Solusi tekanan jiwa: Tafakur

Untuk menghadapi dan mengatasi tekanan jiwa, perlu sesekali kita kembali pada renungan dan bertafakur. Pikirkanlah tiga hal di bawah ini:

  1. Jalan untuk berubah selalu terbuka lebar
  2. Kita memegang kendali amal perbuatan dan perilaku diri sendiri
  3. Seharusnya kita mengontrol dan memprioritaskan hal-hal yang terpenting, tingkatan demi tingkatan

Para psikolong mengurutkan tahapan-tahapan di atas sebagai berikut:

Tahapan pertama, anda harus bertekat untuk terus hidup dengan baik. Dengan tekat ini, anda harus menghindar dari segala hal yang merugikan bagi anda. Karena sepanjang sejarah umat manusia pernah terjerumus dalam kesusahan-kesusahan yang dihasilkan oleh peperangan, minuman keras, obat-obatan terlarang dan lain sebagainya.[1]

Tahapan kedua, anda harus mempunyai alasan-alasan positif untuk hidup dan anda harus menerapkannya pada setiap aktifitas anda.

Francle berkata:

“Alasan kita untuk hidup, adalah tujuan yang mendorong kita untuk melakukan usaha; dan itulah sumber motivasi kita.”

Ketika kita punya alasan, maka kita akan tegar menghadapi apa saja.

Tahapan ketiga, anda harus bertekat seperti apakah anda harus hidup. Tanyalah pada diri sendiri: apakah aku ingin hidup dengan baik atau tidak? Lalu catatlah langkah-langkah apa saja yang harus anda perbuat untuk menjalani hidup dengan baik.

Tahapan keempat, berfikirlah positif dan pertahankan. Seorang yang optimis dalam berfikir, senantiasa menanti peristiwa positif pula; namun orang yang pesimis selalu murung menanti datangnya peristiwa negative juga. Orang yang optimis akan berkata bahwa “gelas itu berisi air setengahnya” namun orang yang pesimis akan berkata “gelas itu kosong setengahnya”.

Dokter Beck berkata:

“Depresi dan stres adalah hasil dari pola fikir yang salah. Ketika seseorang berpikiran negatif pada diri sendiri dan melupakan potensi-potensi serta titik positif lain yang ia miliki, ia selalu menganggap dirinya sebagai orang yang sengsara dan memandang masa depan dengan keputus asaan.”

Dalam catatan penelitian Dr. Donald Meichenbaum disebutkan:

“Setiap orang dari kita pasti memiliki satu bentuk percakapan dengan dirinya sendiri. Orang-orang yang suka berfikiran negatif saat tertimpa sedikit saja kesusahan adalah orang-orang yang selalu bercakap dengan diri sendiri secara negatif. Obatnya adalah, mereka harus belajar bagaimana berpikiran positif dalam menerima kenyataan-kenyataan hidup.”

Tahapan kelima, kita genggam erat kendali hidup kita. Kebanyakan orang yang mengalami tekanan jiwa berkata: “Aku tidak berhasil sampai di garis finish.” Kata-kata ini menunjukkan kelemahannya dalam menilai kenyataan. Adapun orang-orang yang teguh dan tegar justru akan berkata: “Aku pasti bisa menyelesaikan semua permasalahanku.” Perasaan memiliki kontrol dan pengendalian diri di hadapan kesusahan-kesusahan, adalah sebuah senjata yang sangat ampuh bagi siapa saja.

Tahapan keenam, berfikiran terbuka untuk belajar. Orang yang selalu bertahan di hadapan permasalahan, saat berhadapan dengan tekanan dan kesusahan ia akan berusaha berfikir lebih jernih dan luas. Mereka tidak terlalu risau dengan bagaimana harus hidup dan tidak pernah menganggap dirinya selalu benar. Kesalahan-kesalahan bagi mereka adalah pelajaran yang harus difahami agar tidak terulang kembali dan pada kesempatan berikutnya harus berusaha lebih keras dari sebelumnya. Namun ungkapan-ungkapan seperti “manusia tak luput dari kesalahan” tidak boleh dijadikan alasan untuk menghindar dari tanggung jawab. Kata-kata seperti itu tujuannya adalah agar kita tidak berhenti begitu saja saat sekali tergelincir karena kesalahan, bukannya untuk menghindar dari tanggung jawab.

Tahapan ketujuh, anggaplah perubahan dan permasalahan sebagai medan pertempuran yang menantang. Orang-orang yang menganggap perubahan dan permasalahan sebagai tantangan akan mendapatkan keberanian dalam dirinya, beraksi dengan baik melawan masalah-masalah, lalu berusaha menyelesaikan semuanya. Saat kita berhadapan dengan peristiwa yang bagi kita menyakitkan dan mengesalkan, kita harus kembali ke fikiran kita, jika ternyata yang ada di pikiran kita adalah sesuatu yang negatif, maka fenomena itu akan benar-benar menjadi penghalang bagi kita. Namun jika kita berfikiran positif dan menganggapnya sebagai sebuah kesempatan, lalu kita bertanya pada diri kita sendiri, “bagaimana aku bisa mengambil manfaat dari kesempatan ini?”, maka yang akan terjadi adalah sebaliknya. Dengan demikian seseorang yang biasanya jatuh terpukul dalam menghadapi masalah akan berubah menjadi seorang jawara yang siap menghadapi dan menyelesaikannya.[2]

Tahapan kedeleapan, membiasakan diri untuk menciptakan percakapan yang positif dan baik. Dalam mengontrol tekanan jwia, ada pentingnya kita memahami perbedaan antara percakapan yang baik yang dapat menyelesaikan masalah dengan percakapan yang buruk yang hanya akan memperunyam masalah. Percakapan yang tidak baik akan terus menambah beban derita tekanan jiwa. Namun percakapan yang baik dan positif akan berujung pada sebuah jalan penyelesaian masalah. Sebagian orang banyak yag terus menerus menyiksa diri sendiri dengan tidak pernah berhenti berfikiran negatif. Dalam percakapan yang baik dan positif, seseorang akan bertanya pada dirinya tentang krisis apakah yang sedang terjadi, lalu apa jalan keluarnya?[3]

Tahapan kesembilan, terus maju. Hendaknya kita memahami nilai-nilai dan jati diri kita sendiri. Berusaha mengambil pelajaran dari segala peristiwa dan pengalaman apapun serta terus berusaha untuk menjadi yang terbaik.

Tahapan kesepuluh, bertanggung jawab. Terimalah konsekwensi pemikiran diri anda sendiri dan saat anda mengalami kegagalan, janganlah menyalahkan orang lain.

Berdasarkan apa yang dijelaskan Al Qur’an, ada beberapa prinsip yang harus digenggam erat dalam rangka bertafakur:

Prinsip pertama, percaya bahwa berjalannya segala urusan ada di tangan-Nya dan dalam pengaturan alam semesta selalu ada campur tangan kekuatan ghaib.

Dalam agama Islam, sumber energi dan gerak adalah Allah swt.[4] Ia adalah pencipta alam semesta dan seluruh penghuninya.[5] Tidak ada satupun peristiwa yang bersifat kebetulan. Dalam ajaran agama ini, kebaikan dan keburukan,[6] harta dan anak keturunan,[7] hidup dan mati,[8] dan segalanya merupakan bahan ujian Tuhan. Oleh karena itu orang yang beriman saat tertimpa musibah berkata “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” (sesungguhnya kami dari Allah dan kepada-Nya kami kembali),[9] karena di  manapun mereka berada, Allah swt. ada bersama mereka,[10] dan bahkan pada manusia Ia lebih dekat dari urat nadi.[11]

Meskipun manusia tidak dapat melihat Tuhan, namun Tuhan melihat dan menyaksikan manusia:

“Sembahlah Allah seakan engkau melihat-Nya, karena meski kamu tidak bisa melihatnya Ia selalu melihatmu.”[12]

Memang benar manusia memiliki ikhtiar dan kehendak. Namun kekuasaan Tuhan meliputi segala keberadaan.

“Katakanlah bahwa tidak ada yang menimpa kami kecuali Allah telah mencatatnya untuk kami. Ia adalah Tuhan kami dan pada Allah orang-orang yang beriman berserah diri.”[13]

Prinsip kedua, yakin bahwa Allah swt. sedang mengawasinya.

Berdasarkan prinsip ini, manusia selalu yakin bahwa ia sedang berada di hadapan dan di bawah pengawasan Tuhan; oleh karenanya harus berhati-hati dalam berbuat.

Prinsip ketiga, sabar dalam kesusaan. Saat tertimpa musibah dan bencana, tidak ada usaha yang lebih baik dilakukan ketimbang bersabar.

Prinsip keempat, meyakini bahwa usaha yang dilakukan manusia tidak terjamin keberhasilannya. Prinsip ini membuat seseorang tidak akan merasakan kesedihan yang mendalam saat tidak berhasil mencapai tujuan pekerjaannya; karena yang terpenting baginya adalah mengerjakan tugas, adapun tujuannya tercapai atau tidak, itu terserah Tuhan.

Prinsip kelima, berserah diri pada Allah swt.

Orang yang bertawakal dan berserah kepada Allah swt. akan benar-benar merasakan perhatian Tuhan dalam hidupnya; meskipun ia mengalami kegagalan, ia akan mengambil hikmahnya dan menganggapnya sebagai kemenangan.[14]

[1] Feshar e Ravani, Cooper, halaman 227 dan 228.

[2] Feshar e Ravani, Cooper, halaman 250 dan 251.

[3] Ibid, halaman 251 – 253.

[4] Al Kahf, ayat 39.

[5] Al Fathihah, ayat 1.

[6] Al Anbiya’, ayat 5 – 35.

[7] At Taghabun, ayat 15.

[8] Al Mulk, ayat 2.

[9] Al Baqarah, ayat 156.

[10] Al Hadid, ayat 4.

[11] Qaaf, ayat 16.

[12] Bihar Al Anwar, Muhammad Baqir Majlisi, jilid 74, halaman 74; Adabus Shalah, Sayid Ruhullah Musawi Khumaini, halaman 38.

[13] At Taubah, ayat 51.

[14] Ushul e Behdasht e Ravani (Prinsip-Prinsip Kesehatan Jiwa), Sayid Abul Qasim Husaini, halaman 91 – 116.