Mengukur tekanan jiwa

Untuk mengukur tekanan jiwa, seringkali faktor yang menjadi bahan penyelidikan, yang mana itu tidak benar. Mungkin saja seseorang biasa-biasa saja dalam menghadapi sebuah peristiwa, namun tidak begitu dengan orang lainnya. Oleh karena itu cara yang paling baik dalam mengukur tekanan jiwa adalah memeriksa perubahan-perubahan yang nampak pada badan, karena pada dasarnya tekanan jiwa sama seperti virus atau bakteri yang menyebabkan perubahan pada tubuh. Misalnya saat bakteri memasuki tubuh, sistim pertahan tubuh akan menciptakan antibody agar badan mendapatkan kekebalan.[1]

Tanda-tanda yang menunjukkan tekanan jiwa tidak terhitung jumlahnya dan itupun berbeda-beda antara satu orang dengan orang lainnya. Tapi kita dapat menyebutkan beberapa diantaranya. Tubuh bukanlah alat untuk mengukur tekanan jiwa; tapi nyatanya tubuh bagaikan cermin yang menggambarkan tekanan dalam jiwa. Tanda-tanda fisiologis tekanan jiwa diantaranya seperti kejang otot yang sering dirasakan saat meluruskan tenggorokan, bersin-bersin, mulut yang kering, rasa nyeri, gangguan pencernaan, badan terasa tergores-gores, merasa ada yang bengkak, duduk terbungkuk, kaki yang terseret-seret saat berjalan, berdiri yang tak tegap, dan lain sebagainya. Prilaku dan perasaan juga menjadi indikator penting tekanan jiwa.

Beberapa pertanda tekanan jiwa yang dapat dilihat dari prilaku dan perasaan seseorang seperti:

  1. Bermasalah dalam berfikir benar dan logis serta tidak mampu melihat berbagai sisi dari suatu permasalahan.
  2. Tidak fleksibel dalam berpandangan dan berpemikiran.
  3. Agresif tidak pada tempatnya dan mudah tersinggung.
  4. Suka menyendiri dan menjauh dari kerabat.
  5. Berlebihan dalam menghisap rokok, makan dan minum.
  6. Cenderung berjalang dengan cepat, dalam berbicara, dan bahkan dalam bernafas.
  7. Tidak mampu menjaga ketenangan diri sendiri.
  8. Berprilaku kacau; misalnya seseorang yang biasanya rapi dan bersih, karena mengalami tekanan jiwa menjadi jorok dan tidak teratur.
  9. Suka bingung dan berfikir berkali-kali mengenai sesuatu.
  10. Keadaan-keadaan aneh seperti tiba-tiba marah atau gembira, tertekan atau beraktifitas melampaui batas.

Pertanda-pertanda di atas sama seperti indikasi-indikasi fisiologis dalam mengukur tekanan jiwa.

Salah satu kemiripan antara tekanan fisik dan tekanan psikis adalah, dari segi fisikal, seseorang cenderung lesu dan menderita disertai dengan munculnya berbagai penyakit serius dan dari segi kejiwaan ia disertai dengan perasaan lemah dan lelah.[2]

[1] Feshar e Ravani (Tekanan Jiwa), Martin C., halaman 43 & 49.

[2] Feshar e Ravani (Tekanan Jiwa), Martin C., halaman 43 – 47; Feshar e Ravani (Tekanan Jiwa), Copper, halaman 16.