Solusi tekanan jiwa: Perubahan

Salah satu cara menghadapi tekanan jiwa adalah menciptakan sebuah perubahan besar dalam batin dan jiwa kita dalam naungan iman dan kembali kepada Allah swt. Perubahan ini membuat seorang manusia mendapatkan sebuah kekuatan yang tak terbayang dalam dirinya sehingga dengan kekuatan itu ia mampu melewati segala rintangan dan kesusahan yang dihadapinya.

Berkenaan dengan pembahasan ini, dalam Al Qur’an telah disebutkan kisah nabi Musa as. dan para penyihir Fir’aun. Ketika nabi Musa as. melemparkan tongkatnya ke tanah, tongkat itu berubah menjadi ular besar yang menelan semua peralatan-peralatan para sihir Fir’aun, kemudian mereka takjub dan bersujud sambil bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah:

“Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, Tuhan (nya) Musa dan Harun.”

Kemudian Fir’aun marah melihat itu dan berkata:

“Apakah kalian mengimani Musa tanpa seizinku? Sesungguhnya Musa adalah guru kalian. Aku akan menghukum kalian, memotong tangan dan kaki kalian serta menggantung kalian bersama-sama.”

Mereka berkata:

“Kami tidak takut akan kematian, karena setelah mati kami akan kembali kepada Tuhan dan kami berharap Ia mengampuni dosa-dosa kami.”[1]

Perubahan dalam hati para penyihir itu membuat mereka begitu berani bahkan di hadpan ancaman mati Fir’aun. Mereka juga menjawab ancaman Fir’aun dengan berkata:

“Lakukan apapun yang ingin kau lakukan. Engkau hanya mampu menghukum (seenakmu) di dunia saja.”[2]

Istri Fir’aun dengan melihat mukjizat nabi Musa as. dan keimanan para penyihir hatinya mulai berubah. Ia mengimani nabi Musa as. dan bertahan di hadapan ancaman-ancaman Fir’aun. Lalu Fir’aun memerintahkan anak buahnya untuk memaku tangan dan kaki istrinya sendiri dan lalu ditindihkan batu besar di atas dadanya di bawah terik sinar matahari hingga mati.[3] Istrinya menganggap istana Fir’aun adalah sesuatu yang hina dan memohon kepada Allah swt. sebuah istana yang benar-benar megah di surga.

[1] Al A’raf, ayat 109 – 126; As Syu’ara, ayat 33 – 51.

[2] Thaha, ayat 63 – 76.

[3] At Tahrim, ayat 11; Dur Al Mantsur, Suyuthi, jilid 6, halaman 246.