Apakah bertawasul itu syirik?

Tanya: Apakah menurut akal dan dalil-dalil berupa ayat-ayat Al-Qur’an dan riwayat serta ketetapan Rasulullah Saw bertawasul kepada para nabi dan wali-wali Allah Swt merupakan perbuatan syirik? Karena:

Pertama, menurut akal sehat kita, penciptaan adalah khusus milik Tuhan dan segala macam dampak dan pengaruh dalam wujud adalah milik-Nya semata. Al-Qur’an juga menekankan pernyataan ini dan di dalamnya kita sering membaca ayat ini: “… Allah adalah pencipta segala sesuatu …”[1] Dengan demikian, di antara sebab dan akibat tidak ada hubungan pemberian dampak dan pengaruh; hanya saja telah menjadi sunnah Tuhan untuk meciptakan segala akibat setelah terciptanya sebab-sebabnya dan menciptakan dampak dan pengaruh setelah terciptanya pemilik dampak dan pengaruh tersebut. Misalnya, Tuhan menciptakan terbakarnya kayu setelah sampainya api kepada kayu tersebut; tanpa harus ada hubungan antara keduanya. Dan oleh karenanya, menganggap para nabi dan wali sebagai makhluk yang memiliki kekuatan tersendiri untuk memberi pengaruh dan dampak dalam wujud, kemudian menjadikan mereka sebagai wasilah (baca: perantara) untuk meminta hajat, merupakan perbuatan syirik dan penyekutuan Tuhan dengan selain-Nya.

Kedua, Allah Swt berfirman dalam kitab sucinya: “Dan Tuhan kalian berkat: ‘Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang merAsa sombong untuk berdoa kepadaku akan masuk kedalam neraka secara hina.’”.[2]

Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam ayat di atas bahwa berdoa kepada Allah Swt merupakan sebuah ibadah dan barang siapa yang enggan untuk beribadah dan berdoa kepadanya, akan dijanjikan untuk dimasukkan kedalam neraka, maka berdoa kepada selain Tuhan bertentangan dengan ayat di atas yang telah memerintahkan kita untuk selalu berdoa kepada-Nya dan hanya beribadah kepada-Nya. Dengan demikian, perbuatan tersebut adalah menjadikan makhluk Tuhan sebagai sekutu bagi-Nya dan syirik.

Ketiga, Rasulullah Saw dalam dakwahnya selalu mengkafirkan orang-orang yang tidak masuk Islam; yakni para penyembah berhala dan Ahlul Kitab. Beliau berperang melawan mereka padahal para penyembah berhala meyakini bahwa Tuhan Yang Maha Esa adalah tuhan tertinggi, sang pengatur alam, dan pemberi rizki. Hanya saja yang membuat mereka musyrik adalah permohonan hajat yang mereka lakukan terhadap para malaikat dan menganggap mereka sebagai penolong. Ahlul Kitab juga demikian; mereka beriman kepada para nabi yang pernah datang sebelum mereka. Hanya saja yang membuat mereka syirik adalah permohonan hajat yang mereka lakukan terhadap arwah para nabi yang telah meninggal dunia dan menganggap mereka sebagai penolong. Tanpa membeda-bedakan antara Ahlul Kitab dan penyembah berhala, Rasulullah Saw memerangi mereka semuanya dan semuanya ia sebut sebagai orang-orang kafir dan musyrik.

Keempat, Ilmu ghaib adalah ilmu yang hanya dimiliki oleh Tuhan dan tak satupun selain-Nya yang dapat memilikinya sebagaimana yang dijelaskan oleh ayat-ayat seperti: “Katakanlah bahwa tidak ada satupun yang ada di langit dan di bumi yang mengetahui hal yang ghaib kecuali Allah .…”[3]

Dan ayat, “Dan Ia memiliki kunci-kunci keghaiban dan tidak ada yang mengetahuinya selain Dia .…”[4]

Dengan demikian, selain Tuhan tidak ada yang mampu untuk memiliki ilmu-ilmu ghaib. Para nabi, wali, dan siapa pun juga tidak ada yang memiliki ilmu ghaib. Dan jelas sekali bahwa alam dunia bagi penduduk akherat adalah hal yang ghaib. Setiap manusia, meski pun nabi atau para wali, setelah mereka meinggal dunia mereka tidak lagi mengetahui apa yang terjadi di alam dunia. Maka meminta hajat kepada mereka dan menjadikan mereka sebagai penolong setelah kematian mereka selain merupakan perbuatan syirik, juga tidak ada gunanya dan sia-sia belaka. Allah Swt berfirman:

“… Allah mengumpulkan para rasul lalu Allah bertanya (kepada mereka): ‘Apa jawaban kaummu terhadap (seruan)mu ?’. Para rasul menjawab: ‘Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu); sesungguhnya Engkau-lah yang mengetahui perkara yang ghaib.’”[5]

Ayat ini menjelaskan bahwa ketika para nabi ditanya mengenai keadaan umat mereka setelah mereka meninggal dunia, mereka menjawab bawa mereka tidak mengetahui apa-apa.

Kesimpulannya, dengan alasan-alasan di atas memanggil-manggil para nabi dan wali yang telah meninggal dunia dan meminta hajat dari mereka, bahkan segala macam tunduk merunduk di hadapan makam mereka serta menciumi dinding kuburan mereka adalah perbuatan syirik!

Jawab:  Dengan nama Allah Swt. Adapun atas dasar hujatan pertama, berarti di alam semesta ini tidak ada satupun maujud yang dengan sendirinya maupun yang hanya berupa perantara mampu memberikan dampak dan pengaruh dalam wujud. Dengan demikian, pemberian dampak dan sebab utama dalam terwujudnya segala sebab adalah Allah Swt semata. Dengan kata lain, anda telah mengingkari adanya hubungan sebab akibat dalam lingkaran sekumpulan wujud di alam semesta ini dan anda hanya meyakini Tuhan sebagai “sebab” dan selain-Nya tidak dapat menjadi “sebab”. Pendapat anda ini selain tidak sesuai dengan yang dipahami oleh akal sehat umat manusia, juga memiliki dua kesalahan yang lain:

Pertama, jika kita menerima pendapat ini, maka akibatnya pintu mengenal Tuhan akan tertutup rapat. Karena selama ini kita telah menetapkan wujud Tuhan melalui “akibat-akibat” yang kita lihat dan kita saksikan di sekitar kita yang mana dengan penyaksian tersebut kita dapat menyimpulkan bahwasannya Tuhan benar-benar ada. Jika kita tidak dapat memahami bahwa segala maujud yang ada di alam semesta ini memiliki hukum sebab akibat, maka dari mana kita dapat menetapkan Tuhan? Bukankah kita dapat menetapkan Tuhan dengan cara melihat bahwa segala maujud yang ada di alam semesta ini merupakan “akibat” dari suatu “sebab” yang mana sebab tersebut juga memiliki sebab yang lain yang ujungnya adalah Tuhan yang merupakan sebab segala sebab yang berada di luar cakupan alam semesta? Apakah tidak lucu jika kita berkata bahwa Tuhan telah terbiasa untuk menciptakan dampak setelah terciptanya pemilik dampak padahal wujud Tuhan sendiri belum kita tetapkan? Bagaimana bisa kita membicarakan kebiasaan Tuhan padahal kita belum meyakini Tuhan?

Kedua, jika antara sesuatu dengan sesuatu yang lain tidak ada hubungan sebab dan akibat, maka hubungan antara dalil dan hasilnya juga akan terputus. Dengan demikian setiap alasan dan dalil tidak akan membawakan hasil dan akhirnya dalil tersebut tidak berguna; karena tidak ada keterkaitan antara dalil dan hasilnya. Jika kenyataannya memang demikian, maka setiap ilmu pengetahuan adalah kebatilan dan segalanya adalah keraguan dan ketidak tahuan; yakni Sophistry!

Akan tetapi berkat petunjuk fitrah manusiawi yang kita miliki, kita dapat memahami bahwa hukum sebab akibat adalah hukum umum yang dimiliki oleh setiap maujud. Setiap fenomena dan maujud yang keberadaannya didahului oleh ketiadaan, maka sesunggunya wujudnya bukan dari dirinya sendiri; akan tetapi ada suatu penyebab yang telah mewujudkannya. Begitu juga penyebab tersebut, memiliki penyebab yang lain juga dan seterusnya yang akhirnya kita akan sampai kepada sang sebab segala sebab yang disebut dengan Wajibul Wujud; yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian, alam semesta ini adalah alam sebab akibat; dan penyebab hakiki yang merupakan sebab segala sebab yang ada adalah Allah Swt. Segala penyebab selain Tuhan, adalah perantara yang akan menghubungkan akibat penyebab tersebut dengan Tuhan sang sebab segala sebab. Oleh karena itu pada hakikatnya segala hal yang terjadi di alam semesta ini adalah dampak dan pengaruh keberadaan Tuhan sebagai penyebab hakiki.

Adapun meyakini keberadaan suatu perantara yang berupa “sebab” yang akan mewujudkan suatu akibat dan menghubungkannya dengan penyebab hakiki, yakni Tuhan, tidak akan menyebabkan kesyirikan. Perantara tersebut adalah maujud yang dapat memberikan dampak dalam wujud; akan tetapi keberadaannya tidak independen bahkan bergantung dengan hal lain yang ujung-ujungnya adalah Tuhan. Hal ini seperti halnya hubungan antara manusia dengan pena ketika ia menulis; dalam contoh ini, pena merupakan pelaku penulisan dan tangan juga merupakan pelaku penulisan, dan begitu juga manusia, ia juga pelaku yang sedang menulis. Memang benar dalam satu waktu ada tiga pelaku dan satu pekerjaan; akan tetapi pada hakikatnya penulis yang sebenarnya adalah manusia. Adapun tangan dan pena, mereka hanyalah perantara yang digunakan manusia untuk menulis; bukan sekutu manusia dalam menulis. Dan dalam contoh api dan keberadaannya sebagai dzat yang membakar, sebenarnya Tuhan yang telah menciptakan “api yang membakar” tersebut. Bukannya Tuhan menciptakan api secara terpisah dengan sifat membakar yang ia miliki. Dengan demikian, Tuhan menciptakan ke-pembakar-an melalui perantara api; bukan dengan sendirinya Tuhan menciptakan ke-pembakar-an tersebut.

Dengan pembahasan di atas, keberadaan maujud yang ada di alam semesta ini yang memiliki hukum sebab akibat tidak akan pernah menjadikan Allah Swt sebagai Tuhan yang memiliki sekutu dan keesaan-Nya dalam ke-pencipta-an-Nya tidak akan pernah terusik. Lagi pula keberadaan maujud di alam semesta yang berupa perantara bagi Tuhan, justru menekankan akan keberadaan Tuhan. Al-Qur’an pun juga menyatakan adanya hukum sebab dan akibat di alam semesta yang telah diciptakan oleh Tuhan ini. Yang jelas, sebab utama dan sebab hakiki dalam wujud hanyalah Allah Swt dan tidak ada selainnya. Ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan hal ini banyak sekali; seperti:

“…dan bukanlah engkau yang telah melempar, bahkan Allah Swt yang telah melemparkan…”[6]

“Bunuhlah mereka, Allah Swt ingin mengadzab mereka dengan tangan-tangan kalian…”[7]

“…sesungguhnya Allah Swt ingin mengadzab mereka dengannya…”[8]

Dan masih banyak pula ayat-ayat yang lainnya.

Adapun hujatan kedua, yang mana anda telah mengatakan bahwa berdoa adalah ibadah, dalam jawaban hujatan kedua telah dijelaskan bahwa memanggil dan meminta hajat kepada selain Allah Swt memiliki dua gambaran: yang pertama, memanggil dengan maksud meminta hajat kepada makhluk sebagai maujud yang memiliki dampak dan pengaruh terhadap wujud secara independen; dan yang kedua memanggil dengan maksud memohon hajat kepada yang dipanggil sebagai makhluk yang berupa “perantara” dan tidak menjadikannya sekutu bagi Tuhan dalam memberikan dampak dan pengaruh dalam wujud. Dengan demikian Tuhan tidak disekutukan dengan “perantara”. Oleh karenanya ayat yang berbunyi:

“… berdoalah kepada-Ku niscaya akan kukabulkan. Sesungguhnya yang merasa sombong dalam beribadah kepada-Ku akan masuk ke dalam neraka secara hina.”[9]

maksudnya adalah kita tidak boleh memohon kepada selain Allah Swt dengan maksud meminta hajat kepada makhluk yang secara independen dapat memberikan dampak dan pengaruh dalam wujud. Tuhan tidak melarang segala jenis permohonan kepada selain-Nya; Ia hanya melarang permohonan dengan maksud penyekutuan Tuhan. Tuhan tidak melarang pemohonan hajat dengan maksud menjadikan makhluk sebagai perantara; karena ketika kita memohon hajat kepada makhluk sebagai perantara, maka artinya kita sedang memohon hajat kepada Tuhan yang merupaka pemilik segala makhluk yang berperan sebagai perantara. Lagi pula jika kita beranggapan bahwa dengan alasan ayat suci ini kita sama sekali tidak boleh memohon kepada selai Tuhan karena akan menimbulkan kesyirikan, maka setiap hari mungkin kita telah melakukan banyak perbuatan syirik. Contohnya saja ketika kita pergi membeli roti, paling tidak kita memohon kepada penjual roti untuk memberikan barang dagangannya kepada kita. Dengan demikian, jika kita menganggap ayat di atas sebagai ayat yang melarang segala macam permohonan, maka kita juga tidak boleh memohon kepada penjual roti untuk memberikan rotinya; karena ini adalah perbuatan syirik. Begitu juga ketika kita membeli daging; kita mau tak mau harus memohon kepada penjual daging untuk memberikan dagingnya kepada kita. Tapi ada juga yang menyangkal dan berkata bahwa memohon kepada orang yang masih hidup tidak masalah; tetapi memohon kepada para nabi dan wali yang telah meninggal dunia dapat dipermasalahkan. Sesungguhnya sangkalan tersebut hanya mempermasalahkan berguna atau tidaknya permohonan, bukan syirik atau tidaknya permohonan tersebut. Yang jelas, selain jawaban ini yang dapat diberikan untuk hujatan kedua, dalam jawaban hujatan keempat beberapa jawaban hujatan kedua akan dijelaskan di sana.

Allah Swt berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah perantara kepada-Nya dan berjihadlah di jalan-Nya; mungkin kalian akan berjaya.”[10]

Tuhan sendiri yang telah memerintahkan kita untuk mencari perantara untuk menuju-Nya dan Ia menyebutnya sebagai kunci keberjayaan. Ada pula beberapa riwayat yang menerangkan bahwa Rasulullah Saw telah menjadikan shalat dan iman sebagai perantaranya untuk menuju Tuhan. Dengan kata lain, bagi beliau iman dan shalat adalah perantara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Jika menjadikan sesuatu sebagai perantara adalah perbuatan syirik, maka mengapa beliau melakukannya? Bukankah perbuatan syirik tidak akan membantu manusia untuk lebih dekat dengan Tuhannya? Mengapa Rasulullah menjadikan perantara tersebut sebagai alat penambah kedekatannya dengan Tuhan?

Adapun hujatan ketiga, yakni mengenai kemusyrikan para penyembah berhala sebagaimana yang telah anda jelaskan, yang mana anda telah mengatakan bahwa para penyembah berhala pada dasarnya beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa yang tak bersekutu dan meyakini-Nya sebagai sang pencipta, pemberi rizki, maha menghidupkan, mampu mematikan, pengatur alam semesta dan segala isinya, dan penakhluk semua makhluk yang telah ia ciptakan, adalah perkataan yang tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Karena sebagaimana yang tercatat dalam kitab-kitab agama dan sekte mereka, dan sebagaimana yang diakui sendiri oleh para penyembah berhala yang mana berjuta orang seperti mereka hidup di Cina, India, dan Jepang, pada dasarnya penyembahan berhala memiliki asas yang tidak seperti yang telah kita bayangkan. Mereka mengatakan bahwa pencipta segala maujud di alam semesta, bahkan berhala dan dewa-dewa yang mereka sembah, adalah Tuhan yang maha tinggi; tetapi dzat-Nya yang suci dan tak terbatas, tidak dapat kita ketahui dan kita rasakan baik dengan khayalan maupun dengan akal. Bagaimanapun juga, kita sama sekali tidak mampu memahami dzat-Nya dengan benar sehingga kita dapat menyembah-Nya. Dengan demikian, yang sebenarnya kita harus menyembah-Nya dengan penuh pegertian dan pemahaman, kita sama sekali tidak bisa melakukannya. Maka kita terpaksa untuk menjadikan sebagian hamba-hamba yang dekat dengan-Nya sebagai sembahan seperti para malaikat, jin, dan orang-orang suci agar mereka dapat mendekatkan kami kepada-Nya serta membantu kami kelak di hadapan-Nya.

Bagi penyembah berhala, para malaikat adalah makhluk suci yang dekat dengan Tuhan tertinggi yang mana mereka bertugas untuk mengatur beberapa perkara alam. Mereka berkedudukan sebagai dewa sang pengatur berkuasa yang berkehendak sempurna bagi kekuasaan mereka; seperti dewa laut, dewa padang pasir, dewa perang, dewa perdamaian, dewa keindahan, dewa langit, dewa bumi, dan lain sebagainya. Setiap dari mereka adalah dewa yang memiliki wewenang tertinggi atas kekuasaan yang telah diserahkan kepada mereka untuk diatur. Di atas mereka terdapat satu Tuhan maha pencipta yang merupakan Tuhan segala dewa yang mana sama sekali tidak bekerja seperti para dewa yang selalu mengatur alam ciptaan. Al-Qur’an pernah mengisyarahkan permasalahan ini beberapa ayat sucinya:

“Jika kau bertanya kepada mereka siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi, mereka akan menjawab: ‘Allah.’”[11]

“Jika kau tanya mereka tentang siapa yang telah menciptakan mereka, mereka akan menjawab: ‘Allah.’”[12]

“Jika di keduanya terdapat tuhan selain Allah, maka keduanya akan hancur.”[13]

“… kalau ada tuhan lain besertanya, maka tuhan-tuhan tersebut akan membawakan makhluk dan ciptaannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan tuhan-tuhan yang lainnya…”[14]

Ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa jika seandainya ada banyak tuhan bagi alam semesta ini, niscaya mereka akan berikhtilaf dalam mengatur alam semesta. Jika ikhtilaf terjadi, maka dengan dijalankannya perintah-perintah mereka yang saling berbeda akan menyebabkan kehancuran alam semesta yang mereka atur. Dengan demikian jika mereka hanya memiliki satu Tuhan tertinggi dan dewa-dewa yang mereka sembah hanya sekedar perantara dan kaki tangan Tuhan tertinggi yang menjalankan perintah-perintah-Nya, maka tidak terjadi perbedaan pendapat antara para dewa dan tidak akan terjadi perbedaan kehendak dalam mengatur alam semesta yang akan menyebabkan kehancurannya.

Dengan penjelasan ini, telah jelas sudah bahwa para penyembah berhala dan semisal mereka, seperti para penyembah bintang-bintang dan patung-patung buatan tangan, sebenarnya tidak menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Ritual-ritual keagamaan seperti pemersembahan tumbal yang mereka lakukan, pada dasarnya mereka lakukan untuk dewa-dewa yang mereka sembah. Itu pun hanya untuk meminta pertolongan dalam urusan-urusan duniawi mereka; bukan untuk urusan rohani dan akherat mereka; karena, jelas sekali, mereka tidak meyakini adanya kahidupan akherat. Adapun Al-Qur’an pernah menjawab seperti ini: “…dan siapakah yang dapat memberikan pertolongan (syafaat) selain dengan izin-Nya?”[15], jawaban tersebut berkenaan dengan pertolongan secara mutlak; bukan pertolongan di hari kiamat yang mana mereka mengingkarinya.

Ya, orang-orang Arab yang hidup di masa jahiliyah, tidak seperti yang dilakukan para penyembah berhala yang lain, mereka terkadang juga menyembah Tuhan Yang Maha Esa; seperti yang mereka lakukan dalam ibadah haji. Ibadah haji adalah sebuah ibadah yang telah diajarkan oleh nabi Ibrahim As kepada umatnya. Setelah Amr bin Yahya menyemarakkan penyembahan berhala di Hijaz, semua penduduk di sana menjadi penyembah berhala. Meski mereka sudah menjadi penyembah berhala, mereka tetap melakukan ibadah haji sebagai mana para pendahulu mereka. Dengan demikian, dalam ibadah haji yang mereka lakukan, mereka juga tidak lupa mengunjungi patung yang bernama Hubal yang mereka letakkan di atas Ka’bah dan juga patung Asaf dan Nailah yang berada di Marwa. Mereka juga melakukan ibadah Qurban dan mempersembahkan beberapa persembahan bagi patung-patung tersebut. Amal peruatan yang mereka lakukan ini sama seperti yang dilakukan oleh para penyembah berhala yang lain yang mana mereka tidak menyembah yang berada di balik patung-patung tersebut; entah yang berada di balik patung-patung tersebut adalah malaikat ataukah jin. Yang mereka lakukan adalah menyembah patung-patung tersebut; padahal seharusnya mereka menyembah dewa-dewa di balik patung-patung yang telah mereka ciptakan dengan tangan sendiri. Allah Swt pernah menukilkan perkataan nabi Ibrahim As dan berfirman: “…apakah kalian menyembah sesuatu yang telah kalian ukir dengan tangan kalian sendiri?”[16]

Kesimpulannya, sesuai dengan tata cara penyembahan berhala, dan tidak seperti yang telah dijelaskan dalam hujatan ketiga, Tuhan Yang Maha Esa tidak berkedudukan sebagai pengatur alam semesta, dan juga bukan sembahan mereka. Dan pertolongan yang mereka inginkan dari para malaiakat adalah pertolongan-pertolongan yang berhubungan dengan kehidupan materi mereka. Menurut mereka para malaikat adalah pengatur mutlak yang berkuasa dengan sendirinya dalam urusan-urusan mereka; padahal sebenarnya para malaikat dan Tuhan bagaikan para pekerja bangunan yang diperintahkan oleh pemilik rumah untuk membangun sebua rumah. Dengan  demikian sang pemilik rumah berkewajiban untuk memenuhi segala hal yang dibutuhkan oleh pembangun rumah untuk membangun sebuah rumah yang inda dan kokoh. Oleh karena itu, pemilik rumah juga merupakan pengatur yang berkuasa terhadap rumahnya. Akan tetapi mereka tidak berpikiran seperti ini; mereka hanya tertuju kepada para malaikat yang menurut mereka secara mutlak mampu menyelesaikan urusan-urusan mereka.

Adapun yang dikatakan dalam hujat ketiga mengenai Ahlul Kitab, yang mana telah dikatakan bahwa mereka telah menjadikan para nabi dan orang-orang saleh yang telah meninggal dunia sebagai sekutu Tuhan dan kemudian mereka memohon hajat dari mereka, dan dengan demikian mereka menjadi musyrik, adalah perkataan yang tidak ada dalilnya. Orang-orang Ahlul Kitab, yakni orang-orang Yahudi, Nasrani dan yang lainnya sebenarnya disebut sebagai orang yang kafir karena mereka telah menolak ajakan Rasulullah Saw untuk memeluk Islam. Allah Swt berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengimani Allah dan rasul-Nya dan berkeinginan untuk memisahkan Allah dan rasul-Nya dan berkata bahwa kami beriman dengan sebagiannya dan tidak mengimani sebagian yang lain, dan ingin mengambil sebuah jalan diantaranya, mereka sesungguhnya adalah orang-orang yang kafir.”[17]

Mereka juga sangat menghormati dan menaati para rahib mereka secara berlebihan yang mana Tuhan telah mengatakan bahwa taat adalah penyembahan dan ibadah. Sebagaimana ia pernah berfirman bahwa menaati syaitan sama seperti menyembah syaitan:

“Bukankah telah aku telah menyumpah kalian wahai keturunan Adam bahwa kalian tidak boleh menyembah Syaitan; sesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata bagi kalia.”[18]

“Apakah engkau telah melihat orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya? Dan Allah menyesatkannya atas dasar ilmu-Nya (karena Allah tahu bahwa ia tidak akan pernah kembali)”[19]

Ayat-ayat di atas telah menerangkan dengan jelas bahwa taat adalah sebuah bentuk penghambaan dan ibadah. Kedua kelompok di atas telah dianggap sebagai orang-orang yang kafir akibat beberapa perbuatan tak tepat yang telah mereka lakukan. Sebagaimana orang-orang Yahudi yang telah mengatakan bahwa Uzair adalah putra Tuhan; dan orang-orang Nasrani mengatakan bahwa Isa al MAsih adalah putra Tuhan dan mereka menyembah Isa putra Maryam. Sebagaimana Allah Swt telah berfirman:

“Dan (ingatlah) ketika Tuhan berkata kepada Isa putra Maryam: ‘Wahai Isa putra Maryam, apakah engkau telah berkata kepada mereka: ‘jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah.’?”[20]

Allah Swt sendiri telah menjelaskan hal-hal yang telah saya sebutkan di atas. Ia berfirman:

“Dan orang-orang Yahudi berkata: ‘Uzair adalah anak Allah.’ Dan orang-orang Nasrani berkata: ‘Isa adalah putra Allah.’ Demikian itu perkataan mereka dengan mulut mereka sendiri. Mereka meniru ucapan orang-orang kafir yang terdahulu. Semoga Allah melaknat mereka. Bagaimana mereka dapat berpaling? Mereka telah menjadikan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan juga menjadikan Isa putra Maryam sebagai tuhan mereka. Sesungguhnya mereka tidak diperintahkan selain untuk menyembah Tuhan yang satu. Tidak ada Tuhan selain-Nya. Dia…”[21]

Adapun mengenai orang-orang Majusi, meski Al-Qur’an tidak memberikan keterangan lengkap tentang mereka, akan tetapi kita tahu bahwa mereka sama seperti para penyembah berhala, mereka menyembah para malaikat. Hanya saja bedanya, orang-orang Majusi tidak memiliki patung-patung untuk di sembah sebagai manifestasi para malaikat; sedangkan para penyembah berhala, mereka memiliki patung-patung yang mereka sembah sebagai manifestasi para malaikat.

Dengan penjelasan yang telah diberikan, dalam Al-Qur’an tidak disebutkan sama sekali bahwa bertawasul, atau memohon terpenuhinya hajat kepada para nabi dan wali sebagai perantara adalah perbuatan syirik. Dan orang-orang musyrik yang sebenarnya tidak seperti yang telah dikatakan dalam hujatan ketiga; bahkan dengan sangat jelas mereka adalah orang-orang yang menyembah selain Allah Swt. Dan perlu ditekankan bahwa mereka menyembah selain Tuhan bukan untuk menjadikannya perantara mendekatkan diri kepada Tuhan; bahkan untuk ibadah dan penghambaan yang sampai saat ini  mereka tetap melakukannya dengan cara menjalankan beberapa ritual tertentu.

Pada dasarnya semua orang dengan fitrah sucinya memahami bahwa perantara bukanlah sekutu dan perantara adalah sebuah jalan yang akan mengantarkan manusia menuju tujuan dan sasarannya. Ketika ada seorang fakir yang mendatangi seorang yang kaya untuk memberikan bantuan, lalu orang kaya tersebut memberinya beberapa uang, semua orang yang melihat kejadian ini tidak akan mengatakan bahwa uang adalah sekutu bagi orang kaya dalam membantu orang fakir dan kedua-duanya telah membantu orang fakir tersebut. Yang telah membantu orang fakir adalah orang kaya; dan uang hanya perantara bagi orang kaya untuk memberikan bantuan dan bukan sekutu bagi orang kaya tersebut dalam membantu.

Dan adapun hujatan keempat, yang mana dapat disimpulkan seperti ini: bahwa ilmu ghaib dan segala macam pengelihatan ghaib adalah milik Tuhan semata dan jika kita meyakini bahwa selain Tuhan ada yang memiliki ilmu seperti itu maka kita telah syirik, dan oleh karenanya para nabi dan wali setelah meninggal dunia tidak mengetahui apa-apa mengenai hal-hal yang terjadi di dunia, karena dunia bagi mereka adalah hal yang ghaib, adalah ungapan yang bertentangan dengan penjelasan Al-Qur’an dalam ayat berikut: “(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya…”[22]

Dalam ayat ini, Allah memang menegaskan bahwa tidak ada satupun yang memiliki ilmu ghaib selain diri-Nya sendiri. Akan tetapi dalam penegasan ini juga Dia memberikan pengecualian dan menjelaskan bahwa para rasul yang Ia ridhai juga memiliki ilmu ghaib. Pengecualian tersebut tidak hanya terbatas di dunia atau di akherat; maka bisa jadi para rasul utusan Tuhan, di saat mereka hidup ataupun setelah meninggal dunia, mereka dapat memiliki ilmu-ilmu ghaib ini dengan perantara ilham-ilham yang diberikan Tuhan. Dan bukti yang menekankan hal ini adalah adanya ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa ketika rasul tidak memiliki ilmu ghaib, maka berarti ia tidak mendapatkan wahyu. Seperti ayat ini:

“Katakanlah: ‘Aku bukanlah rAsul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu.  Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan.’”[23]

“… Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.’”[24]

Dan juga dalam surah Ibrahim mengenai jawaban terhadap pengingkaran umat-umat yang selalu menyakiti nabi mereka. Dalam surah tersebut Allah Swt menukilkan ucapan para rasul-Nya: Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.”[25]

Dan yang lebih jelas dari ayat-ayat ini, ada sebuah ayat yang menukilkan ucapan nabi Isa As kepada kaumnya yang mana ayat tersebut berbunyi seperti ini:

“… dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu.”[26]

“… pemberi berita gembira akan kedatangan rasul yang akan datang setelahku  yang bernama Ahmad…”[27]

Selain ayat, ada pula banyak riwayat yang bersumber dari bibir suci Nabi Muhammad Saw dan para imam Ahlul Bait As yang memberitakan kepada kita tentang kejadian-kejadian yang akan terjadi di akhir zaman kelak.

Dengan penjelasan di atas, telah menjadi lebih jelas bahwa ayat-ayat dan riwayat yang telah disebutkan di atas menujukkan bahwa ketika hamba Allah Swt dikatakan tidak memiliki ilmu ghaib, maksudnya adalah, dengan sendirinya mereka tidak memiliki ilmu ghaib; dan ketika dikatakan bahwa mereka memiliki ilmu ghaib, maka maksudnya Tuhan telah memberitahukannya kepada mereka melalui ilham dan wahyu yang diberikan kepada Rasulullah Saw dan melalui pewarisan yang diperuntukkan bagi para imam. Banyak sekali riwayat yang membenarkan permasalahan ini; begitu juga ayat yang berbunyi: “… Allah mengumpulkan para rasul lalu Allah bertanya (kepada mereka): ‘Apa jawaban kaummu terhadap (seruan)mu ?’. Para rasul menjawab: ‘Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu); sesungguhnya Engkau-lah yang mengetahui perkara yang ghaib.’”[28] yang mana telah dijadikan alasan bahwa di hari kiamat para nabi menyatakan bahwa diri mereka tidak mengetahui apa-apa perihal perkara umat mereka semenjak mereka meninggal dunia dan mereka berkata, “Setelah kami meninggal dunia, kami tidak mengetahui apa-apa perihal perkara umat kami.”

Jika makna ayat di atas adalah, setelah kita meninggal dunia amal-amal umat manusia bagi kita adalah hal yang ghaib dan kita tidak mengetahui apa-apa mengenai hal-hal yang ghaib, maka permasalahan ini akan timbul pula meskipun kita belum meninggal dunia. Karena hakikat setiap amal perbuatan tidak dapat diketahui begitu saja dengan cara melihat sisi luar amal tersebut; akan tetapi sebagaimana diterangkan oleh beberapa riwayat dan bahkan adalah hal yang jelas bahwa hakikat amal perbuatan tergantung dengan niat pelakunya. Dan niat adalah sesuatu yang berada di hati manusia, dan setiap hal yang berada di hati dan batin manusia adalah hal yang ghaib dan tak satupun manusia yang mampu mengetahui isi hati sesamanya dengan sesungguhnya. Dengan demikian, sebagaimana para nabi setelah mereka meninggal dunia mereka tidak dapat mengetahui amal perbuatan umat mereka, sebelum mereka meninggal dunia pun mereka juga tidak dapat mengetahui hakikat amal perbuatan umat mereka yang mana bagi mereka adalah hal yang ghaib. Dengan demikian ayat-ayat yang menjelaskan bahwa para nabi adalah saksi amal perbuatan umat di dunia dan di akherat semuanya tidak bermakna dan batil. Seperti ayat-ayat berikut ini:

“Dan aku adalah saksi terhadap mereka selama aku berada di tengah-tengah mereka.”[29]

“…supaya sebagian kamu dijadikan-Nya sebagai para saksi…”[30]

“…dan para nabi didatangkan bersama para saksi…”[31]

“…dan para saksi akan berkata: ‘Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka’…”[32] (QS Huud: 18)

Dengan demikian, makna ayat di atas adalah, para nabi mengaku bahwa mereka tidak memiliki ilmu ghaib yang dengan sendirinya mereka telah memiliki ilmu tersebut; mereka berkata bahwa ilmu yang mereka miliki adalah pemberian yang dikaruniakan oleh Tuhan kepada mereka dan Tuhan yang mengajarkan ilmu tersebut. Dengan kata lain, mereka mengaku bahwa Tuhan lebih tahu dari pada mereka dan pengetahuan yang mereka miliki adalah ilmu yang diberikan oleh Tuhan.

Adapun telah dijelaskan dalam hujatan di atas bahwa merunduk di hadapan makam para nabi dan imam serta tunduk di hadapannya dan juga menciuminya adalah perbuatan syirik, adalah penjelasan yang tak memiliki dalil. Sesungguhnya makam dan kuburan adalah syiar-syiar dan simbol yang akan mengingatkan kita kepada Tuhan; dan menghormati serta memuliakannnya sama dengan menghormati dan memuliakan Tuhan. Allah Swt telah berfirman mengenai Nabi Muhammad Saw:

“…maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya (petunjuk) yang dibawakan olehnya, adalah orang-orang yang beruntung.”[33]

Ia juga berfirman mengenai syiar-syiar dan tanda-tanda kebesaran-Nya:

“…dan barang siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu adalah ketakwaan hati.”[34]

Dan di sisi yang lain, kita mengetahui bahwa mencintai Tuhan adalah salah satu kewajiban yang sangat penting. Dan jelas sekali bahwa kecintaan terhadap Tuhan menuntut kecintaan ekspresi rasa sayang kepada hal-hal yang berkaitan dengan-Nya.

Nabi Muhammad Saw dan para imam setelahnya adalah syiar-syiar Tuhan yang mana kita harus mencintai mereka. Tak diragukan kita harus mencintai Al-Qur’an, mencintai Ka’bah, dan mencintai segala macam perbuatan taat dan ibadah. Ciuman adalah salah satu bentuk ekspresi kecintaan. Apakah Islam pernah mengatakan bahwa mencium Hajar Aswad adalah perbuatan syirik dan Tuhan menerima perbuatan syirik tersebut serta membenarkannya?

Sebagai penutup, kita harus terkejut bahwa mereka yang telah menganggap ekspresi kecintaan kepada Rasulullah Saw dan keluarganya sebagai perbuatan syirik, dalam permasalahan Tauhid, diri mereka sendiri telah berbuat syirik; karena mereka telah menganggap bahwa Tuhan memiliki tujuh sifat tsubutiyah; seperti: Maha Hidup, Maha Mampu, Maha Mengetahui, Maha mendengar, Maha Melihat, Maha Berkehendak, dan Maha Berbicara. Menurut mereka, tujuh sifat ini adalah sifat yang berada di luar dzat Tuhan dan merupakan sifat Tuhan yang Qadim. Menurut mereka, semua sifat di atas bukan “akibat” dari dzat, dan dzat juga bukan “akibat” dari sifat-sifat tersebut. Dengan demikian mereka telah meyakini adanya tujuh Wajibul Wujud yang mana jika dijumlahkan dengan keberadaan Tuhan sebagai satu Wajibul Wujud, ada delapan Wajibul Wujud yang mereka sembah. Dan hal itulah yang mereka sebut dengan Tauhid. Mereka bersikeras mengaku sebagai orang yang bertauhid dan menyebut orang-orang yang sebenarnya benar dalam bertauhid sebagai orang yang musyrik hanya karena mereka telah mengagungkan syiar-syiar Tuhan.

[1] QS. Ar-Ra’d: 16.

[2] QS. Al-Ghafir: 60.

[3] QS. An-Naml: 65.

[4] QS. Al-An’am: 59.

[5] QS. Al-Maidah: 109.

[6] QS. An-Anfal: 17.

[7] QS. At -Taubah: 14.

[8] QS. At-Taubah: 55.

[9] QS. Al-Ghafir: 17.

[10] QS. Al-Maidah: 35.

[11] QS. Luqman: 25.

[12] QS. Az-Zukhruf: 87.

[13] QS. Al-Anbiya’: 22.

[14] QS. Al-Mu’minun: 91.

[15] QS. Al-Baqarah: 255.

[16] QS. As-Shafat: 95.

[17] QS. An-Nisa’: 150 – 151.

[18] QS. Yasin: 60 – 61.

[19] QS. Al-Jatsiyah: 23.

[20] QS. Al-Maidah: 116.

[21] QS. At-Taubah: 30 – 31.

[22] QS. Al-Jinn: 26 – 27.

[23] QS. Al-Ahqaf: 9.

[24] QS. Al-A’raf: 188.

[25] QS. Ibrahim: 11.

[26] QS. Al Imran: 49.

[27] QS. As-Shaaf: 6.

[28] QS. Al-Maidah:109.

[29] QS. Al-Maidah: 117.

[30] QS. Al Imran: 140.

[31] QS. Az-Zumar: 69.

[32] QS. Huud: 18.

[33] QS. Al-A’raf: 157.

[34] QS. Al-Hajj: 32.