Antara pesimisme dan kesehatan

Pesimisme adalah fenomena batin yang berkenaan dengan pandangan pribadi seseorang serta kemampuan berprilakunya.[1] Karena pesimisme berbeda dengan penyakit, maka mungkin sekali pesimisme dialami oleh orang yang benar-benar sehat (secara fisik).[2] Di era moderen ini, meskipun dalam dunia kedokteran terjadi perkembangan dan kemajuan yang amat pesat, meskipun umur manusia dapat diperkirakan bisa mencapai 74 tahun yang mana sebelumnya harapan untuk hidup bagi manusia hanya sampai usia 47 tahun, namun rasa percaya diri manusia akan kesehatannya merosot turun. Jika dibandingkan oleh orang-orang yang hidup enam puluh tahun yang lalu, kebanyakan orang di era ini memiliki pesimisme terhadap kesehatan dirinya sendiri. Hal ini padahal pada enam puluh tahun terakhir antibiotik telah dikenali.[3]

Ilmu kedokteran telah mengembangkan berbagai jalan penyembuhan bagi kebanyakan besar penyakit, dari penyakit-penyakit yang gawat hingga penyakit yang sederhana, namun meskipun begitu perasan pesimis pada setiap orang kian bertambah tinggi. Mungkin alasannya adalah rendahnya tingkat kemampuan setiap orang untuk melawan penyakit dan tingginya tingkat standard kesehatan, pengetahuan yang lebih banyak akan jenis-jenis penyakit atau panjangnya umur.[4]

Mengira sakit: orang yang menyangka dan menganggap dirinya sakit, meskipun mereka sehat, mereka benar-benar merasakan penyakit itu, namun kebanyakan penyakit-penyakit tersebut bersifat psikis. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa para pasien yang tanpa merasakan sakit pada anggota badan tertentu namun ia menunjukkan tanda-tanda rasa sakitnya, sangat lebih tertekan daripada para pasien yang penyakit-penyakitnya jelas bagi mereka.[5]

Mengenai pesimisme dalam kesehatan ini dapat dikatakan: dalam Islam terdapat satu jalan yang dapat menjauhkan setiap orang dari tekanan-tekanan jiwa, jalan tersebut adalah yakin bahwa apa-apa yang tidak ditakdirkan oleh Allah swt. untuk kita tidak akan pernah sampai kepada kita (kita tidak akan mendapatkannya) dan sehendakna orang-orang beriman bertawakal kepada-Nya.[6] Karena ketika diyakini bahwa selain sebab-sebab materi ada hal-hal ghaib yang dapat menentukan takdir manusia, maka api harapan dalam hati orang-orang yang beriman tetap menyala. Imam Zainul Abidin as. dalam doanya yang terkenal, Doa Abu Hamzah Tsumali, berdoa kepada Tuhannya:

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu akan suatu keyakinan yang benar agar aku mengerti bahwa tidak ada yang akan menimpaku kecuali apa-apa yang telah Engkau takdirkan.”

Dengan keyakinan yang seperti ini, manusia akan mencapai tingkat kesesuaian diri; dalam diri seorang manusia akan muncul rasa pasrah dan kerelaan dan dengan demikian terwujudlah keseimbangan emosional. Orang-orag yang beriman juga mengakui bahwa selain dengan bertawakal dan mengingat Allah swt. hati tidak akan bisa menjadi tenang[7] dan barang siapa melupakan Allah, maka hidupnya akan terasa sempit dan susah.[8]

[1] Ravanshenashi e Salamat, M. Robin Dimato, jilid 1, halaman 191.

[2] Ibid, halaman 193.

[3] Ibid, halaman 194.

[4] Ibid, halaman 227.

[5] Ibid, halaman 223.

[6] At Taubah, ayat 51: “Tidak akan pernah menimpa kami apa-apa yang tidak ditakdirkan oleh Allah swt. untuk menimpa kami dan Ia adalah Tuhan kami dan pada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal.” Al Hadid, ayat 22: “Tidak ada satupun yang menimpa di muka bumi dan pada diri kalian kecuali sebelumnya telah dicatatkan.”

[7] Ar Ra’d, ayat 28: “Tidakkah dengan mengingat Allah swt. hati-hati menjadi tenang?”

[8] Thaha, ayat 124: “Dan barang siapa enggan mengingat-Ku, maka ia akan mendapatkan kehidupan yang susah.”