Manusia butuh ilmu dan pengetahuan

Abraham Maslow memaparkan masalah kebutuhan manusia terhadap pengetahuan dalam pembahasan aktualisasi diri dengan sudut pandang yang lebih luas. Ia berkata:

“Pada tingkatan yang paling tinggi, manusia membutuhkan ilmu pengetahuan dan makrifat untuk memenuhi rasa keingintahuannya. Sejarah umat manusia telah memberikan contoh terbaik untuk kita. Umat manusia di hadapan bahaya-bahaya besar kehidupan, seperti halnya kematian, selalu mencari dan bertanya-tanya akan hakikat sebenarnya, mereka tertarik pada fenomena-fenomena misterius yang tak diketahui, namun di hadapan hal-hal yang sudah diketahui, mereka menunjukkan reaksi kebosanan. Kebosanan dan rasa benci pada diri sendiri semacam ini sering didapati pada golongan orang-orang cerdas namun tidak memiliki aktifitas-aktifitas yang menantang mereka untuk maju. Kita sering menemukan perempuan-perempuan berpotensi dan cerdas yang tidak memiliki pekerjaan, lalu lambat laun tanda-tanda kebosanan dan kebencian terhadap diri ini muncul pada mereka. Dengan penjelasan lain, kita selalu bosan dengan sesuatu yang sudah kuno. Hal-hal yang sebelumnya dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan kita, dengan cepat sifat pemenuhan kebutuhan yang ada padanya sirna. Hal penting yang perlu diingat di sini adalah memisahkan kebutuhan-kebutuhan pengetahuan dan kebutuhan-kebutuhan aksi, karena kecenderungan pada pengetahuan pada dasarnya mencakup kecenderungan aksi.”[1]

Dalam agama Islam diyakini bahwa pahala orang yang mati dalam keadaan menuntut ilmu adalah pahala orang yang mati syahid:

“Jika kematian datang pada seorang penuntut ilmu, dan ia berada dalam keadaan ini, maka ia mati seperti matinya orang yang syahid.”[2]

“Seorang yang alim berada pada satu tingkatan lebih tinggi dari seorang syahid. Seorang syahid berada satu tingkatan lebih tinggi daripada seorang abid (penyembah). Tingkatan seorang alim jika dibandingkan dengan tingkatan semua makhluk di alam semesta seperti tingkatanku jika dibanding dengan yang paling rendah di antara mereka.”[3]

“Di hari kiamat kelak ada tiga kelompok yang dapat memberikan syafaat: para nabi, para ulama dan para syuhada.”[4]

Ayat pertama yang diturunkan kepada Rasulullah saw. adalah ayat yang berkenaan dengan ilmu dan pena.[5] Setelah berbicara tentang nikmat penciptaan, Allah swt. berbicara tentang ilmu.[6] Dalam Al Qur’an juga disebutkan bahwa para malaikat bersujud di hadapan nabi Adam as. setelah Allah swt. mengajarkan asma (nama-nama) kepadanya.[7] Kedudukan ilmu dalam Islam begitu tingginya sehingga Allah swt. memerintahkan nabi-Nya untuk berkata:

“Tuhanku, tambahkan ilmu padaku.”[8]

Nabi Musa as. Meskipun beliau adalah seorang nabi, tidak enggan memohon kepada nabi Khidir as. Untuk menjadi muridnya. Perbincangan kedua nabi dalam Al Qur’an disebutkan seperti ini:

“Apakah aku boleh mengikutimu agar engkau memberiku pengetahuan dari ilmu landunni-mu?”[9]

Kata rusyda dalam ucapan nabi Musa as. menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan merupakan perantara untuk berkembang dan sempurnanya manusia, bukan tujuan. Nabi Ibrahim as. dengan derajat kemuliaan yang ia miliki, untuk mendapatkan keyakinan yang lebih kuat, ia memohon kepada Allah swt. untuk menyaksikan bagaiamana Ia menghidupkan mahkluk yang telah mati.[10] Ini menunjukkan bahwa seorang nabi pun, setelah mencapai derajat kemuliaan tertinggi, ia tetap berusaha mencapai derajat yang lebih tinggi lagi, yaitu pengetahuan dan ketenangan jiwa yang dihasilkan olehnya; yakni keyakinan memiliki berbagai tingkatan, dan dalam ayat di atas nabi Ibrahim as. berusaha untuk mencapai tingkatan tertingginya.

Ketika para nabi mencapai derajat tinggi ilmu ladunni, mereka melihat ketenangan jiwa mereka ada pada kelanjutan pemahaman yang lebih tinggi. Pada saat itulah kewajiban manusia, sebagai makhluk yang tidak mengetahui apa-apa selain sedikit saja, menjadi jelas.[11] Contoh yang ditunjukkan dalam Al Qur’an berkenaan dengan rasa keingintahuan, adalah kisah Dzulqarnain. Setelah semua hal yang dibutuhkan telah tersedia—“dan Kami telah memberinya segala sesuatu sebagai wasilah dan perantara”—ia memulai perjalanannya menuju timur dan barat. Kisah bendungan Ya’juj dan Ma’juj menunjukkan jiwa Dzulqarnain yang pantang meneyerah dan selalu ingin tahu. Jika seandainya wasilah dan segala hal yang dibutuhkan oleh Dzulqarnain waktu itu deberikan kepada orang lain, belum tentu orang tersebut akan bangkit dan melakukan perjalanan ke barat dan timur seperti yang telah dilakukan oleh Dzulqarnain.[12]

[1] Anggize va Syakhsiyat (Motifasi dan Kepribadian), Abraham Maslow, halaman 85 – 89.

[2] Safinatul Bihar, Syaikh Abbas Qumi, jilid 1, kata Syahada.

[3] Tafsir Majma’ul Bayan, Abu Ali Fadhl bin Hasan Thabrasi, jilid 9, halaman 235.

[4] Ali ibn Jum’ah Arusi Huwaizi, Ruhul Ma’ani, jilid 28, halaman 26.

[5] Al Alaq, ayat 4 dan 5: “Tuhan yang telah memberi tahu (mengajari) manusia dengan pena. Memberi tahu apa yang belum diketahui (oleh manusia).”

[6] Ar Rahman, ayat 3 dan 4: “Dia menciptakan manusia. Menjadikannya pandai berbicara.”

[7] Al Baqarah, ayat 31.

[8] Thaha, ayat 114.

[9] Al Kahf, ayat 66.

[10] Al Baqarah, 260: “Agar aku mendapatkan ketenangan dan keyakinan dalam hatiku.”

[11] Al Isra’, ayat 85: “Dan pengetahuan-pengetahuan yang diberikan kepada kalian sungguh sedikit.”

[12] Al Kahf, ayat 83 – 98; Nashir Makarim Syirazi, Tafsir e Nemune, jilid 12, halaman 522 – 523.