Karya-karya pemikir Muslim seputar psikologi

Agama Islam dalam sepanjang abad telah menarik lebih dari jutaan manusia pada dirinya. Mereka berasal dari berbagai bangsa dan  seluruh penjuru dunia. Islam merubah pola hidup mereka dan menanamkan tujuan termulia untuk mereka tempuh. Islam menegaskan aturan-aturannya baik untuk kehidupan bermasyarakat ataupun individu mereka. Tak diragukan, sebuah agama yang berkriteria seperti ini pasti memiliki prinsip-prinsip psikologi yang khas; dan semua itu tercermin dalam wujud keberadaan para tokoh besar Muslim yang terkenal di berbagai bidang keilmuan dan ditulisnya bermacam-macam kitab seputar kajian Ilmun Nafs (Ilmu Jiwa), akhlak dan irfan. Pada masa itu (masa awal penyebaran Islam—pent.) bangsa Eropa menganggap orang gila adalah orang yang terasuki arwah jahat, dan untuk mengusirnya mereka menyiksa tubuh orang gila tersebut dengan berbagai siksaan. Namun para tabib Muslim menyebut orang gila sebagai orang sakit; karena mereka bersandar pada apa yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik dari Rasulullah saw. Anas meriwayatkan:

Pada suatu hari, lewat seorang lelaki di depan Rasulullah saw. dan para sahabatnya. Salah satu sahabat berkata: “Lelaki ini adalah orang gila.” Namun Rasulullah saw. menyanggahnya: “Dia bukan orang gila, dia hanya orang sakit. Orang gila adalah orang yang terus menerus berbuat dosa.”[1]

Para tabib Muslim mulanya belajar dari ajaran Abuqrat dan Jalinus, namun pada abad kedua dan ketiga Hijriyah, setelah diterjemahkannya buku-buku, mereka mendahului keunggulan ilmu kedokteran Yunani. Semenjak itu ilmuan Muslim mepersembahkan karya-karya berharganya untuk Islam, karya-karya yang tetap dibanggakan hingga abad ke-17 Masehi yang mana menjadi bahan ajaran di universitas-universitas Eropa. Berikut ini adalan beberapa diantara karya-karya tersebut:

Ali ibn Rabban Tabari (192 – 247 H.)

Ilmuan muslim ternama yang pernah menulis Firdausul Hikmah dalam tujuh jilid dan 36 bab. Ia menerangkan berbagai permasalahan-permasalahan penting dunia kedokteran dalam tulisannya itu.

Abu Bakar Muhammad ibn Zakariya Razi (113 – 251 H.)

Tibbun Nufus atau dalam bahasa parsinya Teb e Ruhani karya Razi, dikenal sebagai buku kedokteran terkuno dalam bidang psikologi (psikiatri). Razi berpendapat bahwa jiwa dan raga ada keterikatan yang amat erat; oleh karenanya setiap tabib jasmani harus menjadi tabib ruhani pula bagi pasiennya. Ia terkenal di zamannya dengan metode terapinya dalam menyembuhkan rheumatism yang diderita Amir Manshur Samani dengan cara mengosongkan gejolak emosi dan amarah.[2]

Ali ibn Abbas Majusi Ahvazi (318 – 384 H.)

Kitab Kamilus Shina’ati Thibbiyah dan kitab Al Mulki adalah karya Ibnu Abbas. Pada makalah kelima kitab keduanya, ia berbicara tentang penyakit jiwa secara terperinci. Ibnu Abbas adalah penganut Zoroaster, namun ia hidup dan tumbuh di lingkungan dan budaya Islam.

Abu Bakar Rabi’ ibn Ahmad Akhwaini Bukhari (wafat pada 373 H.)

Ia adalah penulis Hidayatul Muta’allimin fil Thibb. Sebagaimana yang disebutkan dalam Char Maqale e Aruzhi, Bukhari terkenal kemampuan terapinya dalam penyembuhan Malikholia dan karena itu ia dijuluki sebagai “tabibnya orang-orang gila”. Dalam beberapa fasal bukunya ia khusus berbicara tentang penyakit-penyakit jiwa.

Abu Ali Sina / Ibnu Sina (370 – 427 H.)

Ibnu Sina telah menulis 16 judul kitab kedokteran. Makalah pertama kitab Syifa miliknya dikhususkan untuk pembahasan kejiwaan. Beberapa karyanya yang lain diantaranya ialah:

  1. Kitab Daf’ul Ghammi wal Hammi;
  2. Kitab Al Huzn wa Asbabuhu;
  3. Kitab An Nabdh;
  4. Kitab Al Qanun fil Thibb.

Bu Ali (sebutan lain bagi Ibnu Sina) juga menyadari efek penyakit terhadap kejiwaan dan begitupula efek kejiwaan terhadap penyakit, oleh karena itu ia khusus berbicara tentang emosi pada sebagian pasal dalam kitabnya An Nabdh dan dalam kitab Al Qanun pada bab cinta/ketertarikan ia berbicara khusus seputar penyakit-penyakit jiwa.

Sayid Isma’il Jarjani (351 – 434 H.)

Zakhire e Khwarazmshahi dan Al Aghradhul Thibbiyah yang merupakan ikhtisar Zakhire, merupakan karya besar Jarjani. Kitab Zakhire adalah kitap terlengkap pada milenium akhir.

Khajah Nashiruddin Thusi (597 – 672 H.)

Khajah Nashir dalam kitabnya yang berjudul Akhlak Nashiri, dalam pembahasan Hikmat Ilmi, berbicara seputar permasalahan-permasalahan psikologi.

[1] Fashlname e Andishe va Raftar, edisi ke 1 – 2, musim gugur 1374 HM, halaman 8 dan 9.

[2] Filsuf e Rey (Seorang Filsuf dari Rey), Mahdi Mohaqiq,.