Manusia membutuhkan rasa aman

Makna kebutuhan manusia akan kemanan adalah, karena manusia mencintai dirinya, ingin hidupnya berkelanjutan, secara alamiah ia begitu peka terhadap segala hal yang bertentangan dengan kenyamanan dan keberlangsungan hidupnya. Beberapa contoh prilaku manusia yang bersumber dari dorongan ini adalah:

  • Membenci rasa sakit dan selalu menghindar dari bahaya

Salah satu hal yang begitu menonjol dalam kehidupan adalah derita dan rasa sakit. Keberadaan insting inilah yang membuat tubuh manusia selalu terjaga. Rasa sakit merupakan suatu peringatan yang menunjukkan bahwa badan sedang berada dalam kondisi yang buruk. Banyak penyakit yang merupakan pertanda bahaya, dan jika penyakit-penyakit tertentu itu muncul, maka secepatnya harus merujuk ke dokter. Namun sebagian kalangan menyangkal pengertian ini dengan dalih banyaknya orang yang dengan mudah melakukan aksi bunuh diri. Namun sangkalan mereka tidak benar, karena pada dasarnya aksi bunuh diri terkadang disebabkan rasa putus asa akan pemenuhan kebutuhan dan bunuh diri menjadi salah satu bentuk rasa butuh terhadap kehidupan. Masalah ini juga berlaku pada aksi-aksi serangan bunuh diri yang dilakukan oleh pejuang-pejuang. Aksi tersebut tidak bertentangan dengan naluri manusia yang cenderung memilih kehidupan, namun dikarenakan alasan lain di balik kesyahidan, yaitu digapainya kebahagiaan abadi.[1]

Dalam buku-buku terpercaya di bidang psikologi sering ditemukan istilah-istilah seperti “obat iman” atau “psikoterapi keagamaan”. Hal ini membuktikan diterimanya konsep relasi antara iman dan kesehatan jiwa. Islam menuntun kita untuk menyikapi penyakit dengan sikap-sikap yang mulia. Di antara ajaran-ajaran itu adalah:

  • Berfikiran positif

Islam sangat mementingkan terjaganya kesehatan dan keselamatan serta menyebutnya sebagai kewajiban. Dalam riwayat disebutkan bahwa pada suatu hari Imam Ali as. yang disaksikan oleh kedua anak maksumnya, Imam Hasan as. dan Imam Husain as., pergi berobat ke tabib non-Muslim. Fakta ini membuktikan betapa pentingnya kesehatan. Islam juga menekankan kita untuk selalu berfikiran positif dan tidak terlalu merisaukan  penyakit agar beban derita yang dirasakan tidak terlalu berat. Islam memberikan berbagai ajaran mulianya agar kita dapat berfikiran positif saat tertimpa penyakit:

  • Islam menekankan kita untuk memperkuat keyakinan bahwa kekuatan Allah swt. sama sekali tidak terbatas dan berada di atas hukum kausalitas alam semesta.
  • Penyakit yang dirita adalah peruntuh dosa-dosa, sebab diberikannya pahala oleh Allah swt dan bentuk perhatian khusus terhadap seorang hamba.[2] Disebutkan bahwa pahala seorang mukmin yang sakit dan tidak bisa tidur semalaman lebih dari pahala ibadah selama setahun.[3] Disebutkan pula bahwa doa orang-orang beriman yang sakit bagaikan doa-doa para malaikat yang mudah dijiabahi.[4]
  • Islam menganggap Allah swt. sebagai sang tabib yang sebenarnya, adapun tabib dan dokter adalah perantara-Nya. Ajaran ini terbukti dapat menciptakan ketenangan jiwa dalam diri seorang pasien. Seorang pasien yang berfikiran sedemikian rupa akan kehilangan rasa khawatir yang berlebihan. Inilah yang pernah diucapkan oleh nabi Ibrahim as.: “Jikalau aku sakit, Ia-lah yang menyembuhkanku.”[5]
  • Meningkatkan spiritualitas

Sholat dan berdoa merupakan jalan terbaik dalam meningkatkan spiritualitas. Dalam keadaan shalat dan berdoa, seorang yang beriman akan menikmati kekuatan nirbatas Allah swt. dan lupa akan sakit yang didertianya. Oleh karena itulah saat Imam Ali as. melakukan shalat dan anak panah dicabut dari tubuhnya ia tidak merasakan sakit. Satu lagi jalan yang terbaik adalah melakukan upacara peribadatan secara bersama-sama.

  • Menghindari obat-obatan

Salah satu metode menarik yang juga diajarkan Islam adalah membiarkan penyakit dan menghindar dari obat-obatan. Pada metode ini kita diajarkan untuk bersahabat dengan penyakit yang kita derita. Karena mengkonsumsi obat-obatan bagaikan menyayat diri sendiri dengan pisau bermata dua; karena obat selain menghilangkan penyakit, ia juga memberikan efek-efek tertentu pada sel-sel tubuh. Para Imam Maksum as. berkata:

“Tidak ada satupun obat yang tidak akan menimbulkan penyakit lainnya.”[6]

  • Perhatian sosial

Pada penyakit-penyakit kronis, perlindungan sosial terhadap penderita dan keluarganya sangatlah penting. Oleh karena itu Islam sangat menekankan kita untuk menengok orang yang sakit dan menyebutnya sebagai hak-hak Muslimin.[7] Rasulullah saw. selalu bergegas untuk menjenguk sahabat-sahabatnya yang sakit meskipun jarak yang harus ditempuh begitu jauh.[8] Banyak adab-adab menjenguk yang diajarkan, seperti berniat ikhlas, memberikan harapan-harapan positif kepada penderita, dan juga membawakan sesuatu sebagai pemberian. Dengan jengukan sesama, penderita akan:

  • Merasa mulia dan tidak diabaikan oleh masyarakat sekitarnya.
  • Haus kasih sayang yang ia rasa akan terpenuhi yang mana hal itu akan memberikan ketenangan jiwa padanya.
  • Saat dapat melihat sanak saudara dan kerabat ia akan merasakan kenyamanan.
  • Mencari keamanan dan kestabilan

Abraham Maslow berkata:

“Saat kebutuhan-kebutuhan fisiologis manusia terpenuhi, maka di sana akan terdapat kebutuhan-kebutuhan yang berkisar pada masalah keamanan jiwa manusia. Ciri-ciri terpenuhinya kebutuhan akan keamanan ini seperti: merasa aman, stabil, bebas dari rasa takut dan kekhawatiran, keteraturan, keterbasan, merasa memiliki posisi yang menyenangkan, dan…”[9]

Jadi, berdasarkan yang ia katakan, ciri-ciri ketidakamanan adalah:

  1. Merasa terusir
  2. Merasa kesepian
  3. Merasa ketakutan
  4. Kegoncangan dan perasaan berada dalam bahaya
  5. Berpandangan negatif kepada banyak orang
  6. Tidak percaya diri
  7. Pesimis terhadap diri sendiri
  8. Cenderung tidak puas akan diri dan lingkungannya
  9. Merasa tertekan, tidak semangat dan kelelahan
  10. Cenderung mencari-cari aib dan kesalahan
  11. Merasa malu dan putus asa
  12. Gangguan dalam sistim perasa, suka mencari kedudukan
  13. Dorongan yang berlebihan untuk mendapat keamanan
  14. Hanya memikirkan diri sendiri (egois)

Ciri-ciri yang pertama sampai ketiga adalah ciri-ciri utama. Sedangkan yang lainnya adalah ciri-ciri sampingan.

Dalam doa Makarimul Akhlak, Imam Sajjad as. memberikan isyarah-isyarahnya mengenai kesehatan jiwa:

“Ya Allah, haturkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya. Rubahlah kebencian musuh-musuhku terhadapku menjadi kecintaan. Rubahlah hasud para penyeleweng menjadi persahabatan. Rubahlah prasangka buruk orang-orang yang soleh menjadi prasangka baik dan kepercayaan. Rubahlah permusuhan kerabat-kerabat menjadi kecintaan. Rubahlah maksiat dan keburukan mereka menjadi kebaikan dan amal saleh. Rubahlah sifat suka menghina mereka menjadi sifat suka menolong. Jadikanlah kecintaan berpura-pura orang yang munafik menjadi kecintaan yang sebenarnya. Rubahlah sifat-sifat buruk para penebar syubhat menjadi sifat baik. Dan rubahlah rasa takut menjadi rasa aman.[10]

Tidak hanya dalam doa di atas saja beliau mengisyarahkan rasa butuh manusia terhadap keamanan. Pada kelanjutan doa di atas disebutkan:

“Ya Allah, sampaikanlah shalawat kepada Rasulullah. Berikanlah kekuatan kepadaku untuk menghadapi orang-orang yang menzalimiku. Berilah kelancaran berbicara padaku untuk menghadapi orang-orang yang suka mendebatku. Berilah kemenangan padaku saat ada yang memusuhiku. Berilah pertolongan padaku dalam menghadapi tipu daya dan musliha musuh-musuhku. Berilah kekuatan untuk melawan orang-orang yang zalim. Berilah kekuatan untuk menghadapi orang-orang yang iri padaku. Berikanlah keamanan kepadaku saat musuh-musuhku menakutiku. Juga berilah daku taufik untuk mengikuti orang-orang yang memberikan petunjuk kepadaku dan mengarahkanku pada jalan yang benar.”[11]

Jika kita lihat, kebanyakan apa yang diucapkan beliau dalam doanya di atas berhubungan dengan butuhnya seorang manusia akan keamanan.

Namun perlu diingatkan di sini bahwa pandangan Islam mengenai kebutuhan akan keamanan berbeda dengan pandangan kaum materialisme. Menurut mereka tercapainya keamanan adalah tujuan, tetapi menurut Islam tercapainya keamanan adalah perantara yang dapat mengantarkan manusia kepada tujuan yang lebih tinggi, yaitu menjadi khalifah Allah swt. di muka bumi; karena tanpa mendapatkan keamanan, manusia tidak akan mampu menjalankan tugas-tugas penghambaannya. Garis kesimpulan dari perbedaan keduanya juga dapat dijelaskan seperti ini: Ketika seorang materialis tidak dapat meraih keamanan, baginya itu berarti sama dengan kehilangan keseimbangan mental dan punahnya makna hidup, karena baginya hidup hanya terbatas pada dunia ini saja. Namun bagi orang yang beriman tidaklah seperti itu. Segala kesusahan dan tekanan-tekanan yang dialami di dunia ini akan digantikan dengan balasan dan pahala-pahala ukhrawi, dan kehidupan di dunia hanya sekedar jembatan untuk sampai pada kehidupan kekal abadi di akherat. Oleh karena itu kita dapat melihat bahwa orang-orang yang hanya bertujuan untuk hidup di dunia ini saja, mereka akan menghalalkan segala cara untuk meraih cita-citanya. Para Imam Maksum as. berkata mengenai hal ini:

“Kecintaan terhadap dunia adalah pangkal setiap kesalahan.”[12]

  • Aturan dan keteraturan

Setiap saat keteraturan sosial dalam sebuah masyarakat terancam, mungkin pada waktu itu juga kebutuhan akan keamanan menjadi sangat urgent. Pada saat itulah rasa takut akan kehancuran membuat manusia benar-benar haus akan keamanan. Menurut para peneliti, pada kondisi aturan dan keteraturan, masyarakat akan mudah menerima diktatorisme atau pemerintahan militer; dan itu adalah biasa. Pernyataan ini berlaku bagi semua manusia, bahkan manusia-manusia yang sehat.[13]

Pada dasarnya, faktor kebutuhan manusia akan anturan dan keteraturan yang sebenarnya adalah kebermasyarakatan manusia. Ketidakberaturan dalam masyarakat akan menimbulkan keributan dan berbagai gangguan yang mana itu semua akan merusak ketentraman dan keamanan. Aturan memang membatasi kebebasan manusia, dan Tuhan serta naluri manusia itu sendiri yang menuntut keberadaannya. Sesungguhnya penyalahan aturan sampai kapanpun tidak memberikan keuntungan pada masyarakat.[14]

Menurut ajaran Islam, keteraturan adalah salah satu dari prinsip-prinsip kesehatan jiwa. Imam Ali as. dalam sebuah wasiatnya berkata:

“Aku mewasiatkan kepada kalian akan ketaqwaan dan keteraturan dalam urusan-urusan kalian.”[15]

Al Qur’an begitu banyak berbicara mengenai keberaturan dan peraturan:

“Kami telah mengutus utusan-utusan Kami dengan dalil yang jelas. Kami menurunkan kitab-kitab langit bersama mereka dan timbangan (pengukur kebenaran dan kebatilan) agar umat manusia mendirikan keadilan. Dan Kami telah menurunkan besi yang mana padanya terdapat kekuatan yang sangat dan bermanfaat bagi manusia.”[16]

Maksud timbangan dalam ayat di atas adalah aturan-aturan Tuhan yang merupakan tolak ukur nilai-nilai kebaikan dan keburukan. Adapun “besi” merupakan tanda jaminan dijalankannya aturan. Allah swt. juga berfirman:

“Dan Ia menurunkan kitab langit bersama mereka agar mereka (para utusan) menghukumi (memberikan solusi) dalam apa-apa yang mereka berikhtilaf mengenainya.”[17]

Mengenai masalah keteraturan dan aturan, Islam memberikan ajaran-ajarannya yang diantaranya adalah:

  1. Memperhatikan kebutuhan-kebutuhan manusia secara keseluruhan.
  2. Menganjurkan kita menghindar dari perkara-perkara yang tak penting. Imam Ali as. di sini berkata: “Orang yang menyibukkan dirinya dengan perkara-perkara yang tidak penting akan tercegah untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang penting.”[18]
  3. Memperhatikan segi hubungan antara manusia dengan Tuhan.
  4. Pemenuhan kebutuhan-kebutuhan penting dalam kehidupan.
  5. Menyalurkan kesenangan dan kegembiraan di jalan-jalan yang legal.[19]
  6. Sedang-sedang saja dan tidak berlebihan.[20]
  7. Terselesaikannya semua urusan-urusan yang perlu (yang mudah tidak gugur karena yang susah).[21]

[1] Ali Imran, ayat 169.

[2] Bihar Al Anwar, Muhammad Baqir Majlisi, jilid 78, halaman 185 dan 184.

[3] Ibid, jilid 78, halaman 186.

[4] Ibid, halaman 219.

[5] As Syu’ara, ayat 80; Bihar Al Anwar, Muhammad Baqir Majlisi, jilid 92, halaman 10, 23, 33 dan 314.

[6] Bihar Al Anwar, Muhammad Baqir Majlisi, jilid 62, halaman 62 – 70.

[7] Ibid, jilid 71, halaman 236.

[8] Ibid, jilid 16, halaman 228.

[9] Behdasht e Ravani (Kesehatan Jiwa), Shamlou, halaman 136 – 146.

[10] Shahifah Sajjadiyah, doa 20, Makarimul Akhlak.

[11] Shahifah Sajjadiyah, doa 20, Makarimul Akhlak.

[12] Bihar Al Anwar, Muhammad Baqir Majlisi, jilid 73, halaman 7.

[13] Anggize va Syakhsiyat (Motifasi dan Kepribadian), Abraham Maslow, halaman 79.

[14] Tafsir Al Mizan, Sayid Muhammad Husain Thabathabai, jilid 11, halaman 107 – 109.

[15] Nahjul Balaghah, surat ke-47.

[16] Al Hadid, ayat 25.

[17] Al Baqarah, ayat 213.

[18] Ghurarul Hikam wa Durarul Kalim, Abdul Wahid Amadi.

[19] Tuhaful Uqul, Ibnu Syu’bah, halaman 11.

[20] Al Baqarah, ayat 143: “Dan begitulah kami menjadikan kalian umat yang di tengah (berada pada keseimbangan).”

[21] Kifayatul Ushul, Akhund e Khurasani, jilid 2, halaman 249.