Solusi tekanan jiwa: harapan dan iman

Bergson pernah menulis: “Untuk menghadapi hantaman-hantaman penuh bahaya dalam kehidupan ini, kita memerlukan sandaran ruhani.”[1] Maueice Toesca mengungkapkan penyesalannya akan kurangnya penyandaran jiwa dan penghinaan terhadap etika dan moral, warisan-warisan besar dunia sepert nabi Muhammad saw., nabi Isa as., dan pemikir-pemikir besar seperti Plato, Konfusius, dan Budha, serta para filsuf besar setelah mereka. Ia berkata:

“Aturan-aturan moral dan spiritual yang selama ini dianggap remeh dan hina, serta dianggap sebagai pola pikir terbelakang, tabu, tradisi kuno, dan lain sebagainya, padahal pada hakikatnya merupakan lentera petunjuk yang dapat menerangi jalan utama kehidupan manusia. Meskipun secara sekilas aturan-aturan itu tampak mengekang dan berat, namun tujuan-tujuan di balik itu adalah terjaminya kenyamanan dan keamanan bagi kita sendiri…”[2]

Ketika rasa takut yang dahsyat telah meliputi jiwa seorang manusia, satu-satunya upaya terbaik yang dapat dilakukan untuk menghadapinya adalah percaya diri dan iman. Dengan bersandar pada iman kita dapat melewati detik-detik seberat dan seperti apapun menakutkannya.

Pada perang dunia kedua, seorang prajurit terpisah dari kelompoknya. Ia tesesat dalam hutan lebat yang gelap dalam keadaan sendirian. Setiap ia melangkahkan kakinya, saat itu juga ia merasa ada musuh yang bersembunyi di balik pepohonan yang siap menghujaninya dengan tembakan kapan saja. Ia gugup bergetar dan ketakutan sampai ia tidak mampu berjalan. Namun tak lama kemudian, ia merenungi ketakutannya hingga ia menyadari untuk apa ia harus takut. Lalu dengan keras ia berteriak: “Tuhan bersamaku! Aku tidak perlu takut.” Lalu tiba-tiba ia kehilangan rasa takut tersebut karena berhasil mengalahkannya.”[3]

Ketika kita yakin bahwa ada kekuatan yang maha besar ada dalam hidup kita (yaitu Tuhan), maka pikiran-pikiran batil akan lenyap dari benak kita dan begitu juga rasa takut tak lagi menghantui diri kita. Dalam Al Qur’an disebutkan:

“Orang-orang yang beriman dan tidak menodai iman mereka dengan kezaliman, mereka adalah orang-orang yang bagi merekalah keamanan dan mereka termasuk orang-orang yang mendapatkan petunjuk.”[4]

Ayat ini adalah ayat yang paling jelas maknanya berkenaan dengan ketenangan jiwa. Untuk memahami lebih dalam akan makna ayat tersebut, kita perlu memperhatikan beberapa poin penting di bawh ini:

  1. Dari segi sastra Arab, dalam ayat di atas terdapat berbagai penekanan. Jumlah ismiyah yang berbunyi lahumul amnu (bagi merekalah keamanan) adalah khabar bagi ulaika (mereka) dan keseluruhan jumlah ismiyah tersebut adalah khabar bagi alladzina amanu; lalu kata wa hum muhtadun (dan mereka termasuk orang-orang yang mendapatkan petunjuk) sebagai ‘atf bagi kata lahumul amnu (bagi merekalah keamanan) menunjukkan kepada kita bahwa keamanan dan petunjuk tidak akan diberikan kecuali kepada orang-orang yang beriman.
  2. Ketenangan dan petunjuk adalah buah hasil dari keimanan, dengan syarat keimanan itu tidak dinodai dengan kezaliman. Kata labs memiliki arti “menutupi” dan “menyelubungi”. Ayat di atas mengisyarahkan kepada kita bahwa kezaliman tidak membinasakan dan minadakan fitrah, tapi hanya menutupi dan menjadi tabir yang menghalangi baginya, dan dengan demikian suara-suara fitrah tidak lagi dapat terdengar.
  3. Kata dzulm dalam ayat tersebut berupa nakirah fi siyaqi nafsi, dan menunjukkan keumuman, namun dengan adanya qarinah siyaq, maksudnya adalah kezaliman yang memberikan dampak buruk pada iman. Kezaliman juga memiliki tingkatan-tingkatan sebagaimana iman. Setiap tingkatan kezaliman adalah lawan dari tingkatan iman. Oleh karena itu keamanan dan petunjuk juga memiliki tingkatan-tingkatan. Ketika iman seseorang semakin tinggi, derajat keamanan dan petunjuk baginya juga semakin tinggi.[5]

Dalam analisa psikologis, tentang iman kita harus mengingat beberapa hal: orang yang memiliki iman terhadap Tuhan merasa bahwa segala urusannya berada di bawah pengaturan tangan Tuhan; ia meyakini Tuhan sebagai pemberi rizki dan dzat yang maha kuat yang sebenarnya; ia menganggap kesedihan dan kegembiraan adalah ujian yang diturunkan oleh Tuhan; kesehatan, keselamatan dan taufik untuk mengikuti petunjuk yang benar bagi orang yang beriman adalah bentuk kasih sayang Tuhan; dan yang paling menakjubkan di antara semua itu, ia menganggap Tuhan sebagai pelindung terbesar baginya. Dalam Al Qur’an disebutkan:

“Sesungguhnya shalatku, ketaatanku, hidup dan matiku adalah untuk Allah Tuhan semesta alam.”[6]

“Sesungguhnya Allah lah sang pemberi rizki dan pemilik kekuatan yang dahsyat.”[7]

“Tidak ada satu pun makhluk hidup yang berjalan di muka bumi kecuali Allah-lah yang memberi rizki kepadanya.”[8]

Orang yang beriman meyakini bahwa kematian adalah hal yang pasti bagi semua orang: “Setiap yang hidup pasti akan merasakan mati.”[9] Tak satupun ada yang bisa lari dari kematian[10] dan panjang atau pendeknya umur seseorang sudah ada dalam catatan Tuhan.[11] Oleh karena itu tak selayaknya orang yang beriman berputus asa akan rahmat Allah swt. dalam setiap keadaan[12] dan merasa saat memohon kepada Tuhannya maka doa dan permohonannya akan dikabulkan.[13] Kesedihan dan kebahagiaan adalah cobaan dari Tuhan:

“Allah adalah dzat yang membuat (hambanya) tertawa dan menangis.”[14]

“Dialah yang memberiku makan dan minu, dan saat aku sakit Ia lah yang menyembuhkan.”[15]

“Sesungguhnya Allah akan membela dan melindungi orang yang beriman.”[16]

Keyakinan-keyakinan seperti ini membuat orang yang beriman menjadi yakin dan tak kehilangan harapan. Oleh karena itu mereka selalu bertawakal kepada Allah swt. Karena mereka tahu bahwa:

“Dan barang siapa bertawakal dan berserah kepada Allah, maka cukuplah Allah baginya.”[17]

“Tidakkah Allah itu cukup untuk hamba-Nya?”[18]

Jika orang yang seperti ini dan memiliki iman yang begini tidak mendapatkan ketenangan, maka tak diragukan lagi bahwa keimanannya telah ternodai dengan kezaliman. Semakin iman tertutupi debu kezaliman, dengan kadar itu jugalah ia kehilangan ketenangan dan petunjuk.

[1] Din va Ceshmandazihaye Nov, Legenhausen, halaman 162.

[2] Estress e Daemi (Stres Berkepanjangan), Pierre Lou & Hendri Lou, halaman 221 dan 222.

[3] Ruh va Aramesh e Darun (Jiwa dan Ketenangannya), Jerf Morfi, halaman 142 – 145.

[4] Al An’am, ayat 82.

[5] Tafsir Al Mizan, Sayid Muhammad Husain Thabathabai, jilid 7, halaman 199 – 215.

[6] Al An’am, ayat 162.

[7] Ad Dzariyat, ayat 58.

[8] Huud, ayat 6.

[9] An Najm, ayat 43 dan 44.

[10] Al Ahzab, ayat 16; Al Jumu’ah, ayat 5: “Katakanlah: “Tidak berguna bagimu untuk lari.”

[11] Al Fathir, ayat 11: “Tidak ada seorang pun yang diberi umur panjang atau yang umurnya dikurangi kecuali telah dicatatkan dalam al kitab.

[12] Az Zumar, ayat 53: “Janganlah kalian berputus asa akan rahmat Allah.”

[13] Al Anbiya’, ayat 87 – 89: “Maka kami mengabulkan untuknya.”

[14] An Najm, ayat 42.

[15] As Syu’ara, ayat 80.

[16] Al Hajj, ayat 38.

[17] At Thalaq, ayat 3.

[18] Az Zumar, ayat 36.