dapat sedikit memahami mengapa imam As harus pergi ke sana.

Garis perjalanan sejarah tergelap dan tersuram yang dilewati oleh keluarga suci kenabian adalah masa dua puluh tahun pemerintahan Mu’awiyah.

Setelah bersusah-payah Mu’awiyah merebut kekhilafahan dengan segala macam tipu muslihatnya, akhirnya ia berhasil meduduki kursi kekhilafahan. Dalam kepemimpinannya, ia selalu berusaha untuk memperkuat kekuasaannya dan menindas keturunan Rasulullah Saw. Tak hanya ia ingin menindas keturunan Rasulullah Saw saja; ia juga berusaha untuk menghapus nama mereka dari lidah-lidah masyarakat. Ia berusaha sekuat tenaga untuk membuat masyarakat lupa akan mereka.

Ia memanfaatkan beberapa sahabat yang dipercaya masyarakat untuk membuat hadis-hadis palsu yang sekiranya akan menguntungkannya dan bahkan merugikan Ahlul Bait As. Dan bagaikan sebuah sunah agama, ia mewajibkan setiap orang yang berpidato di atas mimbar-mimbar tanah Islam untuk selalu mencela dan melaknat imam Ali As.

Ia selalu memerintahkan semua anak buah dan kaki tangannya seperti: Ziyad bin Abih, Samrah bin Jundab, Busr bin Urtah, dan orang-orang yang lain untuk menghabisi siapapun yang memiliki hubungan kekerabatan dengan Ahlul Bait As. Ia melakukan segala kekejiannya dengan segala macam cara mulai dari ancaman, siksaan sampai pembunuhan.

Dalam situasi seperti ini, wajar jika masyarakat enggan untuk menyebut nama imam Ali As dan keluarganya. Dan dengan demikian, siapapun yang memiliki hubungan dengan Ahlul Bait As, secara tiba-tiba memotong hubungannya karena takut nyawanya terancam atau harta bendanya dirampas.

Sejarah telah mencatat bahwa masa kepemimpinan imam Husain As sebagai seorang imam adalah sepuluh tahun. Dan selama ia menjadi seorang imam, kecuali beberapa tahun sebelum ajalnya tiba, ia hidup sezaman dengan Mu’awiyah. Selama masa kepemimpinannya sebagai seorang imam yang bertugas untuk menjelaskan hukum dan ajaran-ajaran Islam, tak satupun hadis yang telah diriwayatkan darinya (maksudnya hadis-hadis yang secara langsung didengar oleh masyarakat darinya yang dapat menunjukkan bahwa masyarakat pernah berlalu lalang ke rumahnya untuk menanyakan hukum-hukum Islam. Karena beberapa hadis yang telah diriwayatkan dari beliau adalah hadis yang ditukil oleh imam-imam lain setelahnya; bukan hadis yang diriwayatkan oleh masyarakat biasa secara langsung dari imam Husain As sendiri). Dengan demikian kita dapat memahami bahwa pada waktu itu pintu rumah Ahlul Bait telah tertutup dan tidak ada lalu lalang orang yang mendatangi rumah mereka.

Tekanan dan kondisi kurang mendukung yang telah menyelimuti lingkungan Islam di masa pemerintahan imam Hasan As sebagai imam tidak mengizinkan beliau untuk melanjutkan peperangan melawan Muawiyah. Karena:

Pertama, Muawiyah telah meminta baiat darinya dan dengan adanya baiat, tak seorangpun yang menyertainya.

Kedua, Muawiyah telah menyebut-nyebut dirinya sebagai seorang sahabat terdekat Nabi Muhammad Saw dan salah satu penulis wahyu serta orang yang dipercaya oleh tiga khulafau Arrasyidin semasa mereka hidup. Ia menjadikan sebutan Khal Al-Mukminin sebagai lakab suci bagi dirinya.

Ketiga, dengan tipu dayanya, ia mampu memerintahkan kaki tangannya untuk membunuh imam Hasan As kemudian ia pura-pura bangkit mencari pembunuh dan berlaga seperti orang yang ingin membalas dendam atas terbunuhnya imam Hasan As lalu berpura-pura mengucapkan rasa bela sungkawa kepada keluarganya!

Muawiyah telah berbuat sesuatu yang oleh karenanya imam Hasan sampai-sampai tidak dapat merasakan ketenangan sedikitpun meski di dalam rumah sendiri. Dan ketika ia ingin meminta baiat dari masyarakat untuk anaknya, Yazid, ia membunuh imam Hasan As melalui racun yang diberikan oleh istri imam Hasan As sendiri kepadanya.

Hanya imam Husain As-lah yang setelah kematian Muawiyah bangkit untuk menentang Yazid. Ia mengorbankan diri sendiri, para sahabat, dan keluarga sampai anak-anaknya di jalan ini. Ia sendiri juga tidak mampu melakukan hal ini di masa kehidupan Muawiyah karena akibat tipu daya yang dilakukan Muawiyah, memang pada waktu itu sepertinya kebenaran berada di pihak Muawiyah dan sekutunya.

Inilah penjelasan secara singkat mengenai situasi dan kondisi dunia Islam yang telah diwujudkan oleh Muawiyah. Ia telah menutup rapat pintu rumah Nabi Muhammad Saw. Dan ia juga telah melumpuhkan Ahlul Bait Nabi As sehingga mereka tak kuasa untuk berbuat apa-apa.

Aksi terburuk yang telah ia lakukan terhadap Islam dan kaum Muslimin adalah merubah kekhilafahan Islami menjadi sebuah sistim pemerintahan zalim yang dapat diwariskan kepada setiap orang yang ia kehendaki. Ia telah mendudukkan anaknya, Yazid di kursi pemerintahannya. Padahal Yazid bukanlah seorang manusia yang beragama dan bahkan berpura-pura beragama saja ia tidak pernah. Yazid menghabiskan waktunya untuk berbuat zalim, bermaksiat, menari-nari, dan bermain dengan kera. Ia sama sekali tidak pernah menghormati hukum dan ajaran-ajaran agama. Dan lebih parah dari ini semua, ia sama sekali tidak memiliki keyakinan dan iman kepada agama dan ajaran suci Islam. Salah satu contohnya, ketika para tawanan dari Karbala yang berupa para keluarga Ahlul Bait As beserta kepala-kepala suci yang telah terpisah dari jasad memasuki kota Damaskus, ia bangkit dan pergi menonton mereka dengan penuh kesombongan. Waktu itu, ia mendengar suara burung gagak (yang biasanya adalah pertanda kejadian yang buruk-pent.), ia malah berteriak: “Burung gagak bersuara. Bersuaralah atau jangan bersuara (terserah)! Karena aku telah menagih hutang-hutangku dari rasul.[5]

Begitu juga ketika para tawanan Ahlul Bait dan kepala suci imam Husain As dihadirkan kehadapannya, ia sangat bergembira dan mengucapkan beberapa bait puisi yang salah satu baitnya seperti ini:

Bani Hasyim telah bermain-main dengan kekuasaan

Sungguh tidak ada risalah yang diturunkan dan tak ada juga wahyu.

Pemerintahan Yazid yang bertujuan untuk meneruskan misi politik ayahnya, Muawiyah, telah menjelaskan apa tugas Islam dan kaum Muslimin. Dengan demikian kondisi Ahlul Bait As—padahal hampir saja mereka terlupakan—yang sebenarnya telah terungkap dan semua Muslimin menyadarinya.

Dalam kondisi seperti ini, suatu sikap yang sangat membahayakan keberadaan Islam dan Muslimin adalah membai’at Yazid dan menganggapnya sebagai soerang khalifah yang diridhai nabi dan harus ditaati.

Waktu itu satu-satunya sikap yang harus ditunjukkan oleh imam Husain As adalah menolak untuk membaiat Yazid. Karena jika beliau bersedia membaiatnya, sudah barang tentu bahwa masa depan agama Islam akan hancur. Dengan demikian, tugas imam Husain As adalah melawan Yazid dan Tuhan pun menuntut dilakukannya hal ini oleh imam Husain As.

Dari sisi yang lain, ia mengetahui bahwa jika ia tidak membaiat Yazid, maka ia harus terbunuh. Dengan demikian, hanya ada dua pilihan baginya; membaiat Yazid atau menyerahkan kepalanya. Ia tidak mungkin membaiat Yazid; dengan demikian kesyahidan imam Husain As tidak dapat dihindari lagi.

Demi kebaikan agama dan kaum Muslimin, imam Husain As rela tidak membai’at Yazid meski harus kehilangan nyawanya. Dengan besar hati ia lebih mendahulukan kematian daripada kehidupannya. Dan inilah makna riwayat-riwayat yang mana disebutkan di dalamnya bahwa ketika beliau bermimpi melihat Rasulullah Saw, Rasulullah Saw berkata kepadanya: “Tuhan ingin melihatmu terbunuh.” Beliau sendiri juga sering berkata kepada orang-orang yang berusaha mencegahnya untuk pergi ke Kufah: “Tuhan ingin melihatku terbunuh.” Yang jelas, kehendak Tuhan ini adalah kehendak Tasyri’i[6], bukan Takwini[7]; karena sebagaimana yang telah kami jelaskan sebelumnya bahwa kehendak Takwini Tuhan tidak memiliki dampak dan pengaruh terhadap kehendak makhluk dan perbuatannya.

Ya Sayidus Syuhada As memang lebih memilih untuk tidak membaiat Yazid meski ia harus terbunuh. Ia lebih memilih kematian daripada membaiat Yazid. Tragedi terbunuhnya imam Husain As telah tercatat dalam kitab-kitab sejarah dengan jelas. Syahadah imam Husain As yang sangat menyedihkan dan meluluhkan hati tersebut telah menyingkap betapa terzaliminya mereka. Kejadian di Karbala telah menjelaskan kepada kita siapa yang benar dan siapa yang salah. Setelah kejadian ini pun, sampai dua belas tahun berikutnya, peperangan dan pertumpahan darah terus berlanjut. Dan pintu rumah imam Husain As yang semasa ia hidup selalu tertutup dan tak satupun orang berani mengetuk pintu rumahnya, setelah beberapa tahun, yakni di zaman imam kelima yang mana waktu itu Ahlul Bait As sempat merasakan sedikit ketenangan, mulai terbuka dan masyarakat berbondong-bondong berani mendatanginya. Sejak waktu itulah kediaman kebenaran bersinar dan mulai dikunjungi setiap orang dari pelosok negri yang jauh sekali pun. Sejak waktu itu kemalangan Ahlul Bait As dapat diketahui banyak orang. Dengan demikian jelas sekali perbedaan kondisi Islam ketika imam Husain As masih hidup dengan beberapa tahun setelah ia terbunuh, yakni empat belas abad yang lalu. Hari demi hari kebenaran yang sesungguhnya tersingkap dan keburukan yang tertutupi mulai terbongkar. Sosok imam Husain As semakin dikenal dan bercahaya terang bagi semua orang.

Muawiyah benar-benar menyadari bahwa jika seandainya imam Husain As terbunuh, maka inilah yang akan terjadi. Dengan demikian ia pernah berwasiat kepada anaknya, Yazid, bahwa jika imam Husain As tidak mau membaiatnya, biarlah ia hidup dan jangan sampai ia terbunuh. Muawiyah berwasiat seperti ini bukannya karena merasa kasihan dengan Ahlul Bait As, bahkan karena dia takut jika imam Husain As terbunuh di tangan Yazid, kelak para pengikut dan keturunannya akan marah, memberontak, dan menuntut darahnya. Muawiyah mengerti benar bahwa hal ini akan membahayakan kekuasaan Bani Umayah dan menguntungkan Ahlul Bait As lalu menjadikannya sebagai sarana terbaik untuk berdakwah dan menyebarkan ajaran yang benar.

Sayyidus Syuhada As benar-benar memahami tugas yang diberikan oleh Tuhan kepadanya. Tugas tersebut adalah “tidak membaiat Yazid”. Ia lebih mengerti dari pada yang lain mengenai kekuatan Bani Umayah yang tak tertandingi. Ia juga lebih memahami siapa Yazid sebenarnya. Ia tahu betul bahwa jika ia tidak mau membaiat Yazid, ia pasti akan membunuhnya. Dengan demikian, tugas yang diberikan Tuhan ini adalah sebuah tugas yang berat; taruhannya adalah nyawa dan beliau sendiri sering menyinggung hal ini dalam beberapa kesempatan.

Ketika beliau berada di Madinah, ia pernah berkata: “Orang sepertiku tidak akan membaiat orang seperti Yazid.”

Setelah keluar meninggalkan kota Madinah di malam hari, ia menceritakan bahwa ia pernah bermimpi melihat Rasulullah Saw berkata kepadanya: “Tuhan ingin melihatmu (sebagai sebuah tugas) mati terbunuh.”

Dalam pidato yang ia bacakan ketika ia bergerak dari kota Makkah, untuk menolak ucapan orang-orang yang berusaha mencegahnya untuk pergi ke Kufah, ia juga membicarakan hal tersebut.

Suatu saat seorang Arab terkenal dan ternama berusaha untuk mencegah imam Husain As supaya tidak pergi menuju Kufah; karena tahu bahwa jika imam pergi, ia pasti akan terbunuh. Imam berkata kepadanya: “Saya mengetahui jelas hal ini. Tapi mereka tidak akan pernah melepaskanku; di manapun aku berada, mereka akan memburuku dan membunuhku.” (Sebagian riwayat sedikit memiliki perbedaan dengan riwayat ini. Hal itu mungkin disebabkan perbedaan sanad. Meski demikian, terbukti bahwa kondisi waktu itu memang benar-benar buruk bagi imam Husain As dan keluarganya.)

Sebenarnya maksud kami mengatakan bahwa tujuan imam Husain As adalah menjemput kesyahidan dan Tuhan ingin melihatnya mati syahid, bukan berarti Tuhan memerintahkan imam Husain As untuk tidak membaiat Yazid lalu berteriak kepada anak buahnya “wahai anak buah Yazid! Bunuhlah aku…!”. Jika Tuhan menginginkan hal ini dari imam Husain As, maka betapa menggelikannya tugas ini yang kemudian imam Husain As dengan besar hati mau menjalankannya dan menyebutnya sebagai perjuangan. Sesungguhnya imam Husain As ditugaskan untuk menentang pemerintahan Yazid, tidak membaiatnya dan tidak menuruti kemauannya meski ia harus mati terbunuh.

Dari sinilah kita dapat melihat bahwa setiap sikap dan keputusan imam Husain As dalam suatu masa-masa tertentu berbeda dengan sikap dan keputusannya di saat-saat yang lain dan bergantung dengan situasi dan kondisi yang sedang ia hadapi. Mulanya ia ditekan oleh seorang gubernur di Madinah dan kemudian ia pergi meninggalkan kota Madinah di malam hari lalu ia berlindung beberapa bulan di Makkah yang merupakan kota suci dan Haramullah. Tak lama kemudian keberadaannya di Makkah diketahui oleh kaki tangan Yazid dan mereka berniat untuk membunuhnya di musim Haji atau menangkap dan membawanya ke Syam. Dan di sisi yang lain, imam Husain As kedatangan ribuan surat yang dikirim dari Iraq. Dalam ribuan surat tersebut, penduduk Iraq berjanji untuk memberikan pertolongan dan menyatakan bahwa mereka siap untuk membantu. Mereka mengundang imam Husain As untuk datang ke sana. Dan setelah sampainya sebuah surat terakhir dari penduduk Kufah, sebagai Itmamul Hujjah, (sebagaimana yang diriwayatkan oleh beberapa rawi) ia bergegas untuk berangkat menuju kota tersebut. Mulanya sebagai Itmamul Hujjah ia mengirim seorang wakil bernama Muslim bin Aqil dan beberapa saat kemudian datang surat dari Muslim bin Aqil yang menjelaskan bahwa kondisi memang benar-benar dapat membantu imam Husain As.

Imam berangkat menuju Kufah karena beberapa alasan yang telah disebutkan di atas; yang pertama karena kedatangan beberapa utusan rahasia dari Syam yang berencana untuk membunuh atau menangkap beliau, dan yang kedua demi menjaga kesucian dan keamanan kota Makkah; kemudian karena ia memandang bahwa kota Kufah telah siap untuk ia datangi. Ketika imam Husain As mendengar bahwa Muslim bin Aqil dan Hani telah terbunuh secara mengerikan, rencana beliau untuk bangkit melawan kekuatan Yazid berubah menjadi pertahanan yang sederhana di hadapan kekuatan tak terhingga. Ia menguji para sahabatnya dan menyarankan kepada mereka untuk meninggalkannya lalu hanya tersisia beberapa sahabat berhati mulia saja yang bersama dengan beliau. Hanya beberapa orang saja yang berusaha untuk menemani imam Husain As sampai tetesan darah terakhir beliau.[8]

[1] QS. Al-Jinn: 26 – 27.

[2] Ma’ali As-Sibthain: jil. 2 ; hal.  21 (dengan sedikit perbedaan redaksi).

[3] Keberadaan manusia sebagai pelaku yang memiliki ikhtiar; yakni memiliki kekuasaan untuk melakukan atau tidak melakukan.

[4] Dapat dilakukan dan juga dapat ditinggalkan.

[5] Ditukil oleh Alusi dalam Tafsir Ruh Al-Ma’ani: jil. 26; hal 66, dari kitab sejarah Ibn Al-Wardi dan kitab Wafi Al-Wafiyat.

[6] Yakni kehendak Tuhan yang hanya dapat terwujud dengan dikerjakannya sesuatu yang dikehendaki tersebut oleh makhluk-Nya.

[7] Kehendak yang akan terjadi hanya dengan dikerjakannya sesuatu yang dikehendaki tersebut oleh Dia sendiri.

[8] Tulisan yang telah anda baca tadi telah ditulis oleh Allamah Thabathabai sendiri beberapa tahun yang lalu. Beberapa pembahAsan ini beliau tulis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh beberapa kelompok peminatnya. Sebagaimana yang Anda ketahui, beliau menjelaskan permasalahan ini dengan sangat sederhana dan ringkas. Sebenarnya, untuk diselesaikannya permasalahan ini, mungkin dibutuhkan beberapa pembahAsan falsafi dan aqli yang cukup susah dan memaksa beliau untuk menulis sebuah buku tersendiri.

Tulisan ini untuk pertama kalinya pada bulan Rabiut Tsani 1391 H dicetak berupa buku kecil yang tebalnya sekitar 32 halaman dan dibagikan secara cuma-cuma kepada setiap orang. Kini agar anda juga dapat membacanya, tulisan ini kami cantumkan di buku ini. (Khosro Shahi).