Bukankah Imam Shadiq as memerintahkan kecintaan kita kepada Abu Bakar dan Umar?

Imam Ja’far Shadiq as saat ditanya oleh seorang perempuan, “Apakah aku harus mencintai Abu Bakar dan Umar?”, beliau menjawab, “Ya, cintai mereka.” Begitu pula Imam Baqir as menyebut Abu Bakar dengan sebutan As Shiddiq. Lalu mengapa anda tidak begitu?

Jawaban:

Penanya hanya menukilkan sepenggal hadits saja, tidak seluruhnya.

Riwayat di atas lengkapnya demikian:

Ada seorang perempuan yang bernama Ummu Khalid. Ia diberi tanah oleh walikota Madinah waktu itu yang bernama Yusuf bin Umar. Abu Bashir berkata, “Imam Shadiq as berkata kepadaku: “Apakah engkau ingin mendengarkan perkataannya?” Aku menjawab, “Ya.” Beliau menceritakan, “Kalo begitu, izinkan ia masuk.” Lalu beliau berkata lagi, “Duduklah di dekatku…” Perempuan itu masuk dan mengucapkan kata-katanya. Tak lama kemudian perempuan itu menanyakan Imam Shadiq as tentang dua orang. Lalu Imam menjawab, “Cintailah mereka.” Perempuan itu terkejut dan berkata, “Apakah engkau mau aku berkata pada Tuhanku bahwa engkau memerintahkanku untuk mencintai mereka?” Imam menjawab, “Ya.”

Lalu perempuan itu bertanya kembali, “Orang yang duduk di sampingmu ini memerintahkanku untuk tidak mencintai mereka. Namun Katsir An Nawa’ (seorang yang bermazhab Zaidiah) memerintahkanku untuk mencintai mereka. Bagimu, siapakah yang lebih mulia, orang ini atau Katsir An Nawa’?” Imam menjawab, “Abu Bashir lebih mulia di mataku.”[1]

Dalam riwayat itu Imam Shadiq as menjalankan suatu taktik dalam mengutarakan pendapatnya. Jika ia menyatakan pendapat yang sebenarnya secara langsung, pasti akan banyak masalah yang bakal menimpa beliau. Apa lagi perempuan itu adalah orang yang dekat dengan khalifah waktu itu.

Kita harus mengkaji riwayat secara utuh, tidak bisa sepenggalannya saja.

Adapun hadits yang kedua, yakni yang berkenaan dengan Imam Baqir as, diriwayatkan oleh Ali bin Isa Arbali (693 H.), dari Urwah bin Abdullah (seorang ahli Rijal abad ke-2). hadits itu memiliki dua cacat besar:

Dari segi sanad: penukil riwayat tersebut adalah Issa Arbali yang hidup pada tahun 693 H. Ia meriwayatkannya dari seseorang yang bernama Urwah bin Abdullah yang hidup di masa hayat Imam Baqir as (tahun 57-114 H.). Permasalahannya adalah, bagaimana mungkin ia bisa menukil sebuah hadits tanpa sanad dari seseorang yang terbentang jauh jarak waktu antara keduanya?

Dalam kitab-kitab Rijal Syiah, hanya ada satu orang bernama Urwah bin Abdullah, yang mana Syaikh Thusi menyebutnya sebagai salah satu dari sahabat Imam Shadiq as. Namun orang itu tidak begitu dikenal jelas.[2]

Dalam kitab-kitab Rijal Suni, Urwah bin Abdullah bin Qusyair Ja’fi dikenal dengan sebutan Abu Shal. Ia meriwayatkan hadits tersebut dari Abdullah bin Zubair. Orang yang belajar hadits dari Abdullah bin Zubair, lazimnya dari segi spiritual dan keyakinan sama dengan gurunya; padahal keduanya sangat bertentangan. Jelas kita tidak bisa menerima perkataan orang itu.[3]

Juga, jika kita membaca hadits tersebut secara seksama, begitu jelas terasa bahwa hadits tersebut dibuat-buat. Ia berkata, “Aku bertanya kepada Abu Ja’far tentang menghias pedang. Beliau menjawab, “Abu Bakar As Shiddiq juga menghias pedang.” Aku bertanya, “Engkau menyebutnya As Shiddiq?” Lalu ia loncat dari tempat duduknya dan berdiri serta berkata kencang, “Ya, As Shiddiq! Ya, As Shiddiq! Ya, As Shiddiq! Barang siapa tidak menyebutnya As Shiddiq Tuhan tidak akan mendengar perkataannya di dunia dan di akhirat!”

Seorang Imam Syiah yang digambarkan dalam hadits tersebut sama sekali bertentangan dengan Imam yang kita kenal. Imam adalah orang yang berwibawa tinggi dan tidak berlaga sedemikian rupa.

[1] Raudhatul Kafi, jilid 8, halaman 19.

[2] Tanqihul Maqal, jilid 2, halaman 251, nomor 788.

[3] Tahdzibul Kamal fi Asma’ Ar Rijal, jilid 10, halaman 27, nomor 3909.