Menentukan upah sebelum mempekerjakan

Kulaini menukil bahwa Sulaiman bin Ja’far bercerita:

Pada suatu hari aku pergi ke luar rumah bersama Imam Ridha as untuk melakukan suatu pekerjaan. Seusai itu, beliau mengajakku datang ke rumahnya untuk menjadi tamu. Aku pun menerima tawaran itu. Saat aku hendak masuk rumah beliau, ada seorang sahabat beliau juga yang ikut datang, yang bernama Mu’attab.

Saat kami masuk rumah, kami melihat ada beberapa orang yang sedang bekerja untuk Imam Ridha as membangun sesuatu yang mirip kandang untuk hewan-hewan. Di antara mereka ada seorang berkulit hitam yang bekerja dengan mereka dan bertugas mengaduk tanah. Namun Imam tidak mengenalnya.

Imam bertanya, “Siapakah lelaki itu?”

Mereka menjawab, “Orang ini ingin membantu kami. Kelak nantinya pun kami pasti akan memberikan upah kepadanya.”

“Apakah sebelumnya kalian tidak menentukan upah baginya?” tanya Imam.

“Tidak. Berapapun upah yang akan kami berikan ia pasti rela dengannya,” jawab mereka.

Imam kesal dengan jawaban mereka. Lalu aku bertanya, “Mengapa Anda begitu kesal?” Beliau menjawab, “Berkali-kali aku katakan kepada mereka agar menentukan upah terlebih dahulu kepada pekerja…”

Al-Kafi, jilid 5, halaman 288, hadits 1.