Solusi tekanan jiwa: Mencari makna

Nalar keseimbangan, adalah sebuah teori yang dituarakan oleh Antonovsky pada tahun 1987. Teori itu adalah hasil penelitiaannya yang dilakukan terhadap para mantan pekerja paksa. Ia mendapati beberapa orang di antara mereka, meskipun telah mengalami tekanan dan beban yang berat dalam kesehariannya, namun mereka tetap sehat secara fisik dan psikis.[1]

Victor Francle juga mengadakan penelitian yang sama dan ia berkata:

“Mengapa sebagian orang dari mereka dapat bertahan sedangkan kebanyakan yang lainnya tidak? Mereka yang bertahan hidup adalah orang-orang yang tetap menjaga harapannya untuk tetap hidup di dalam hati meskipun sesusah apapun hari yang harus mereka jalani. Mereka semua sama-sama pernah merasakan kelaparan, kegelisahan, siksaan gaik fisik maupun psikis; namun mereka yang berhasil untuk tetap hidup dapat keluar dari lingkaran siksa itu dan hidup dengan normal selayaknya orang biasa. Menurut mereka, apa yang telah membuat mereka bisa bertahan di hadapan fenomena pembunuhan, pembantaian dan seluruh kejahatan kekejaman rezim Nazi?”

Kemudian Francle mendapatkan jawabannya yang berdasarkan ucapan Neitzche dan ia menyimpulkan:

“Orang yang memiliki alasan dan harapan, akan kuat menjalani segala keadaan.”[2]

Agama Islam memberikan ajaran-ajaran sucinya kepada manusia agar memiliki pandangan dunia yang benar. Orang-orang yang beriman mempercayai akan adanya campur tangan Tuhan dan para malaikat-Nya dalam pengaturan alam semesta. Mereka menerima keadaan apa saja yang menimpa diri mereka dengan tulus. Oleh karena itu para nabi dan orang-orang yang dekat dengan Allah swt. memiliki watak yang tegar dan tangguh. Al Qur’an menyebutkan tentang mereka:

“Mereka adalah orang-orang yang ketika mendengar ada yang memberi kabar: “sekelompok musuh sedang berkumpul untuk menyerang dan memerangi kalian, maka takutlah akan mereka!” Justru iman mereka semakin bertambah dan berkata: “Cukup bagi kami Allah swt. sebagai Tuhan kami dan Ia adalah sebaik-baiknya penolong.”

Dan juga mereka yang berkata “Tuhan kami adalah Allah.”,  lalu mereka bertahan dan bersabar, para malaikat Allah akan membantu mereka. Mereka bukan orang yang takut, dan juga tidak bersedih akan kesusahan.”[3]

Manusia yang memiliki iman, tidak merasa takut akan kekurangan dan kezaliman.[4]

Para wali Allah swt. sama sekali tidak merasakan takut dan kesedihan dalam hati mereka.[5] Saat mereka tertimpa musibah, mereka mengucapkan “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” (sesungguhnya kami dari Allah swt. dan kepada-Nya lah kami kembali).[6] Dalam pandangan Islam, Allah swt. akan meberikan ganti dan balasan di dunia dan akherat. Namun bagi orang-orang materealis, mereka tidak mempercayai adalnya balasan. Oleh karena itu para pemburu dunia lebih sering mengalami tekanan jiwa dan keputus asaan dan betapa banyak di antara mereka yang sampai berani bunuh diri.[7]

Jadi, dalam masalah menentukan tujuan dan mencari makna, dapat dikatakan bahwa orang yang beriman tidak akan berhadapan dengan jalan buntu dalam hidupnya, mereka lebih fleksibel dalam setiap keadaan, karena mereka menganggap kehidupan di alam ini hanya sebatas pembuka untuk kehidupan di surga yang penuh keridhaan Ilahi.

[1] Naqsh e Din dar Behdasht e Ravan, sebuah makalah oleh Mas’ud Azarbaijani, halaman 37.

[2] Ensan dar Jostojuye Mana (Manusia dalam mencari makna), Victor Francle, halaman 45; Feshar e Ravani va Ezterab (Stres dan Depresi), Povel, halaman 168 – 176.

[3] Al Fushilat, ayat 30; Al Ahqaf, ayat 13.

[4] Al Jinn, ayat 13.

[5] Yunus, ayat 63.

[6] Al Baqarah, ayat 156.

[7] Islam va Ravanshenashi, Mahmud Bustani, halaman 193.