Kebutuhan manusia akan ibadah dan penyembahan

Abraham Maslow berkata:

“Kecenderungan pada agama dan falsafah mendunia yang membuat seseorang yakin bahwa alam semesta dan umat manusia yang tinggal di dalamnya adalah sebuah keutuhan yang teratur dan memuaskan, pada kadar tertentu memiliki hubungan dengan kebutuhan manusia akan keamanan. Di sini kita menganggap agama dan falsafah sebagai kebutuhan akan keamanan.”[1]

William James dalam buku Din va Ravan (Agama dan Jiwa) berkata:

“Dalam kebanyakan kitab-kitab suci agama-agama, ada tiga hal yang begitu dipentingkan: qurban atau mempersembahkan tumbal, pengakuan dosa atau taubat, dan yang terakhir doa.”[2]

Pemberian tumbal untuk tuhan-tuhan dapat kita saksikan pada agama-agama primitif manusia.

Salah satu sisi kejiwaan manusia yang paling penting dan dapat dilihat sejak dahulu kala hingga sekarang adalah penyembahan. Penelitian-penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa di manapun dan kapanpun ditemukan manusia, di situ juga ada yang namanya ibadah dan penyembahan, meskipun obyek yang disembah berbeda-beda satu sama lain. Para nabi datang tidak untuk mengajarkan penyembahan kepada umat manusia, namun mereka mengajarkan bagaimana cara menyembah serta menghindarkan manusia dari kesyirikan. Menurut kebanyakan ulama, umat manusia pada mulanya adalah umat yang bertauhid, lalu lambat laun menyimpang dan menjadi musyrik. Naluri untuk menyembah, atau disebut juga naluri beragama, terdapat pada diri setiap manusia.[3]

Enstein setelah mengkategorikan jalan-jalan religius dan agama menjadi tiga kelompok, menerangkan bahwa kelompok ketiga adalah “ajaran eksistensi”. Ia berkata:

“Di jalan ini, dalam diri seseorang akan muncul sedikit percikan spiritualitas di balik perkara-perkara materi yang dihadapinya. Ia akan menganggap dirinya bagaikan sebuah sangkar yang memenjarakannya. Ia ingin terbang dari sangkar itu dan menggapai hakikat alam semesta sebagai satu eksistensi.”[4]

Penelitian seorang psikolog Inggris, Hendri Lang, yang dilakukan terhadap puluhan ribu orang stres dan pelaku kejahatan membuktikan bahwa orang-orang yang memiliki keyakinan pada suatu agama, atau orang-orang yang terikat pada suatu jenis ibadah, memiliki kepribadian manusiawi yang lebih tinggi dan jika dibandingkan dengan orang-orang yang tidak beriman dan tak pernah beribadah, mereka lebih memiliki kemulian.[5]

Para peneliti Pusat Penelitian Psikologi Universitas Saint Louis dalam buku Faktor-Faktor yang Terlupakan dalam Kesehatan Jiwa menulis:

“Orang-orang yang paling tidak seminggu sekali pergi ke gereja, lebih sedikit mengalami gangguan kejiwaan.”[6]

Dalam hal ini Syahid Muthahari juga berkata:

“Berdoa dan beribadah adalah tabib untuk jiwa kita; yakni jika olahraga penting untuk kesehatan kita, jika air bersih penting untuk disediakan di rumah, begitu juga dengan doa dan ibadah. Jika seseorang menyisakan beberapa saat dalam sehari untuk berdoa dan menengadahkan kepalanya kepada Allah swt., betapa hatinya akan menjadi bersih.”[7]

Manusia secara alaminya ketika menghadapi kesusahan ia akan bersandar pada kekuatan supranatural. Dalam Al Qur’an disebutkan bahwa ketika orang-orang telah putus asa pada pertolongan-pertolongan yang bersifat materi, barulah mereka mengingat Tuhan dan meminta pertolongan dari-Nya:

“Dan ketika manusia berada dalam tekanan mara bahaya, saat itu mereka mau berdoa kepada-Ku baik dalam keadaan duduk atau berdiri.”[8]

Dalam pandangan Al Qur’an, tujuan dari penciptaan manusia dan jin adalah ibadah:

“Dan tidaklah Kami menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah pada-Ku.”[9]

Karena ibadah adalah puncak kesempurnaan manusia dan kedekatannya dengan sang Pencipta serta bentuk kepasrahan di hadapan-Nya. Ibadah adalah seorang hamba menyesuaikan dirinya dengan sifat-sifat jamal dan sifat kamal lalu terbang bermi’raj dengan perantara shalat.[10] Imam Ali as. berdoa kepada Allah swt. seperti ini:

“Ya Allah, cukup menjadi kebanggaan bagiku karena aku adalah hamba-Mu dan cukup bagiku merasa mulia karena Engkau-lah Tuhanku.”[11]

Al Qur’an menceritakan kisah pertama kalinya terjadi pembunuhan di muka bumi:

“Saat mereka berdua mempersembahkan korban (berqurban) lalu diterima salah satu dari mereka dan yang lain tidak detirima, lalu (orang yang tidak diterima korbannya) berkata “Aku sungguh akan membunuhmu.”[12]

Dalam ayat di atas diterangkan bahwa penyebab rasa hasud pada diri Qabil adalah tidak diterimanya persembahan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa motivasi pertama kali pembunuhan yang pernah terjadi di dunia ini adalah tidak terpenuhinya kebutuhan beribadah. Kesalahan utama Qabil saat itu adalah, ia lupa bahwa syarat diterimanya peribadatan adalah ketaqwaan, bukan ancaman dan tekanan.[13]

Maslow, dalam buku Ofoqhaye Valatar Az Fetrat e Ensan (Ufuk-Ufuk yang Lebih Tinggi dalam Fitrah Manusia), menjelaskan sekumpulan kebutuhan-kebutuhan naluriah (fitri) manusia yang tinggi. Kebutuhan-kebutuhan fitri tersebut akan muncul setelah terpenuhinya silsilah kebutuhan fisiologis, keamanan, cinta dan kasih sayang, dan aktualisasi diri. Kebutuhan-kebutuhan yang dimaksud adalah:

  1. Kebenaran (kejujuran, hakikat, tiadanya keraguan, keanggunan, keikhlasan)
  2. Kebaikan (berbuat baik, ideal, bertindak sepatutnya, selalu menuntut kebaikan)
  3. Keindahan (benar, elok, sederhana, kaya, sempurna)
  4. Keumuman (persatuan, kesatuan, hubungan timbal balik, tiadanya perpecahan)
  5. Hidup (motifasi diri, aksi sempurna, perubahan dalam ketetapan)
  6. Kesatuan (kriteria pribadi, kekhususan, tak dapat diperbandingkan)
  7. Kesempurnaan (meletakkan segalanya pada tempat yang seharusnya, menjadi sebagaimana yang seharusnya)
  8. Sempurna (meyakinkan, tanpa kekurangan)
  9. Keadilan (adil, layak, tidak memihak, keteraturan)
  10. Kesederhanaan (apa adanya dan tidak membuat-buat)
  11. Kekayaan (nilai lebih, pentingnya segala hal)
  12. Kemudahan (tak perlu usaha, beriwibawa dan berkualitas)
  13. Kesuburan (rekreasi, keceriaan, disibukkan)
  14. Rasa Cukup (tidak butuh orang lain, menguasai lingkungan, identitas)[14]

[1] Anggize va Syakhsiyat (Motifasi dan Kepribadian), Abraham Maslow, halaman 77.

[2] Din va Ravan (Agama dan Jiwa), William James, halaman 152.

[3] Ehya e Fekr e Din, Murtadha Muthahari, halaman 105.

[4] Ibid.

[5] Ruhul Shalah Fil Islam, Afif Abdul Fattah Tayarah, halaman 9.

[6] Parashtesh e Agahane, Muhammad Reza Rezvan Talab, halaman 24.

[7] Ehya e Fekr e Din, Murtadha Muthahari, halaman 292.

[8] Yunus, ayat 12.

[9] Ad Dzariyat, ayat 56.

[10] I’tiqadat, Muhammad Baqir Majlisi,  halaman 29.

[11] Bihar Al Anwar, Muhammad Baqir Majlisi, jilid 77, halaman 400; Khishal, Syaikh Shaduq, jilid 2, halaman 45.

[12] Al Maidah, ayat 27.

[13] Tafsir Al Mizan, Sayid Muhammad Husain Thabathabai, jilid 5, halaman 300.

[14] Abraham Maslow, Anggize va Syakhsiyat (Motifasi dan Kepribadian), halaman 78 – 88.