Ubah kebiasaan untuk mengurangi stress

Apa yang kita bahas di sini adalah seputar pembenahan-pembenahan prilaku yang bersifat jasmaniah, yaitu aktifitas-aktifitas dan latihan yang berhubungan dengan badan yang mana semua itu berguna bagi ketahanan seseorang dalam menghadapi dan mengatasi tekanan jiwa atau stres.

1. Olah raga dan latihan fisik

Sebagaimana tidur dan istirahat sangat dibutuhkan badan untuk menjaga kinerja otak, olah raga pun juga demikian. Olah raga dan latihan-latihan fisik berguna untuk menurunkan ketegangan urat syaraf dan juga dapat melenturkan anggota badan. Olah raga dipercaya berguna untuk menghindarkan pelakunya dari stres, karena kebanyakan orang yang giat berolah raga cenderung lebih sedikit menyisihkan waktunya untuk melamun dan mengkhawatirkan sesuatu (yang ujung-ujungnya membuat stress). Olah raga juga dapat menguatkan urat-urat syaraf saat berhadapan dengan ketegangan. Orang yang pekerjaan dan aktifitasnya melibatkan gerak fisik, seperti berjalan kaki dan lain sebagainya, detak jantung mereka lebih teratur, volume paru-paru mereka lebih besar, dan mereka lebih sedikit beresiko terserang penyakit.[1]

Imam-imam maksum menyarankan para pengikutnya untuk sering berjalan kaki karena itu berguna bagi kebugaran tubuh mereka.[2] Rasulullah saw. juga mendukung diadakannya perlombaan-perlombaan berkuda, tunggang onta, dan juga memanah. Pada peristiwa perang Tabuk, beliau pernah ikut dalam sebuah perlombaan dengan Usamah bin Zaid. Orang-orang berkata, “Rasulullah saw. menang!” Lalu beliau sendiri berkata, “Tidak, Usamah lah yang menang.”[3] Pada suatu hari beliau pernah berlomba dengan soeorang Arab Baduwi, namun orang Arab Baduwi itu yang memenangkan perlombaan.[4] Beliau sering kali menyarankan sahabat-sahabatnya untuk sering memanah dan berenang. Beliau bersabda:

“Ajarilah anak-anak kalian memanah dan berenang.”[5]

Berenang dapat meringankan berat badan; dan aktifitas-aktifitas fisik secara keseluruhan berguna untuk kebugaran dan keceriaan seseorang.

Mendaki gunung juga baik sekali untuk kesehatan, meningkatkan rasa percaya diri dan mengembangkan jiwa pemberani pada seseorang. Cerita kebiasaan Rasulullah saw. menyendiri di Jabal An Nur (gunung An Nur) begitu dikenal dan juga peristiwa turunnya Al Qur’an di goa Hira, menunjukkan betapa baiknya kebiasaan ini. Pada dasarnya kehidupan para nabi seringkali berkaitan dengan gunung-gunung; nabi Adam as. di gunung Sarandib, nabi Nuh as. di gunung Ararat, nabi Isa as. di gunung Sa’iyr, nabi Ibrahim as. dan Musa as. di gunung Thur, Sa’iyr dan Faran, lalu nabi Muhammad saw. di gunung An Nur.[6]

Olah raga memang bukan obat (yang secara langsung menyembuhkan) orang yang stres, namun kegiatan ini sangat bermanfaat sekali untuk menciptakan kesiapan pada diri seseorang dalam menghadapi masalah-masalah pemicu stress.

2. Tidur

Otak adalah alat vital yang berfungsi untuk mengatur keberlangsungan dan keseimbangan hidup. Agar otak memiliki kinerja yang baik, kita butuh cukup istirahat. Bagian besar dari istirahat adalah tidur. Jika seseorang tidak tidur dengan cukup, ia akan bangun dari tempat tidurnya dengan perasaan marah dan kelelahan; jika demikian ia akan lebih sulit menyelesaikan permasalahan-permasalahan dengan baik dan benar. Alasannya adalah karena otak tidak dapat menjaga keseimbangan kimiawi dalam tubuhnya dengan benar.[7]

Lebih dari sepertiga umur manusia dihabiskan untuk tidur; namun meskipun demikian sampai saat ini banyak sekali rahasia dan misteri dalam hal tidur, khususnya mimpi, yang belum bias diungkap. Al Qur’an menggunakan kata subat untuk menjelaskan bagaimana keadaan tubuh dan jiwa seseorang saat tidur: yaitu sebagian besar dari tubuh dan jiwa berhenti beraktifitas. Imam Ali as. berkata:

“Tidur adalah kenyamanan untuk tubuh dan berbicara adalah kenyamanan untuk jiwa.”[8]

Tidur berperan sebagai pemulih kekuatan dan energi serta melenyapkan lelah pada tubuh. Tidak tidur dalam kurun waktu yang cukup lama sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.

Berdasarkan berbagai penelitian ilmiah, tidur di malam hari sangat lebih efektif dibanding tidur lainnya; namun jika kita ingin mendapatkan manfaat dari tidur yang optimal, kita tidak boleh merasa puas dengan tidur malam saja. Al Qur’an pun juga menyinggung pentingnya tidur di malam dan siang hari:

“Dan yang termasuk dari tanda-tanda kebesarannya adalah tidurnya kalian di malam dan siang hari.”[9]

Tidur di malam hari, apa lagi jika di awal permulaan malam, diakui lebih banyak manfaatnya; karena tidur malam lebih lelap dibanding tidur selain di malam hari. Imam Ali as berkata:

“Para pengikut kami tidur di awal permulaan malam.”[10]

Para Imam umumnya juga menyarankan pengikut-pengikutnya untuk tidur beberapa saat di siang hari, yang dikenal dengan qailulah.[11] Al Qur’an juga menyebut malam hari sebagai saat yang penuh ketenangan dan tidur sebagai istirahat dan pemulih kekuatan, kemudian menyebut siang hari sebagai waktu beraktifitas:

“Dia lah yang menjadikan malam bagi kalian agar kalian mendapatkan ketenangan di dalamnya dan menjadikan siang untuk mencari penghidupan.”[12]

“Dan kami jadikan tidur kalian sebagai ketenangan dan istirahat, Kami juga jadikan malam kalian sebagai pakaian (selimut untuk beristirahat).”[13]

Tidur sesaat di siang hari atau qailulah sering sekali dikemukakan dalam teks-teks riwayat. Pada suatu hari ada seorang Arab Baduwi yang mendatangi Rasulullah saw. dan mengadu padanya karena ia pelupa. Rasulullah saw. berkata kepadanya, “Apakah kamu pernah terbiasa tidur sesaat di siang hari?” Ia berkata, “Iya.” Kemudian beliau bertanya kembali, “Apakah kamu telah meninggalkan kebiasaan tersebut?” Ia menjawab, “Iya.” Lalu beliau menasehatinya, “Kalau begitu ulangi kebiasaan yang telah engkau tinggalkan itu.” Orang Arab Baduwi itu kembali membiasakan diri untuk tidur qailulah di siang hari, lalu ingatannya pun pulih kembali.[14] Tidur dapat menghilangkan kegelisahan, rasa takut dan tekanan jiwa. Dalam Al Qur’an disebutkan tentang rasa takut yang dirasakan oleh sahabat-sahabat nabi di perang Badar:

“(Ingatlah) saat Allah menjadikan kalian mengantuk sebagai sesuatu penentraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dari hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kakimu.”[15]

Dalam ayat yang lain disebutkan:

“Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”[16]

Namun perlu diingat juga bahwa terlalu banyak tidur juga tidak baik; salah satunya membuat orang menjadi bingung tanpa alasan yang jelas.[17] Lebih dari itu, para imam maksum menasehati pengikut-pengikutnya untuk menghindari tidur di antara terbitnya fajar dan terbitnya matahari dan juga tidur di waktu sore hari. Mereka menyebut tidur di pagi hari akan menyebabkan kesialan dan kemalangan, mencegah diturunkannya rizki dan menimbulkan penyakit kuning.[18] Adapun tidur di sore hari dapat menyebabkan kebodohan.[19] Mereka menyarankan para pengikutnya untuk terjaga di sepertiga akhir malam, karena itu bermanfaat untuk kesehatan; dan mereka juga menyarankan untuk beribadah di waktu itu. Imam Shadiq as. berkata:

“Shalat malam dapat mengindahkan wajah dan perangai, membuat jiwa bersih dan menghilangkan kesedihan.”[20]

3. Istirahat dan relaksasi[21]

Memang salah satu di antara cara-cara mengatasi stres adalah beristirahat dengan cukup. Berdasarkan penelitian, orang-orang yang setiap harinya beristirahat dengan cukup lebih kecil kemungkinannya tertimpa penyakit. Dengan demikian istirahat adalah jalan terbaik menghindar dari stres. Mungkin bagi kebanyakan orang ada hal-hal yang dapat menjadi penenang, seperti menghisap rokok, mengkonsumsi obat-obatan, kokain, minuman-minuman beralkohol, teh, kopi, dan lain sebagainya; padahal sifat penenang yang ada padanya hanya bersifat sementara dan bahkan dalam jangka waktu yang panjang akan menimbulkan efek samping yang buruk.[22]

Hal-hal penting yang perlu diperhatikan

  1. Memposisikan tubuh dalam keadaan yang nyaman, seperti duduk di atas kursi yang empuk, berbaring di atas tempat tidur sambil meletakkan bantal di bawah kedua lutut, dan lain sebagainya.
  2. Hindari pakaian-pakaian yang ketat. Tanggalkan perhiasan-perhiasan (bagi wanita) dan benda-benda supaya tubuh anda merasa leluasa dan nyaman.
  3. Pilih tempat yang tenang untuk beristirahat, tidak bergerak, tidak bising dan tidak berbau yang mengganggu.
  4. Tentukan berapa lama anda beristirahat. Istirahat dan olah raga ringan sebagai pelengkapnya membutuhkan waktu sekitar 20 hingga 30 menit.
  5. Jalani program istirahat anda dengan teratur.
  6. Sedikit latihan fisik juga dapat memulihkan tenaga dan kejernihan pikiran anda.
  7. Lakukan hal ini: tarik nafas dalam-dalam kemudian pejamkan mata anda. Tarik nafas melalui hidung, lalu keluarkan lewat mulut. Setelah diulang-ulang dan berlangsung selama tiga menit, mulailah menggerakkan tangan anda dan otot-ototnya, lalu setelah itu lakukan hal yang sama pada kaki anda dan oto-ototnya. Kemudian putar-putar kepala anda, lalu buka kedua mata anda setelah itu dan duduklah dengan punggung yang tegak.
  8. Jangan lupa untuk melemaskan otot-otot anda secara total.

Pada tahun 1938, Dokter J. Jackson dalam buku yang berjudul Relaksasi Moderen munulis:[23]

“Untuk melemaskan otot-otot, kita dapat meremas dan memijitnya, lalu meregangkannya.”

4. Memperbaiki suasana kerja

Istirahat dan pola makan yang sehat dapat meningkatkan daya tahan diri terhadap stress dan tekanan jiwa. Namun kita juga perlu memperhatikan pola kita bekerja dan juga lingkungannya. Oleh karena itu kita perlu memperhatikan beberapa poin di bawah ini:

  1. Prediksi menyangkut waktu: berapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk bekerja? Apakah waktu yang cukup untuk mengerjakan pekerjaan anda?
  2. Memperhatikan prioritas-prioritas tugas: ketika banyak tugas menumpuk, manakah yang harus didahulukan?
  3. Memiliki style bekerja yang khas: bagaimana anda menjalankan pekerjaan anda? Apakah anda termasuk orang yang bersedia bekerja secara detil, seksama dengan penuh kesasbaran, ataukah orang yang suka marah-marah saat terpuruk dalam pekerjaan?
  4. Perhatikan kualitas: pentingkah kualitas kerja? Pentingkah kepuasan konsumen bagi anda? Bagaimana anda menilainya?
  5. Bergulat dengan stres: di saat terserang stres, seharusnya anda teliti satu per satu apa yang membuat anda sedemikian tertekan, lalu berusaha menyelesaikannya.
  6. Menjaga dan meningkatkan kesehatan: bagi kebanyakan orang memiliki kesehatan dan cukupnya istirahat adalah bekal yang paling utama untuk menjalankan aktifitas sehari hari. Oleh karena itu ketahanan harus terjaga sehingga anda dapat menangani situasi-situasi pelik yang mungkin akan anda hadapi.
  7. Mengenal keadaan-keadaan emosional: keadaan-keadaan tersebut memiliki pengaruh dalam hidup kita. Jika kita mengenal mereka dengan baik, kita dapat menghadapi dan menjinakkannya dengan tepat. Masalahnya kebanyakan orang tidak tahu menahu dan mengabaikannya.
  8. Tak perlu memaki buruknya lingkungan: memaki buruknya lingkungan memang mudah, namun bagaimanapun juga memang seperti itulah kenyataannya. Yang terpenting bagi anda adalah memikirkan bagaimana menyelesaikan masalah-masalah anda dengan benar.
  9. Memperhatikan orang-orang di sekitar kita: saat kita ingin mengejar suatu target dalam kurun waktu tertentu, kita perlu memperhatikan keadaan orang-orang di sekitar kita secara psikologis sebelum memutuskan apa yang harus kita lakukan.

Mewujudkan suasana positif di lingkungan kerja dengan cara memberikan pujian, ungkapan cinta, terimakasih, dan perlindungan sangat besar manfaatnya untuk berlangsungnya aktifitas dengan baik. Selain itu kita juga harus berusaha menghindarkan hal-hal negatif dari lingkungan kerja kita, seperti halnya kritikan-kritikan tidak sehat, rasa sombong, permusuhan, penghinaan, dan lain sebagainya. Suasana positif dan penuh cinta dalam lingkungan kerja akan menciptakan benteng pertahanan yang kokoh di hadapan serangan stress dan tekanan jiwa. Selain poin-poin yang telah disebutkan di atas, ada beberapa kaidah tambahan yang juga perlu diperhatikan:

Kaidah 1: tunjukkan reaksi yang menyenangkan dengan segera. Ketika seseorang telah menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, tunjukkanlah kegembiraan anda karenanya. Yang jelas jika anda memberikan pujian kepadanya, pujian tersebut harus sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya; pujian yang tidak tepat malah menimbulkan kebingungan dan perasaan negatif.

Kaidah 2: anda harus detil dalam segala hal. Hindari pujian-pujian yang tidak jelas.

Kaidah 3: berikanlah saran-saran membangun yang sesuai dengan kenyataan. Pesan-pesan samar dan tak jelas tidak ada gunanya dan justru memberikan dampak negatif. Katakan poin utama dan jangan berbelit-belit. Saran-saran yang membangun lebih baik daripada pujian yang tidak sesuai.

Kaidah 4: berikan dorongan kepada orang lain untuk mengerjakan tugasnya dengan lebih baik; jika anda tidak menemukan poin positif dalam kinerja mereka, untuk sementara lebih baik anda diam dan tidak berkomentar. Jika kualitas kerja mereka menurun, anda harus berusaha mencari titik permasalahannya dan berikan dorongan kepada mereka dengan menunjukkan keuntungan-keuntungan.

Kaidah 5: Jika anda ingin mereka memahami anda, maka anda harus berusaha memahami mereka terlebih dahulu. Kita semua membutuhkan ikatan yang baik. Tentu kita akan merasa terpojok saat semua orang menyalahkan kita, dan justru sebaliknya jika mereka mendukung kita. Selama kita tidak menghargai orang lain, kita tidak boleh mengharap penghargaan dari mereka. Apapun yang kita sukai untuk diri sendiri, harus kita sukai untuk orang lain juga; begitu pula dengan sebaliknya.

Kaidah 6: kita harus mampu menciptakan perasaan positif dalam diri setiap orang. Kaidah ini begitu penting dan mendasar sekali; karena jika kita tidak dapat mewujudkan perasaan positif dalam hati mereka, kita akan berhadapan dengan banyak kesulitan nantinya.[24]

5. Mewujudkan sistim perlindungan[25]

Kehidupan dunia selalu diiringi dengan tekanan dan perubahan, oleh karena itu sangat dibenarkan jika kita saling mewujudkan sistim perlindungan yang bertumpu pada kemanusiaan. Jika kita menyadari bahwa ada orang-orang yang melindungi kita, kita akan lebih kuat bertahan di hadapan tekanan-tekanan. Leonardo Saim, dalam penelitiannya menekankan pentingnya perlindungan sosial bagi kesehatan jiwa dan menyimpulkan: orang-orang yang tidak memiliki komunikasi yang baik dengan orang lain, jika dibandingkan dengan orang-orang yang memiliiki pergaulan yang baik, dua sampai tiga kali lebih besar resikonya mengalami kematian dengan cepat. Tidak hanya manusia, hewan seperti monyet saat dikurung sendirian dan dihadapkan dengan kesulitan-kesulitan ia cenderung agresif daripada ia dikandangkan bersama kawan-kawannya. Dengan demikian ikatan yang kokoh dan perlindungan dalam kelompok adalah perkara yang sangat penting sekali.

Pernah dilakukan sebuah penelitian terhadap para mantan tawanan perang Vietnam. Dalam penelitian itu membuktikan betapa pentingnya komunikasi antar individu. Para tawanan bisa tetap hidup dalam penjara karena komunikasi yang mereka bangun antara satu sama lain meskipun hanya dengan bentuk isyarat-isyarat suara dan lirikan mata.

Untuk mewujudkan sistim perlindungan dalam keluarga, harus kita perhatikan beberapa poin penting di bawah ini:[26]

  1. Mengenal kemampuan masing-masing anggota sehingga anda dapat mengembankan tugas kepada mereka sesuai dengan kemampuannya.
  2. Mewujudkan kebiasaan bermusyawarah dalam menentukan tugas dan peranan masing-masing anggota keluarga.
  3. Memikirkan bagaimana seharusnya bersikap secara berperasaan kepada mereka.
  4. Beberapa hal penting yang perlu diingat:
  5. Perdebatan yang sehat dapat menumbuhkan kedekatan dan penghormatan setelahnya.
  6. Saat ada yang merasa tidak puas, kita jadikan itu sebagai kesempatan untuk mempelajari kelemahan-kelemahan kita di mata mereka.
  7. Perubahan, percekcokan, dan krisis adalah kesempatan pemicu pertumbuhan pribadi individu. Misalnya saat anak ingin menikah, orang tua harus lebih bijak menanggapinya (menanggapi perubahan status seorang anak yang semulanya hanya sekedar anak, kini akan menjadi seorang suami).
  8. Bertanggung jawab penuh atas apa yang kita lakukan, yakni jangan mencerca orang lain jika kesalahan itu bermula dari kita.
  9. Kebijakan dalam mengabil keputusan, yang sekiranya kita tidak menjatuhkan martabat dan kehormatan anggota keluarga karenanya.
  10. Memberikan semangat dan selalu memberikan perlindungan. Kita juga perlu lebih sering mendengarkan dan memahami orang lain serta menunjukkan sikap yang baik kepada mereka; dengan demikian perlindungan kekeluargaan akan terwujud.[27]

Sistim perlindungan kekeluargaan yang ditekankan Al Qur’an berdasrkan prinsip-prinsip di bawah ini:

Prinsip pertama: mengenal anggota keluarga dan mengontrol mereka; sebagai contoh, nabi Ya’qub as. pernah menasehati anakknya dengan berkata:

“Janganlah kau ceritakan mimpimu ini kepada saudara-saudaramu, (karena jika kau ceritakan kepada mereka) mereka akan bertipumuslihat terhadapmu…”[28]

Ayat ini menunjukkan bahwa nabi Ya’qub as. faham dengan baik karakter anak-anaknya sehingga ia menasehati nabi Yusuf as. seperti itu.

Prinsip kedua: memberikan penghormatan kepada orang tua sebagai poros tegaknya rumah tangga. Al Qur’an begitu menekankan penghormatan terhadap orang tua:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada bapak ibu kamu dengan sebaik-baiknya. Jika salah satu di antara keduanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”[29]

Prinsip ketiga: berusaha konsisten dan menjaga keberlangsungan sistim perlindungan kekeluargaan selama memungkinkan. Sebagai contoh, pemaafan nabi Yusuf as. terhadap saudara-saudaranya,[30] perlindungan nabi Nuh as. untuk dan demi keselamatan anaknya,[31] doa nab Luth as. untuk keluarganya,[32] dan doa nabi Ibrahim as. untuk ayahnya kecuali terbukti ia memang benar-benar tidak mau beriman,[33] istighfar nabi Ya’qub as. untuk anak-anaknya dan nasehatnya kepada mereka agar tidak masuk ke dalam pintu gerbang kota secara bersamaan,[34] dan lain sebagainya.

6. Suasana yang nyaman

Di sebagian tempat-tempat tertentu, secara geografis terletak di kawasan yang berudara sejuk dan nyaman, bercuaca baik dan juga tentram. Keadaan seperti itu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk terapi penyembuhan atau dijadikan tempat melepas lelah dan mencari ketenangan. Tempat-tempat yang nyaman seperti di daerah pegunungan, pantai, perkebunan dan hutan, kaya akan ion negatif. Dalam pelbagai macam penelitian telah terbukti bahwa ion negatif berguna bagi makhluk hidup untuk penyesuaian diri dengan lingkungan dan terhindarnya stres; adapun ion positif justru sebaliknya. Udara yang terkotori polusi penuh dengan ion negatif.[35] Oleh karena itu, wajar saja jika kehidupan di kota yang padat dan lingkungan yang tercemar penuh dengan tekanan jiwa.

[1] Ravanshenashi e Salamat, M. Robin Dimato, jilid 1, halaman 392.

[2] Wasailus Syiah, Allamah Hurr Amili, jilid 13, halaman 349.

[3] Bihar Al Anwar, Muhammad Baqir Majlisi, jilid 103, halaman 191.

[4] Ibid.

[5] Kanzul Ummal fi Sunani wal Af’al, Ala’uddin Ali Muttaqi Hindi, jilid 3, halaman 1523.

[6] Al Baqarah, ayat 185; Mafatihul Jinan, Syaikh Abbas Al Qummi, doa Simat.

[7] Feshar e Ravani va Ezterab (Stres dan Depresi), Povel, halaman 197 – 200.

[8] Mizanul Hikmah, Muhammad Mahdi Reyshahri, jilid 10, halaman 258.

[9] Ar Ruum, ayat 23.

[10] Wasailus Syiah, Allamah Hurr Amili, jilid 5, halaman 274.

[11] Ibid, jilid 10, halaman 271.

[12] Yunus, ayat 67; Ghafir, ayat 61; An Naml, ayat 86; Al Qashash, ayat 73.

[13] Al Furqan, ayat 47.

[14] Wasailus Syiah, Allamah Hurr Amili, bab As Shalah Al Mandubah, jilid 5, halaman 274, hadis pertama.

[15] Al Anfal, ayat 11.

[16] Al Qashash, ayat 72.

[17] Bihar Al Anwar, Muhammad Baqir Majlisi, jilid 78, halaman 369.

[18] Ibid, jilid 78, halaman 280 dan jilid 76, halaman 179 – 180.

[19] Ibid, bab 4.

[20] Wasailus Syiah, Allamah Hurr Amili, jilid 5, halaman 271, bab 39, hadis 11.

[21] Pembahasan tentang relaksasi tidak ditemukan dalam Al Qur’an. Namun karena para pakar psikologi sangat mementingkan pembahasan tersebut, kami terdorong untuk menjelaskannya juga dalam buku ini.

[22] Feshar e Ravani (Tekanan Jiwa), Martin C., halaman 71 – 103.

[23] Feshar e Ravani (Tekanan Jiwa), Martin C., halaman 19.

[24] Feshar e Ravani (Tekanan Jiwa), Martin C., halaman 163 – 173.

[25] Pembahasan keluarga dalam segi krisis kekeluargaan telah dibahas sebelumnya pada bagian Faktor-Faktor Tekanan Jiwa. Di sini kita hanya membahas tentang perlindungan kekeluargaan.

[26] Behdasht e Ravani (Kesehatan Jiwa), Shamlou, halaman 194 – 204.

[27] Feshar e Ravani (Tekanan Jiwa), Martin C., halaman 175 – 197; Ensan dar Jostojuye Mana (Manusia dalam mencari makna), Victor Francle, halaman 21.

[28] Yusuf, ayat 5.

[29] Al Isra’, ayat 23.

[30] Yusuf, ayat 92.

[31] Huud, ayat 42 – 46.

[32] As Syu’ara, ayat 169.

[33] AT Taubah, ayat 14

[34] Yusuf, ayat 98.

[35] Estress e Daemi (Stres Berkepanjangan), Pierre Lou & Hendri Lou, halaman 217 – 218.