Ubah suasana hati untuk kurangi stress

Menata hati adalah usaha dalam mengatur perasaan serta emosi dengan cara mengendalikan diri dari dorongan-dorongannya. Ada beberapa cara yang dianjurkan agama Islam kepada kita untuk menata hati. Di antaranya adalah:

1. Melampiaskan emosi

Mkasud dari pelampiasan emosi di sini adalah dengan cara-cara yang benar, seperti bertaubat, berdoa, munajat, menangis, berziarah, dan seterusnya. Pelampiasasn emosi dengan benar akan menyelesaikan masalah, lebih menguatkan hati, dan masih banyak lagi keuntungannya. Cara-cara yang dapat digunakan dalam usaha ini di antaranya adalah:

  • Bertaubat

Langkah pertama untuk menggapai kesehatan jiwa adalah melepaskan beban-beban dosa dengan cara bertaubat. Rasulullah saw. bersabda: “Apakah kalian ingin aku jelaskan apa saja obat dan apa saja penyakit?” Mereka menjawab: “Ya, wahai Rasulullah.” Kemudian beliau menjelaskan: “Penyakit kalian adalah dosa-dosa dan obat untuk kalian adalah taubat.”[1]

Dalam agama Islam, taubat pada hakikatnya sesuatu yang rasional, yakni membenahi kesalahan-kesalahan yang telah lalu. Seringkali tekanan jiwa itu timbul karena rasa benci terhadap diri sendiri karena telah dilakukannya dosa-dosa. Selama beban dosa tertimbun di hati dan terus bertambah, kegelisahan juga semakin menjadi. Jalan keluar dari permasalahan itu adalah taubat; karena Allah swt. menerima taubat hamba-hamba-Nya[2] dan orang yang bertaubat bagaikan orang tanpa dosa yang dicintai oleh Tuhannya.

“Orang yang telah bertaubat dari dosa bagaikan orang yang tidak memiliki dosa.”[3]

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat.”[4]

Ketika seseorang menyesali masa lalunya dan memutuskan untuk bertaubat, kegelisahan dan tekanan jiwa dengan sendirinya akan berkurang. Itulah rahasi mengapa Allah swt. memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bertaubat: “Hendaknya semua orang yang beriman bertaubat dan kembali menuju Allah, agar mereka mencapai keselamatan.”[5]

Tolak ukur taubat adalah penyesalan dalam batin,[6] yakni manusia menyesali perbuatan buruk yang telah ia lakukan. Al Qur’an memerintahkan kita untuk bertaubat dengan taubat nashuhah.[7] Berdasarkan riwayat-riwayat, maksud dari taubat nashuhah adalah manusia hendaknya:

  1. Tidak kembali lagi kepada dosa-dosanya.[8]
  2. Penyesalan hatinya itu diungkapkan dengan lidah dan ditunjukkan dengan tekat.[9]
  3. Perilakunya menggambarkan ia benar-benar telah meninggalkan dosa.[10]
  • Menangis dan pembukaan ikatan masalah

Saat tertimpa musibah atau sedang mengalami penderitaan, tidak jarang orang yang menjadikan momen-momen duka sebagai kesempatannya untuk meluapkan emosi dan perasaannya. Momen-momen tersebut seperti halnya peringatan tragedi Imam Husain as., menggiring jenazah menuju pemakaman dengan mengenakan pakaian-pakaian berwarna hitam, dan lain sebagainya. Belasungkawa, hadirnya kerabat-kerabat keluarga di saat seseorang sedang tertimpa musibah, tak diragukan memiliki peran penting dalam membesarkan hati orang yang tertimpa musibah tersebut, dan juga dengan demikian ikatan kekeluargaan dan persahabatan menjadi lebih erat.[11]

Islam tidak hanya menjadikan kesabaran sebagai solusi, agama ini juga mengajarkan sikap rela terhadap qadha dan qadar, berserah pada kehendak Ilahi, menangis dan meluapkan emosi, dan lain sebagainya; karena jika kesedihan yang terukurung dalam hati itu tidak ditangani, maka akan memberikan dampak yang buruk bagi keselamatan tubuh dan jiwa. Tangisan pada dasarnya adalah hal biasa namun berguna, dan Islam pun memberikan pengarahan-pengarahan terhadapnya:

“Ketika kalian bersedih saat tertimpa musibah, ingatlah juga musibah-musibah yang menimpa para Imam dan anak cucu mereka.”

Masalah ini memiliki banyak hikmah yang di antaranya adalah:

  1. Menyebabkan terluapnya emosi yang terkurung dalam hati.
  2. Membuat seseorang merasa kesedihannya itu tidak seberapa jika dibanding dengan kesedihan yang menimpa para imam mereka.
  3. Menciptakan rasa keterikatan hati dan perasaan yang kuat antara seseorang dengan para imamnya.[12]

Al Qur’an menjelaskan bahwa tangisan tidak hanya dikarenakan tertimpa musibah saja, namun banyak lagi tangisan-tangisan lainnya, seperti:

  1. Tangisan karena takut akan Allah swt; yaitu menangis dalam keadaan khusyu’ dan tunduk di hadapan-Nya. Dalam Al Qur’an disebutkan: “Orang-orang yang beriman di hadapan tanda-tanda kebesaran Ilahi akan khusyu’ hatinya lalu bersujud.”[13] Dan juga disebutkan: “Mereka bersujud di atas tanah dengan air mata yang berlinang karena takut kepada-Nya, dan rasas takutnya selalu bertambah.”[14]
  2. Tangisan penyesalan atas diri sendiri karena dosa-dosa yang telah dilakukan.[15]
  • Berduka mengenang Imam Husain as.

Diadakannnya acara-acara peringatan duka mengenang tragedi-tragedi yang menimpa para imam kita, khususnya Imam Husain as., adalah tradisi para imam maksum yang ditekankan kepada kita. Imam Baqir as. berkata:

“Di hari ‘Asyura adakanlah acara-acara peringatan dukacita dan hendaknya kalian saling mengingatkan satu sama lain akan musibah yang menimpa kami di hari ini.”[16]

Tradisi ini turun menurun dijalankan dan kini telah mengalami perkembangannya, yang mana tradisi hari Asyura telah menjadi paramida keterjagaan Islam. Imam Khumaini berkata:

“Setiap ajaran yang di dalamnya tidak ada yang seperti ini, yakni memukul dada, ratapan, dan peringatan-peringatan seperti ini, tidak akan terjamin kelanggengannya.”[17]

Acara-acara peringatan tragedi yang menimpa Imam Husain as., yang biasanya diisi dengan pembacaan kronologi, puisi, dan lain sebagainya,[18] dengan mengenakan pakaian-pakaian berwarna hitam yang menghanyutkan hati dalam kesedihan, di satu sisi usaha tersebut dapat menciptakan suasana yang mendorong kita untuk saling menolong (terutama menolong orang yang lemah),[19] di sisi yang lain juga dapat menjadi wadah pelampiasan emosi kita, yakni seseorang dengan menangisi Imam Husain as., emosinya dapat terlampiaskan dan terkosongkan.

2. Mengatur keseimbangan hati

Salah satu cara menanggulangi atau menghadapi tekanan jiwa adalah mengatur keseimbangan emosi dan perasaan dengan cara mengambil garis tengah di dorongan-dorongan emosional. Kapasitas kejiwaan seseorang berkaitan langsung dengan bentuk pemikiran dan kepribadiannya, dan kapasitas pemikiran dan kepribadian akan berpengaruh pada pola hidupnya. Islam menyebut Muslimin sebagai ummatan wasatha[20](umat yang berada di tengah) yang senantiasa mengajak mereka untuk bersikap adil dan seimbang.

Imam Ali as. berkata:

“Kanan dan kiri itu sesat, jalan yang ada di tengah adalah jalan yang benar.”[21]

Berjalan di jalan yang lurus, memperhatikan keseimbangan (menjauhi sikap berlebihan), dan memperhatikan kadar kemampuan tubuh dan jiwa dalam melakukan apa saja, adalah masalah yang penting untuk diperhatikan, sehingga Imam Ali as. menyebut orang yang tidak memperhatikan kadar dirinya sebagai orang yang bodoh.[22] Menurut beliau keseimbangan tidak hanya harus diperhatikan dalam hal-hal materi saja:

“Sesungguhnya hati ini terkadang bersemangat dan terkadang malas. Maka pekerjakanlah hatimu di saat ia bersemangat, dan jangan paksa ia bekerja saat ia malas, karena akan membuatnya menjadi keruh.”[23]

Jadi salah satu jalan terbaik untuk menghindarkan diri dari tekanan jiwa dan stres adalah mengatur hati ini, mensucikannya seraya berjalan di jalur ketakwaan.[24] William James berpendapat bahwa kebesaran hati kuncinya ada pada mengatur perasaan dan berperangai mulia berdasarkan aturan-aturan keagamaan. Ia berkata:

“Dalam diri orang-orang yang terikat dengan ajaran agama terdapat ketenangan, kewibawaan, kelembutan, cinta dan pengorbanan.”[25]

3. Ketegaran

Beberapa peneliti Barat berkata tentang ketegaran:

“Orang-orang yang tegar menghadapi cobaan, lebih kecil resikonya terserang penyakit-penyakit dan tidak mudah mengalami stres.”

Ketegaran memiliki tiga unsur: bertekat kuat dalam bekerja, usaha pencarian solusi permasalahan, dan menyambut perubahan serta menganggapnya sebagai kesempatan untuk berkembang dan lebih maju.[26]

Islam adalah agama yang menegaskan ketegaran dan kesabaran di hadapan masalah-masalah[27] dan segala hal yang tidak enak, menekankan manusia untuk bersabar dalam menyelesaikan problema-problema yang merupakan ujian Ilahi;[28] dengan demikianlah Islam membentuk pribadi-pribadi manusia yang kokoh bagai gunung batu. Imam Shadiq as. berkata:

“Sesunggunya orang yang beriman lebih kuat dari sepotong besi. Karena besi tetap akan meleleh jika ia dipanaskan, namun orang yang beriman, meskipun ia mati terbunuh, kemudian hidup lagi, kemudian mati lagi, imannya tidak akan berubah.”[29]

4. Bersabar dan bertahan

Jika manusia tidak bersabar saat berhadapan dengan faktor faktor pemicu stres, maka masalah-masalah yang akan dihadapinya akan menjadi lebih rumit dan betapa masalah kecil menjadi pemrasalahan yang besar. Berdasarkan prinsip clasical conditioning, jika seseorang bersabar dalam menghadapi suatu perkara, di kali berikutnya saat ia menghadapi perkara yang sama ia akan menjadi lebih kuat; dan begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, kesabaran sangat penting sekali bagi menurunnya tingkat tekanan jiwa seseorang.[30]

Banyak pakar psikologi yang melakukan penelitian bahwa Sebagian ahli tahkik psikologi pengotbatan dibawah tema pengumuman masalah presaaanaan ke keharusan tidak adanya kesendirian orang yang sakit dalam berhadapan dengan masalah-masalaha persaaananan dan sibuk menyuembuhkan para pasian secara kelompok atau individu.

Banyak sekali ayat-ayat yang berbicara tentang kesabaran:

“Kami telah menciptakan manusia dalam kesengsaraan.”[31]

“Wahai manusia, sesungguhnya engkau menuju Tuhanmu dan engkau akan bertemu dengan-Nya.”[32]

Umat manusia bagaikan kafilah yang berjalan berbondong-bondong menuju Tuhannya, dan dalam perjalanan itu mereka harus berhadapan dengan kesusahan dan kesulitan; inilah tabiat kehidupan.

Al Qur’an telah menjelaskan bahwa sudah tabiatnya kehidupan ini penuh dengan kesusahan dan jerih payah yang mana semua itu adalah ujian Ilahi. Maka tidak ada senjata yang lebih ampuh selain kesabaran untuk digunakan dalam hidup ini. Dalam pandangan Al Qur’an ada tiga poin penting tentang kesabaran:

  1. Orang-orang yang bersabar atas ujian disebut sebagai orang yang berhasil. Kabar gembira akan disampaikan oleh malaikat-malaikat sorga kepada orang-orang yang bersabar dan mengucapkan “inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”.[33]
  2. Kesabaran adala ujian yang dilimpahkan kepada para nabi ulul ‘azmi;[34] kesabaran adalah syarat mantap dan kokohnya perkara-perkara[35] dan para nabi yang telah dijadikan sebagai suri tauladan kepada kita itu tak lain dan tak bukan adalah orang-orang yang selalu bersabar atas para penentang dan segala kejadian yang menimpa mereka. Mereka adalah nabi-nabi yang tangguh dengan kesabarannya, seperti nabi Dawud as.,[36] nabi Ya’qub as.,[37] nabia Ayub as.,[38] nabi Ismail as., nabi Idris as., nabi Dzulkifli as.,[39] nabi Nuh as., nabi Yunus as. dan nabi Zakariya.[40]
  3. Al Qur’an menekankan kepada orang-orang yang beriman untuk meminta bantuan dari kesabaran dan shalat,[41] yang mana dengan kesabaran itulah sekelompok yang jumlahnya sedikit dapat mengalahkan kelompok banyak jumlahnya.[42] Bekal asli dalam perjalanan batini dan kearifan adalah kesabaran.[43]

Semua itu dapat disimpulkan dalam satu ayat:

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sungguh bersama kesulitan itu ada kemudahan.”[44]

5. Perlindungan sosial dan emosional (terhadap keluarga dan sesama)

Salah satu hal yang dapat mengamankan seseorang dari kerasnya pukulan yang disebabkan oleh peristiwa-peristiwa buruk dalam kehidupan, adalah adanya perlindungan dari sesamanya, baik kawan, kerabat dan keluarga. Perlindungan tersebut memiliki tiga bentuk berikut ini:

  1. Perlindungan antar kerabat atau keluarga dalam bentuk materi, misalnya membantu memberikan pinjaman uang, membelikan apa yang tidak mampu dibeli sesamanya, mengerjakan apa yang tidak mampu mereka kerjakan, dan seterusnya.
  2. Perlindungan dengan cara membagi membagi informasi dan bekerja sama agar mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan serta terhindar dari bahaya dan kerugian sebisa mungkin.
  3. Perlindungan dengan memberikan kepercayaan kepada orang lain serta menunjukkan kelayakannya untuk menjalankan tugas yang sedang diemban.

Bentuk perlindungan semacam ini sangat penting sekali untuk mendidik dan mendewasakan seseorang. Jika kita memberikan perlindungan perasaan kepada saudara kita, ia akan terbantu untuk mencari dan memiliki pandangan hidup yang benar, menemukan jalan positif dan dapat menghadapi permasalahan dengan tegar.

Para peneliti membuktikan, berdasarkan hasil penelitiannya yang dilakukan terhadap para pemudi muda, bahwa perlindungan orang tua terhadap perasaan anak-anak perempuannya sangat penting sekali bagi kejiwaan mereka, khususnya bagi mereka yang tertekan karena tidak mendapatkan suami atau kehilangan suaminya.[45]

[1] Gami Farasuye Ravan Shesnashi Eslami, Husain Muhammad Syarqawi, halaman 297.

[2] As Syura, ayat 25.

[3] Bihar Al Anwar, Muhammad Baqir Majlisi, jilid 2, halaman 348.

[4] Al Baqarah, ayat 222.

[5] An Nur, ayat 31.

[6] Bihar Al Anwar, Muhammad Baqir Majlisi, jilid 6, halaman 20.

[7] At Tahrim, ayat 8.

[8] Bihar Al Anwar, Muhammad Baqir Majlisi, jilid 2, halaman 20.

[9] Ibid, jilid 78, halaman 48.

[10] Ibid, jilid 6, halaman 22.

[11] Ravanshenashi e Salamat, M. Robin Dimato, jilid 2, halaman 741 – 742.

[12] Ravanshenashi e Salamat, M. Robin Dimato, jilid 2, halaman 780 – 781; Bihar Al Anwar, Muhammad Baqir Majlisi, jilid 93, halaman 266 – 328 dan jilid 44, halaman 279 – 296.

[13] Maryam, ayat 58.

[14] Al Isra’, ayat 109.

[15] Bihar Al Anwar, Muhammad Baqir Majlisi, jilid 93, halaman 233 dan 234.

[16] Kamilus Ziyarat, Ibnu Qulawaih, halaman 175.

[17] Sahife e Nur, Ruhullah Musawi Khumaini, jilid 8, halaman 69 – 70.

[18] Nehzat e Eslami dar Sad Sal e Akhir, Murtadha Muthahari, halaman 89.

[19] Bihar Al Anwar, Muhammad Baqir Majlisi, jilid 79, halaman 113.

[20] Az Saba ta Nima, jilid 1, halaman 322; Daramadi bar Namayesh dar Iran, Jabir Anashiri, halaman 86; Dairatul Maarif Tasyayu’, jilid 4; Buletin Honar, edisi kedua, musim dingin 1361, halaman 33, 37, 106 dan edisi ke 4, musim gugur 1362, halaman 29; Asrarus Syahadah, Fadhil Darbandi, halaman 61 – 66.

[21] Nahjul Balaghah, khutbah 16, poin ke 7.

[22] Nahjul Balaghah, hikmah 149.

[23] Ibid, hikmah 193.

[24] Ushul e Behdasht e Ravani (Prinsip-Prinsip Kesehatan Jiwa), Sayid Abul Qasim Husaini, halaman 132..

[25] Ibid, halaman 136.

[26] Naqhs e Din dar Behdasht e Ravan (sekumpuan makalah), halaman 29.

[27] Al Baqarah, ayat 155.

[28] Al Insyiqaq, ayat 6.

[29] Bihar Al Anwar, Muhammad Baqir Majlisi, jilid 68, halaman 304.

[30] Ravanshenashi e Salamat, M. Robin Dimato, jilid 2, halaman 762 dan 763.

[31] Al Balad, ayat 4.

[32] Al Insyiqaq, ayat 6.

[33] Al Baqarah, ayat 155 – 156.

[34] Al Ahqaf, ayat 35.

[35] Ali Imran , ayat 186

[36] Al An’am, ayat 3.

[37] Yusuf ayat 83 sampe 18

[38] Shaad ayat 44

[39] Al Anbiya ayat 91 dan 76

[40] Ibid.

[41] Al Baqarah, ayat 45 – 153.

[42] Al Baqarah, ayat 250.

[43] Al Kahf, ayat 67 – 112.

[44] Al Insyirah, ayat 5 – 6.

[45] Ravanshenashi e Salamat, M. Robin Dimato, jilid 2, halaman 590 – 593.