Kebutuhan fisiologis manusia

Makhluk hidup memiliki dorongan untuk selalu menjaga keseimbangan hidupnya. Dorongan inilah yang menjadi alasan keberlangsungan hidup setiap organisme.

Menyebutkan daftar panjang kebutuhan-kebutuhan biologis makhluk dalam buku ini sangatlah tidak memungkinkan dan tidak ada gunanya. Di bawah ini akan disebutkan beberapa kebutuhan mendasar organisme yang mana semua pakar psikologi bersependapat tentangnya[1]:

  • Kebutuhan terhadap makanan

Lapar merupakan alasan terpenting mengapa makhluk hidup terdorong mencari makanan. Agar dapat terus hidup, makhluk hidup perlu makan dan dari makanan itulah energi untuk tubuh diproduksi. Oleh karena itu, rasa lapar dapat kita sebut sebagai dorongan mendasar yang dirasakan makhluk hidup dalam keberlangsungan hidupnya. Rasa lapar merupakan hal penting dalam keseimbangan hidup organisme. Saat keadaan fisioloigis organisme melenceng dari titik seimbang kebutuhan pangan, ia akan terdorong untuk mencari manan agar titik keseimbangan tersebut tercapai kembali.[2]

  • Kebutuhan terhadap minuman

Apa yang dijelaskan mengenai rasa lapar juga berlaku bagi rasa haus. Rasa haus biasanya muncul dikarenakan dua sebab: berkurangnya zat cair dalam sel tubuh dan juga berkurangnya volume darah. Dengan sendirinya, untuk menjaga keseimbangan hidup, tubuh kita akan memperingatkan kita kapan kita memerlukan air dan kapan tidak.[3]

Kebutuhan-kebutuhan fisiologis atau tingkat awal ini juga pernah disinggung dalam salah satu ucapan nabi Ibrahim as.:

“Ialah Tuhan yang ketika aku lapar Ia memberiku makanan, ketika aku haus Ia memberiku minuman dan ketika aku sakit Ia memberiku kesembuhan.”[4]

Dalam ayat di atas semua kebutuhan fisiologis manusia telah disebutkan.

Lapar dan haus (melepaskan diri dari lapar dan haus—pent.) adalah dua kebutuhan mendasar manusia. Saat Allah swt. Menempatkan nabi Adam as. dan Hawa as. di sorga, Ia berfirman kepada keduanya mengenai makanan dan minuman (yang merupakan nikmat pertama dari nikmat-nikmat lainnya) yang ada di dalamnya:

“Kalian tidak akan kelaparan di dalamnya, tidak akan kekurangan pakaian. Kalian juga tidak akan kehausan dan tidak akan tersiksa karena sengatan terik matahari.”[5]

Al Qur’an menyebut nikmat makanan dan minuman sejajar dengan nikmat keamanan:

“Ia yang telah mengenyangkan kalian dari rasa lapar dan mengamankan kalian dari rasa takut.”[6]

Dalam pandangan Islam, saat Allah swt. Ingin menguji hamba-hambanya, Ia menuji mereka dengan kurangnya keamanan, makanan dan minuman[7] dan orang-orang yang beriman seharusnya memanfaatkan dan bersyukur jika nikmat-nikmat itu diberikan:

“Katakan, siapakah yang telah mengharamkan perhiasan-perhiasan yang dikaruniakan oleh Allah untuk hamba-hambanya dan juga riziki-rizki yang nikmat?”[8]

Pengkategorian kebutuhan berdasarkan tingkatannya juga dapat ditemukan dalam riwayat:

“Ya Allah, berkahilah roti (makanan) yang telah kau berikan kepada kami ini, karena jika tidak ada itu maka kami tidak bisa shalat dan berpuasa, dan tidak juga mampu menunaikan kewajiban-kewajiban kami.”[9]

Dalam riwayat di atas digambarkan bahwa kebutuhan terhadap makanan, jika tidak terpenuhi terlebih dahulu, maka kita tidak bisa memenuhi kebutuhan lain di atas itu, yaitu kebutuhan beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah swt. Riwayat tersebut begitu jelas maksudnya dan kita tidak membutuhkan penafsiran tertentu untuk memahaminya. Dalam riwayat yang lainnya, Rasulullah saw. menyebut kefakiran sebagai perangsang kekufuran.[10]

Islam selain memperhatikan kebutuhan manusia terhadap makanan, juga tak lupa memberikan aturan dalam pemenuhan kebutuhan tersebut, seperti:

  1. makanan yang haram akan membawakan dampak buruk bagi fikiran dan akidah seseorang.[11]
  2. Kedua, Islam menekankan kita untuk makan dan minum sesuai kebutuhan. Bahkan dalam riwayat disarankan agar kita beranjak dari makanan sebelum kita kehilangan selera karena kekenyangan.[12]
  3. Kita tidak boleh berlebihan dan membuang-buang makanan.[13]
  4. Islam mengharamkan segala makanan yang membahayakan bagi tubuh kita.[14]
  5. Kita musti memperhatikan kebersihan dan cara yang sehat dalam menyantap makanan.[15]
  6. Ditekankannya beberapa makanan yang sehat dan menyehatkan, seperti halnya madu.[16]
  • Kebutuhan seksual

Hasrat seksual juga merupakan kebutuhan mendasar makhluk hidup dan menciptakan berbagai prilaku-prilaku tertentu pada setiap orang. Sebagian pakar psikologi menganggap dorongan seksual sebagai satu dari dua faktor insting hidup dan mati bagi manusia, dan menganggap sejarah yang tercipta selama ini adalah hasil dari dorongan seksual. Teori Freud adalah bukti keberlebihannya dalam menilai kebutuhan seksual. Namun kebutuhan seksual jika kita pandang sebagai hasrat ketertarikan makhluk hidup kepada keindahan, maka penilaian kita akan berbeda.

Para maksumin menyebut hasrat seksual sebagai penjaga keberlangsungan hidup. Imam Shadiq as. berkata kepada Mufadhal:

“Berkobarnya api gairah seksual mendorong manusia untuk melakukan hubungan seks, yang mana dengan demikian spesis manusia akan terus terjaga. Jika seandainya tidak ada gairah seksual yang seperti ini pada manusia, dan manusia hanya melakukan seks hanya saat menginginkan anak saja, maka tidak akan ada lagi yang namanya gairah seks dan spesis manusia akan berada di ambang kepunahan; karena tidak semua orang ingin memiliki keturunan.”

Al Qur’an mengibaratkan perempuan sebagai ladang menjelaskan bahwa keterjagaan spesis manusia bertumpu pada pernikahan. Al Qur’an memberikan dua macam pengaturan mengenai gairah seksual:

Pertama, Islam menjadikan pernikahan sebagai penyaluran gairah seksual dan menyebutnya sebagai penyempurna agama. Imam Shadiq as. menukil ucapan Rasulullah saw.:

“Barang siapa telah menikah, maka separuh agamanya telah terjaga. Maka sehendaknya ia berusaha menjaga separuh lainnya.”

Beliau juga bersabda:

“Pernikahan adalah sunahku, maka barang siapa menghindar dari sunahku ia bukanlah termasuk dariku.”

Al Qur’an menjelaskan tentang keberadaan istri sebagai penenang jiwa:

“Dan Allah menciptakan istri-istri dari jenis kalian agar kalian merasakan ketentraman di samping mereka.”[17]

Ketenangan yang dihasilkan oleh pasangan suami istri karena mereka berdua saling menyempurnakan  dan berdasarkan ketertarikan alamiah mereka berdua, seseorang tidak akan sempurna tanpa pasangannya. Ketenangan yang dihasilkan pernikahan lebih dari sekedar ketenangan individu saja, tapi juga lebih dari itu. Jika kita lihat, kebanyakan para penjahat dalam suatu masyarakat adalah orang-orang yang tidak memiliki banyak tanggung jawab; mereka mudah berbuat onar dan kejahatan. Tingkat bunuh diri di antara mereka juga lebih tinggi. Namun orang-orang yang telah menikah, mereka memiliki tanggung jawab, mereka tidak hidup untuk diri mereka sendiri namun ada yang mendampingi, susah dan senang bersama pasangannya, mereka lebih cenderung kepada kebaikan. Yang menakjubkan adalah, Tuhan tidak hanya menciptakan dorongan untuk berpasangan pada manusia saja, bahkan juga pada hewan-hewan.[18] Pada hakikatnya, cinta dan kasih sayang adalah tali pengikat umat manusia. Tanpa adanya cinta dan kasih sayang semua orang akan beralih pada dirinya masing-masing dan tidak akan terwujud komunitas sosial yang saling bekerjasama. Al Qur’an juga memberikan penjelasan lain tentang lelaki dan perempuan; Al Qur’an mengibaratkan mereka berdua sebagai pakaian satu sama lain:

“Mereka (para istri) adalah pakaian bagi kalian (para suami) dan kalian juga pakaian bagi mereka.”[19]

Pakaian tidak hanya sebagai hiasan dan menjaga tubuh dari panas dan dingin, namun pakaian juga menutupi aib-aib tubuh. Istri-istri bagaikan pakaian karena mereka dapat memadamkan gairah suami mereka dan juga menutupi aib-aibnya. Betapa banyak orang yang melakukan berbagai tindak kejahatan karena gairah seksualnya tidak tersalurkan. Pernikahan memberikan keamanan pada manusia dari keburukan syahwat yang tak terkendali[20] dan segala kelaziman dari keburukan itu.

Kedua, Islam melarang penyaluran gairah seksual secara berlebihan. Selain Al Qur’an menekankan pernikahan, Al Qur’an juga menambahkan bahwa segala penyaluran gairah seksual di luar jalan pernikahan diharamkan. Berbeda dengan psikologi meterialisme, Islam melarang pergaulan bebas, bercanda dan bercampurnya lelaki dan perempuan secara berlebihan, dan pada beberapa keadaan Islam menyebutnya makruh atau bahkan haram. Islam bertentangan dengan rangsangan-rangsangan syahwat di luar lingkaran pernikahan dan menyebut pergaulan dengan wanita yang bukan muhrim sebagai sebab kematian dan kerasnya hati.[21] Al Qur’an menyebut para lelaki yang terlena mendengarkan suara perempuan yang bukan muhrimnya sebagai orang-orang yang berpenyakit jiwa. Oleh karena itu Al Qur’an memerintahkan para wanita untuk tidak melembutkan suaranya saat berbicara agar tidak mendapatkan reaksi-reaksi buruk dari orang-orang yang sakit jiwanya itu:

“Maka janganlah kalian melembutkan suara kalian di saat berbicara, (jika tidak) maka orang-orang yang berpenyakit di hatinya akan menjadi tamak. Berbicarah (dengan nada bicara) yang baik.”[22]

Penyaluran gairah seksual, ketika telah melampaui batasnya dan tetap diteruskan, adalah satu bentuk kegilaan yang disebut kegilaan seksual.[23]

Islam dalam menjinakkan gairah seksual memerintahkan para lelaki dan perempuan untuk saling menutupi diri masing-masing. Pada suatu hari Rasulullah saw. memerintahkan istrinya, Ummu Salamah dan Maimunah untuk menutupi dirinya di hadapan anak lelaki buta putra Ummu Maktum seraya berkata:

“Meskipun anak itu tidak melihat kalian, tapi kalian dapat melihatnya.”[24]

Perintah bagi lelaki dan perempuan untuk saling menjaga dirinya dan tidak berduaan di kesepian serta makruhnya berjalan kaki bersama perempuan yang tidak muhrim merupakan upaya agama ini untuk menjinakkan gairah seksual manusia. Sayidah Fathimah Az Zahra berkata:

“Sebaik-baiknya perempuan adalah mereka yang tidak melihat para lelaki dan juga tidak dilihat oleh mereka.”[25]

 

Fantasi seksual

Fantasi seksual menurut para psikolog adalah salah satu bentuk penyakit jiwa. Seseorang yang berfantasi seksual berusaha menyalurkan gairah seksualnya dengan cara berkhayal. Islam melarang kita untuk berfikir berbuat dosa; dan bahkan saat bersenggama dengan istri sendiri pun Islam melarang kita untuk berkhayal seakan sedang bersenggama dengan orang lain. Mengenai hal ini para Imam maksum as. Berkata:

“Orang-orang yang seperti itu bagaikan orang yang memenuhi rumahnya yang penuh hiasan dengan asap. Meskipun asap mengepul itu tidak akan membakar rumah, namun merusak keindahannya.”[26]

  • Kebutuhan untuk menjadi ayah dan ibu

Dalam kebanyakan hewan, pengaruh insting untuk menjadi ayah dan ibu (memelihara anak-anak) dalam prilakunya, terkadang lebih kuat daripada insting mencari makan, minum dan seks. Sebagai contoh telah terbukti dalam beberapa penelitian bahwa saat seekor tikus berusaha menjaga anak-anaknya, ia lebih tegar menghadapi kesusahan daripada saat ia ingin mencari makanan.[27]

Insting keayahan dan keibuan pada awal mula kelahiran anak bersifat searah, namun setelah anak tumbuh besasr, insting tersebut menjadi bersifat dua arah.

Rasa cinta ini merupakan rahmat Allah swt. yang luar biasa. Dengan melihat lemahnya manusia setelah terlahir di dunia, rasa cinta tersebut yang membuatnya selalu terjaga dan dilindungi oleh orang tua. Meski tidak diragukan para orang tua akan merasakan kasih sayang anak-anaknya saat mereka berada di hari tua sebagai balas jasa mereka.

Mengenai alasan adanya insting ini, beberapa diantaranya dijelaskan oleh Al Qur’an:

Pertama, manusia merasa kesepian saat tidak memiliki buah hati.

Kedua, manusia cenderung ingin memiliki pewaris dan penerus hidup mereka.

Dalam Al Qur’an disebutkan kisah nabi Zakariya as. dan Yahya as. seperti ini:

“Dan Zakariya berdoa kepada Tuhannya: “Ya Tuhanku, janganlah Kau biarkan aku sendiri, sungguh Engkau sebaik-baiknya pewaris.”[28]

Di ayat-ayat yang lainnya kita membaca bahwa saat nabi Zakariya as. menyendiri di tempat ibadahnya, ia berdoa kepada Tuhannya: “Tuhanku, tulang-tulangku telah rapuh dan lemah, rambut putih telah memenuhi kepalaku. Tuhanku, doaku tak pernah tak Kau kabulkan. Sepeninggalku aku takut akan keluargaku, sedangkan istriku mandul. Karuniakanlah pewaris kepadaku sehingga ia akan mewarisiku dan mewarisi keluarga Ya’qub.”[29]

Ucapan nabi Zakariya as. “Jangan biarkan aku sendiri” menunjukkan bahwa ia merasa kesepian di akhir hidupnya dan ia menyebut Tuhannya sebagai sebaik pewaris, yakni zat yang maha hidup dan menghidupkan. Dalam ayat-ayat berikutnya perasaan nabi Zakariya as. semakin jelas tergambar dan disebutkan: “Aku takut akan keluargaku, aku tidak yakin mereka dapat meneruskan jalanku. Dari sisi lain istriku tidak dapat mengandung. Maka berikanlah jalan bagiku untuk memiliki pewaris.”[30]

Ketiga, mencari buah tutur. Al Qur’an menjelaskan bahwa salah satu dorongan manusia untuk memiliki anak adalah karena mereka ingin memiliki buah tutur bagi diri mereka. Al Qur’an menceritakan kisah nabi Ibrahim as. saat sang nabi berdoa: “Dan berilah buah tutur bagiku untuk (orang-orang) yang datang sesudahku.”[31]

Pada ayat lainnya, setelah kelahiran nabi Ya’qub as. dan Ishaq as. disebutkan: “Kami telah menjadikan buah tutur yang baik serta mulia.”[32]

Nabi Ibrahim as. begitu sugguh-sungguh memohon anugerah dari Tuhan untuk mendapatkan keturunan agar umat setelahnya tidak mampu menghapus namanya, yang mana ia adalah suri tauladan bagi seluruh umat manusia.

Masih seputar masalah ini juga, karena Rasulullah saw. dihina dan disebut oleh ‘Ash bin Wail sebagai orang yang tidak berketurunan, lalu setelah itu diturunkan surah Al Kautsar kepada beliau. Karena Rasulullah saw. tidak memiliki anak lelaki, saat itu mereka mengira begitu Rasulullah saw. wafat nanti, namanya akan sirna begitu saja.[33]

Keempat, untuk mendapatkan pelita hati. Di manapun Al Qur’an berbicara tentang buah hati, selalu digunakan kata-kata semacam “pemberian”, “kabar gembira”, dan lain sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa anak merupakan hadiah dari Tuhan. Al Qur’an menceritakan bahwa para hamba-hamba istimewa-Nya (Ibadurrahman) saat menginginkan buah hati mereka menyebutnya sebagai pelita hati:

“Dan mereka yang berkata, “Tuhan kami, berikanlah kepada kami keturunan dari istri-istri kami sebagai pelita hati dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang beriman.”[34]

Qurrata A’yun, yang secara leksikal berarti “caha mata” atau “terangnya mata”, yang kami maksud dengan pelita hati. Ayat di atas menggambarkan kepada kita betapa orang-orang yang tidak memiliki anak soleh tidak dapat merasakan nikmat kehidupan yang sebenarnya.

Banyak sekali contoh-contoh lain yang disebutkan Al Qur’an mengenai insting keayahan dan keibuan ini. Beberapa contoh yang paling jelas di antaranya adalah kisah nabi Nuh as. dan anaknya, nabi Musa as. dan ibunya, nabi Ibrahim as., Isma’il as., Ya’qub as dan nabi Yusuf as. yang mana kisah-kisah mereka tercantum pada surah-surah seperti Hud, Qashash, Shaffat, dan surah Yusuf. Namun meski demikian, di samping itu semua Allah swt. juga menjelaskan satu perkara yang lebih penting dalam ayat ke-24 surah At Taubah:

“Katakanlah, jika seandainya ayah-ayah, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kerabat-kerabat kalian… lebih kalian cintai daripada Allah swt., Rasulnya saw., dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah hari dimana Allah swt. datang dengan hukumannya. Allah tidak akan memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.”

Ayat ini bukan berarti manusia harus mengabaikan emosi dan perasaannya. Maksud ayat ini adalah, di saat kita berada di persimpangan jalan antara perasaan terhadap sesama dan kecintaan terhadap Tuhan swt., kita tidak boleh memprioritaskan perasaan terhadap sesama (jika seandainya perasaan itu akan menghalangi cinta kita kepada Tuhan).[35]

[1] Ibid, Abraham Maslow, halaman 70.

[2] Ravan Shenashi Anggizesh va Hayajan, Muhyiddin Mahdi Benab, halaman 16 dan 17; Murray, Anggizesh va Hayajan, halaman 44 dan 45.

[3] Ravan Shenashi Anggizesh va Hayajan, Muhyiddin Mahdi Benab, halaman 24.

[4] As Syu’ara, ayat 79 dan 80; Tafsir Al Mizan, Sayid Muhammad Husain Thabathabai, jilid 15, halaman 284.

[5] Thaha, ayat 118 dan 119.

[6] Quraisy, ayat 3 & 4.

[7] Al Baqarah, ayat 155.

[8] Al A’raf, ayat 32.

[9] Wasailus Syiah, Allamah Hurr Amili, jilid 12, halaman 17.

[10] Ibid, jilid 11, halaman 293: “Betapa kefakiran itu dekat dengan kekufuran.”

[11] Ibid, jilid 17, halaman 162.

[12] Ibid.

[13] Al A’raf, ayat 31: “Makan dan minumlah, namun janganlah berlebihan.”

[14] Wasailus Syiah, Allamah Hurr Amili, jilid 17, halaman 162.

[15] Islam va Ravanshenashi, Mahmud Bustani, halaman 354 – 358; Quran va Ravanshenashi, halaman 38; Ravanshenashi e Salamat, M. Robin Dimato, jilid 1, halaman 381.

[16] An Nahl, ayat 68 – 69: “Di dalamnya terdapat kesembuhan dan rahmat. Sesunguhnya pada semua itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Ilahi) bagi orang-orang yang berfikir.”

[17] Ar Ruum, ayat 21.

[18] Tafsir Al Mizan, Sayid Muhammad Husain Thabathabai, jilid 4, halaman 191 dan 332.

[19] Al Baqarah, ayat 187.

[20] Tafsir Al Mizan, Sayid Muhammad Husain Thabathabai, jilid 2, halaman 43 dan 44.

[21] Bihar Al Anwar, Muhammad Baqir Majlisi, jilid 103, halaman 242 dan jilid 73, halaman 349.

[22] Al Ahzab, ayat 32.

[23] Islam va Ravanshenashi, Mahmud Bustani, halaman 232 – 236.

[24] Wasailus Syiah, Allamah Hurr Amili, bab Nikah, jilid 14, halaman 171.

[25] Bihar Al Anwar, Muhammad Baqir Majlisi, jilid 103, halaman 242 dan jilid 43, halaman 84.

[26] Wasailus Syiah, Allamah Hurr Amili, bab Nikah, jilid 14, bab 5, halaman 171.

[27] Ravan Shenashi Anggizesh va Hayajan, Muhyiddin Mahdi Benab, halaman 38 dan 39.

[28] Al Anbiya’, ayat 89.

[29] Maryam as., ayat 3 dan 8.

[30] Maryam as., ayat 5.

[31] As Syu’ara, ayat 84.

[32] Maryam as., ayat 50.

[33] Tafsir Al Mizan, Sayid Muhammad Husain Thabathabai, jilid 20, halaman 270 – 273.

[34] Al Furqan, ayat 74.

[35] Tafsir e Nemune, Nashir Makarim Syirazi, jilid 7, halaman 334.